Hikayat Gunung Gede Utara Sumedang Larang Berakhir Tampomas

Gunung Tampomas

Sastra lisan merupakan kesusasteraan yang mencakup ekspresi kesusasteraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan dari mulut ke mulut

Sementara,  menurut Thu’aimah mengemukakan bahwa cerita rakyat adalah bersumber hikayat-hikayat warisan bangsa, yang diungkapkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa disandarkan kepada pendirinya.

Baca: PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA DALAM DONGENG GUNUNG TAMPOMAS DAN CADAS PANGERAN

Dalam cerita Gunung Tampomas, terdapat tokoh utama bernama Pangeran (Raja Sumedang). Data tersebut terdapat dalam petikan berikut:

Sebuah kerajaan, Sumedang larang namanya. Kerajaan itu aman dan makmur. Penduduknya hidup dengan tenang dan senang. Mereka tidak pernah kekurangan makanan, pakaian, perumahan, atau keperluan-keperluan lainnya. Kemakmuran itu terutama berkat tanah yang subur.

Di sebuah utara ibu kota Kerajaan Sumedang Larang berdirilah sebuah gunung berapi, Gunung Gede namanya. Gunung itu berhutan lebat. Di samping itu indah dipandang dari kejauhan, hutan itu pun banyak member manfaat bagi warga kerajaan. Di musim kemarau, kerajaan tidak pernah kekurangan air. Sebaliknya di musim hujan, tidak pernah terjadi banjir.

Di samping kesuburan tanahnya, kerajaan dan rakyat Sumedang Larang dianugerahi keuntungan lain. Raja mereka yang masih muda belia adalah orang yang adil dan bijaksana. Sang raja adalah juga seorang perwira yang perkasa dan ditakuti oleh raja-raja lain yang bermaksud jahat dan penjahat-penjahat yang suka menggangu ketentraman. Beliau pula yang mengajar rakyatnya agar tidak merusak hutan dan mengganggu margasatwa sehingga negeri Sumedang Larang tetap indah dan makmur.

Namun, ketentraman dan kedamaian warga kerajaan tiba-tiba berubah menjadi kecemasan dan ketakutan. Pada suatu tengah malam yang sepi tiba-tiba mereka dibangunkan oleh gempa dan bunyi gemuruh yang dahsyat. Orang-orang berlarian keluar rumah. Mereka takut rumah mereka runtuh dan akan menimpa serta menindih mereka. Anak-anak berjeritan, demikian pula kaum wanita. Bahkan banyak pria yang pucat dan gemetar. Setiba di luar rumah, mereka melihat api berkobar-kobar di puncak Gunung Gede. Kobaran api itu semakin besar dan bunyi gemuruh semakin nyaring disertai guncangan gempa yang semakin kuat. Sadarlah mereka bahwa Gunung Gede akan meletus. Dugaan mereka benar belaka.

Keesokan harinya matahari hampir tidak kelihatan. Asap hitam dan debu bergulung-gulung naik ke angkasa dan menutup cahayanya. Hanya kilatan dan kobaran api yang menerangi alam sekitar. kadang-kadang Melihat peristiwa yang dahsyat dan tidak disangka-sangka itu, sang raja sangat sedih. Beliau sadar kalau Gunung Gede meletus banyak rakyat yang akan menjadi korban. Di samping itu, lahar akan merusak hutan, sawah, dan palawija.

Rakyat yang selamat akan menderita karena sumber kemakmuran akan rusak. Akan lama sekali kerajaan dapat bangkit kembali dari kemiskinan dan penderitaan. Dengan membawa dukacita yang besar itu, beliau memasuki istana. Di ruangan khusus yang sepi, beliau bersemadi, memohon perlindungan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Berhari-hari beliau berdo’a, lupa makan maupun tidur. Pada suatu ketika, karena lemah dan lapar, beliau pingsan. Di dalam pingsannya itu beliau seakan-akan bermimpi. Beliau melihat seorang tua yang agung datang membangunkan beliau dan membantu beliau duduk.

