Hikajat Tanah Hindia

Narasi sejarah sering mengikuti rezim yang berkuasa. Itulah sebabnya sangat penting untuk mencari “kebenaran sejarah” kita perlu membandingkan karya-karya dari rezim yang berbeda. Demikian pun sejarah sering ditulis berdasarkan persepsi golongan penulisnya. Itulah sebabnya Kartono Kartodirjo berkeluh kesah tentang sejarah Indonesia yang ditulis dengan cara pikir barat.

Buku “Hikajat Hindia Belanda” ini ditulis pada jaman Belanda berkuasa di Hindia Belanda. Penulisnya adalah seorang cendekiawan berkebangsanaan Belanda. Itulah sebabnya karya ini sangat diwarnai oleh perspektif Belanda sebagai penguasa pada saat itu.

Menelusuri kisah-kisah yang dibabar dalam buku ini kita bisa tahu bagaimana persepsi Belanda tentang peristiwa-peristiwa sejarah di Hindia Belanda. Kita juga bisa faham pengetahuan sejarah yang ada pada saat buku tersebut ditulis. Tentu saja banyak intepretasi yang sudah out-of-date karena temuan-temuan fakta baru.

Di pasal 1 diceritakan tentang penduduk Hindia yang disebut sebagai orang Melayu yang mendapatkan kepandaian dari orang Hindu. Pandangan ini sekarang sudah banyak berubah, karena banyaknya temuan-temuan baru.

Di bab II banyak sejarah yang disusun berdasarkan hikayat atau cerita rakyat. Seperti Majapahit yang didirikan oleh Raden Tanduran dari Pajajaran (hal. 9). Penulis buku ini menyampaikan cerita rakyat atau hikayat sebagai bagian dari sejarah masa lalu Hindia Belanda. Ia mengutip cerita Aji Saka, kisah Kerajaan Medang sampai Daha-Kediri, cerita Panji dan akhirnya Majapahit. Biegman juga menyinggung secara singkat bentuk tata pemerintahan Majapahit dan sistem imbalan kepada raja dan bupati yang menjadi bagian dari kemaharajaan Majapahit. Para raja, bupati dan pegawai kerajaan Majapahit tidak digaji, tetapi dianugerahi tanah garapan oleh Maharaja. Buku ini juga menjelaskan wilayah-wilayah yang menjadi taklukan Majapahit.

Penjelasan tentang era Islam sudah lumayan akurat. Bab III berkisah tentang kerajaan-kerajaan Islam, khususnya Aceh. Mulamula kerajaan Islam muncul di wilayah ujung utara Sumatra dan daerah Malaka. Di Pulau Perca sudah ada raja yang adalah keturunan Arab pada tahun 1354. Aceh, Deli, Minangkabau dan lain-lain sudah menjadi kerajaan Islam pada abad 16. Biegman juga menyampaikan bahwa Islam sudah ada di era Majapahit. Hal itu dibuktikan dengan adanya makan Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat pada tanggal 8 April 1419 (hal 13).

Sedangkan kerajaan Islam di Jawa dimulai dari era Demak yang mengalahkan Majapahit. Diceritakan juga Raden Rahmad yang bergelar Sunan Ampel dan Raden Paku yang bertahta di Gresik yang bergelar Sunan Giri sampai munculnya Demak melalui Raden Patah. Raden Patah adalah keturunan dari Brawijaya. Yang menarik dari buku ini, para penguasa yang sudah masuk Islam banyak yang ingin melepaskan kekuasaan dari Majapahit. Tetapi para penguasa di daerah ini berhasil dikalahkan oleh Majapahit. Cerita seperti ini tidak pernah saya temukan dalam buku-buku sejarah modern. Barulah saat Raden Patah yang didukung oleh para Wali memberontak kepada Majapahit, Majapahit bisa dikalahkan. Informasi lainnya yang menarik adalah baru di era Sultan Tranggono Islam dijadikan agama negara (hal. 16). Tranggono juga mulai memusuhi orang-orang Hindu di Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Itulah sebabnya banyak orang Hindu yang meninggalkan Jawa dan menuju ke Bali.

Halaman: 1 2 3