Hasil Resume Debat Calon Presiden 2019: Kita Harus Prabowo, Tidak Ada Jokowi

Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kanan) bersalaman dengan capres no urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti Debat Pertama Capres & Cawapres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme. (ANTARA FOTO/Setneg-Agus Suparto)

Dari olah data transkrip Bahasakitaradarcirebon.com menemukan resume debat perdana capres-cawapres 2019 selama 90 menit berisi 9.128 kata. Ribuan kata ini dilontarkan oleh moderator Ira Koesno dan Imam Priyono, serta Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Baca: Resume Debat Calon Presiden 2019

Dari ribuan kata itu ada 1.714 kata berbeda. Angka ini masih disebut data kotor karena masih menyertakan stopword. Artinya, masih menyertakan kata hubung seperti “yang”, “di”, “ke”, dan lain-lain; kata-kata umum yang tak punya makna.

Dari enam orang di atas panggung, Prabowo yang paling banyak bicara, melontarkan 2.372 kata dengan 732 kata berbeda. Berikutnya adalah Jokowi (2.304 kata), moderator Ira Koesno (1.969 kata) dan Imam Priyono (1.290 kata), serta Sandiaga Uno (883 kata) dan—semua orang bisa menebaknya—Kiai Ma’ruf Amin.

Total sepanjang 90 menit saat kedua kandidat bicara di atas panggung, Ma’ruf Amin yang berusia 75 tahun cuma omong 5 menit 15 detik. Omongan kandidat capres tertua dari tiga kandidat lain itu cuma berisi 300 kata. Amat irit. Juga timpang jika dibandingkan saat Jokowi ditemani Jusuf Kalla pada debat Pilpres 2014.

Dalam debat Pilpres lima tahun lalu, Kalla—saat itu berusia 71 tahun—terlihat dominan bahkan hampir menyamai ucapan Jokowi. Ia melontarkan 1.346 kata atau 4,5 kali lipat lebih banyak ketimbang Ma’ruf saat ini.

Kalimat terpendek diucapkan Ma’ruf adalah “Ini bapak” saat menyerahkan bola jawaban kepada Jokowi. Juga kata “cukup” saat ditanya Ira Koesno apakah akan melanjutkan pandangannya atau tidak.

Jika dipecah per segmen, Ma’ruf hanya bicara pada segmen 2, 3, dan 4 dari enam segmen yang disiapkan Komisi Pemilihan Umum.

Kali pertama berbicara, ia sama sekali tidak memberikan pesan berharga kepada khalayak. “Saya tidak menambah, saya mendukung pernyataan Pak Jokowi,” ucapnya.

Omongan cukup panjang saat topik debat membahas terorisme. Total ia bicara 4 menit. Artinya, 75 persen ucapannya saat debat hanya untuk menanggapi isu itu. Wajar belaka mengapa mesin mendeteksi bahwa kata kunci penting dalam ucapan Mar’uf adalah “terorisme”.

Dari debat perdana, orang paling narsis adalah Sandiaga. Ia sering mengganti kata ganti orang pertama jamak seperti “kami” dan “kita” menjadi “Prabowo-Sandi”.

Total, tujuh kali ia mengulang-ulang identitas ini. Sifat narsistik ini tidak dilakukan berlebihan oleh Prabowo atau Jokowi. Identitas “Jokowi-Amin” hanya disebut sekali oleh Jokowi; begitupun Prabowo hanya sekali menyebut ‘Prabowo-Sandi”.

Berbeda dari Ma’ruf, Sandiaga lebih banyak berbicara pada tiap segmen.

Sandiaga juga kerap mengandalkan satu frasa “lapangan kerja”—apa pun topik debat pada tiap segmen. Ia berkata 11 kali “lapangan kerja” saat ditanya bermacam topik, dari isu HAM, kepastian hukum, hingga radikalisasi. “Lapangan kerja” agaknya jadi solusi generik untuk topik debat perdana mengenai hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.

Sepanjang 90 menit debat, apa yang dijadikan kata kunci untuk menginterpretasikan pesan Jokowi dan Prabowo?

Guna mendapatkan itu kita bisa pakai proses indexing untuk mencari kata kunci penting. Di antaranya dengan membuang kata hubung (stopword removal) dan numeria demi menyerap saripati pesan kedua capres.

Mengindeks kata juga memerlukan penyesuaian agar tidak salah interpretasi data. Misal: dalam standar stopword removal, semestinya kata “hukum, “program”, “masyarakat” dan “Indonesia” termasuk daftar kata yang mesti dicoret. Namun, karena analisis kali ini punya irisan dengan topik debat, kata-kata seperti “hukum” masuk dalam indeks analisis teks.

Hasilnya, kata kunci yang melekat pada Jokowi adalah hukum, masalah, rakyat, negara, dan korupsi. Sedangkan kata kunci Prabowo adalah hukum, menteri, korupsi, jabatan, dan partai.

Jokowi dan Prabowo lebih banyak bicara pada debat pertama Pilpres 2019 ketimbang debat Pilpres 2014.

Pada debat 2014, dengan durasi sama, Jokowi hanya berucap 1.510 kata karena ada faktor pengimbang Jusuf Kalla. Sedangkan Prabowo berucap 2.311 kata pada debat lima tahun lalu; tetap dominan dari wakilnya saat itu Hatta Rajasa.

Frasa “kita harus” kembali melekat pada Prabowo dalam debat kali ini. Pada 2014, ada 11 kali frasa “kita harus” dari kubu Prabowo-Hatta. Debat perdana Pilpres 2019 frasa “kita harus” muncul 14 kali, kedua terbanyak setelah frasa “saya kira” di kubu Prabowo-Sandiaga. Selain itu ada frasa identik Prabowo—yakni “kita bisa”—yang muncul 8 kali pada debat perdana 2019 dan 7 kali pada debat perdana 2014.

Sebaliknya pada kubu Jokowi, ada frasa yang hilang untuk debat Kamis malam kemarin dari debat perdana 2014. Frasa itu adalah “dengan cara”. Frasa ini selalu muncul saat dia menawarkan solusi atas topik tertentu.

Pada debat kemarin, Jokowi lebih sering menyebut “tidak ada” dan “saya tidak”—dipakai sebagai bantahan terhadap Prabowo-Sandiaga.

Saat berdebat, Jokowi dan Prabowo terkadang menyebut nama lawan. Jokowi menyebut 11 kali “Pak Prabowo”, sedangkan Prabowo menyebut 2 kali panggilan “Pak Jokowi”.

Panggilan “Pak” dipakai Jokowi dan Prabowo saat hendak menyerang. Misalnya:

“Pak Jokowi yang saya hormati, dengan segala kerendahan hati yang membingungkan kami, di antara menteri-menteri bapak itu banyak yang berseberangan,” tanya Prabowo menyoroti cekcok di antara menteri Jokowi.

Sebaliknya, Jokowi memakai panggilan “Pak Prabowo” ketika membalas dan menyerang. Misalnya:

“Jangan kita ini sering grusa-grusu untuk menyampaikan sesuatu. Misalnya, apa jurkamnya Pak Prabowo, katanya dianiaya, mukanya babak belur, kemudian konferensi pers, akhirnya apa yang terjadi? Ternyata operasi plastik.”

Serangan Jokowi itu merujuk hoaks Ratna Sarumpaet, yang difabrikasi oleh kubu Prabowo sebagai korban penganiayaan pada awal Oktober 2018. Balasan itu dipakai Jokowi buat menanggapi Prabowo yang menyebut aparat hukum di era pemerintah Jokowi berat sebelah. (*)