Orang tua itu berkata, “Hai, Raja yang mulia, kalau Anda hendak menyelamatkan rakyat dan kerajaan, masukkanlah keris emas pusaka nenek moyangmu itu ke dalam kawah Gunung Gede.” Melihat sang Raja pingsan, gemparlah isi istana. Seorang dukun dipanggil dan diminta menyadarkan sang raja. Setelah membaca mantra dan memerciki wajah sang Raja dengan air sejuk, dukun itu berkata, “Sadarlah Gusti, warga kerajaan mengharapkan pertolongan gusti.” Sang Raja seakan mendengar perkataan itu. Beliau siuman, lalu duduk. “Saya harus segera berangkat ke kawah Gunung Gede dan memasukkan keris pusaka,” kata sang Raja.

Semua yang mendengar terkejut dan cemas. Mereka menyangka Sang Raja belum sadar benar. Mereka pun menyadari bahwa mendaki Gunung Gede dan mendekati kawahnya sangat berbahaya. Mereka memohon agar sang Raja berbaring kembali dan beristirahat. “Tidak,” kata sang Raja. “Saya harus mencegah meletusnya Gunung Gede.” Lalu, beliau bangkit dan mengambil keris pusaka yang bersarungkan emas bertahtatakan permata. Semua yang hadir berusaha mencegah niat Raja. “Gusti, mendaki Gunung Gede pada saat ini berarti menantang maut.” Yang lain berkata, “Gusti, keris pusaka itu warisan nenek moyang gusti. Janganlah gusti membuangnya ke dalam kawah. Hargai dan hormatilah pusaka kerajaan itu.”

Akan tetapi, sang Raja tidak menghiraukan katakata mereka dan segera bangkit meninggakan istana. Dengan menunggang kudanya yang kuat dan gagah, perjalanan ke kaki Gunung Gede ditempuh beliau dalam waktu singkat. Kemudian beliau mendaki tebing gunung yang curam. Kadangkala beliau harus berpegang pada akar-akar pohon, cabang dan ranting.

Sementara itu asap panas serta semburan abu dan batu-batu besar kecil menerpa beliau. Akan tetapi beliau terus berusaha. Walaupun lambat, akhirnya beliau tiba juga di tepi kawah. Udara luar biasa panasnya. Awan hitam menyebabkan sekeliling gelap semata. Hanya kadang-kadang saja nyala api menerangi sekelilingnya disertai bunyi gemuruh yang dahsyat memekakan telinga.

Namun, semua itu tidak membuat sang Raja mundur. Setelah tegak berdiri di pinggir kawah yang begejolak itu, sang Raja mengambil keris dari pinggangnya. Di dalam kegelapan itu sarung emas bertahtakan permata memancarkan cahayanya.

Sang Raja berkata dalam hati, “Keris ini sangat indah dan merupakan pusaka yang tidak ternilai harganya. Saya mohon nenek moyangku merelakannya. Saya harus menolong rakyat saya, warga kerajaan Sumedang Larang.”

Lalu, beliau melemparkan keris pusaka itu ke dalam kawah. Suatu keajaiban terjadi. Kawah yang semula seperti mulut binatang buas yang sedang marah berangsur-angsur menjadi tenang.

Akhirnya bunyi gemuruh berhenti bertepatan dengan menghilangnya asap hitam, semburan batu-batuan, dan kilatan api. Udara pun makin lama makin terang. Angin sejuk bertiup menghalau awan hitam. Langit menjadi biru. Terdengarlah burung mulai menyanyi. Kedamaian pun kembali menghiasi hutan dan lembahlembah. Sang raja berlutut dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Lalu, mulai menuruni tebing Gunung Gede.

Beliau pulang ke ibu kota kerajaan Sumedang Larang dan disambut rakyat dengan gembira dan rasa terima kasih. Sejak peristiwa itu, Gunung Gede tidak memperlihatkan tanda-tanda akan meletus lagi. Bahkan akhirnya kawahnya pun padam.

Sementara itu namanya pun berubah. Orang menyebutnya Gunung Tampomas, yaitu gunung yang menerima emas. Sampai sekarang gunung itu berdiri anggun di sebelah utara kota Sumedang. (*)

Berita Terkait