Harga Ubi Jalar Anjlok, Petani Rugi

UBI
Sejumlah petani di Kuningan sedang memanen kebun ubi jalar. Foto: M Taufik/Radar Kuningan

KUNINGAN – Keberuntungan tampaknya belum berpihak kepada para petani ubi jalar di Kabupaten Kuningan pada bulan Ramadan tahun ini. Turunnya produksi ubi akibat musim hujan ditambah anjloknya harga menjadikan para petani mengalami kerugian.

“Harga ubi jalar saat ini hanya Rp2.400 per kilogram. Ini jauh dari harapan kami yang biasanya di atas Rp3.500 pada musim Ramadan seperti sekarang,” ungkap Ahmad salah satu petani di Desa Bandorasa Wetan kepada Radar, kemarin.

Ahmad mengatakan, anjloknya harga ubi saat ini disebabkan karena kualitas ubi yang dihasilkan kurang bagus akibat musim hujan yang cukup panjang. Ditambah ubi yang banyak dihasilkan sekarang adalah ubi putih jenis manohara dan tidak sesuai dengan permintaan pasar yakni ubi merah.

“Pertimbangan musim hujan kemarin menyebabkan banyak petani menanam ubi putih karena lebih tahan penyakit dibanding ubi merah. Akibatnya produksi ubi merah saat Ramadan sekarang tidak banyak, yang menyebabkan harga ubi putih pun semakin anjlok,” lanjut Ahmad.

Sebagai perhitungan, kata Ahmad, dari lahan seluas 100 bata yang biasanya bisa menghasilkan 3 ton ubi kini hanya di kisaran 1 ton saja. Dengan perhitungan harga satu kilogram ubi hanya Rp2.400, maka petani hanya mengantongi hasil penjualan Rp2,4 juta. Sedangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk tanam, pupuk, perawatan hingga panen bisa mencapai Rp2 juta.

“Selisih Rp400 ribu untuk masa tanam empat bulan tentu sangat merugikan para petani. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi risiko para petani, kami terima saja,” ujar Ahmad lesu. (fik)