How to Sell a Massacre: Al Jazeera Bongkar Borok Partai Sayap Kanan Australia, One Nation

Al Jazeera melakukan investigasi selama tiga tahun yang mengungkapkan bagaimana partai sayap kanan Australia, One Nation, berusaha melonggarkan undang-undang senjata api dan negara itu dan bagaimana mereka belajar dari buku pedoman organisasi senjata Amerika Serikat, NRA. (Foto: Al Jazeera)

Laporan investigasi yang dilakukan Al Jazeera bisa dibilang mengungkap borok partai sayap kanan Australia, One Nation, yang sering dituduh anti-Muslim. Menggunakan reporter yang menyamar dan penempatan kamera tersembunyi, Al Jazeera mengungkapkan bagaimana One Nation berusaha mengubah undang-undang senjata api Australia dengan melobi lobi senjata AS, NRA.

Dikutip dari How to sell a massacre: NRA’s playbook revealed media yang berbasis di Qatar ini, melakukan operasi investigasi penyamaran selama tiga tahun, mengungkapkan bagaimana Asosiasi Senapan Nasional AS (NRA) menangani opini publik setelah serangan senjata mematikan. Investigasi ini juga mengungkapkan bagaimana partai sayap kanan Australia, One Nation, berusaha melobi asosiasi senjata tersebut, dengan harapan bisa melonggarkan undang-undang senjata api Australia–yang merupakan salah satu yang terketat di dunia. Australia menerapkan undang-undang itu setelah penembakan massal tahun 1996, dan berhasil mencegah kejadian serupa.

Diungkapkan produser senior Al Jazeera Peter Charley, bagaimana anda merespons penembakan massal yang mematikan jika Anda adalah seorang pembela hak senjata? Pertama, “Jangan katakan apa-apa.” Jika pertanyaan media terus ada, gunakan kata “pelanggaran, pelanggaran, pelanggaran”. Jelek-jelekkan kelompok-kelompok kontrol senjata api itu. “Permalukan mereka” dengan pernyataan seperti—”Beraninya Anda berdiri di kuburan anak-anak itu untuk mengedepankan agenda politik Anda?”

Ini adalah saran yang diberikan oleh lobi senjata paling kuat di Amerika Serikat (AS) kepada Partai One Nation Australia, menurut penyelidikan Al Jazeera. Saran itu diberikan kepada para perwakilan dari kelompok sayap kanan Australia itu ketika mereka meminta petunjuk dari Asosiasi Senapan Nasional (NRA) untuk melonggarkan undang-undang senjata api Australia yang ketat.

Buku pedoman NRA tentang penembakan massal terungkap selama penyamaran tiga tahun oleh Unit Investigasi Al Jazeera. Rodger Muller—seorang wartawan Australia yang menyamar, yang menyusup ke lobi-lobi senjata di AS dan Australia—menggunakan kamera tersembunyi untuk merekam serangkaian pertemuan antara perwakilan NRA dan One Nation di Washington DC, pada bulan September tahun lalu.

Rekaman yang direkam secara diam-diam ini memberikan pandangan langka tentang bagaimana NRA berunding tentang penembakan massal, dan berupaya memanipulasi liputan media untuk mendorong agenda pro-senjatanya.

Partai One Nation Australia—yang dipimpin oleh Senator Pauline Hanson—telah lama berupaya untuk melonggarkan undang-undang senjata Australia, yang melarang hampir semua senjata api dan senapan otomatis dan semi-otomatis. Aturan tersebut—yang termasuk beberapa yang paling ketat di dunia—diperkenalkan pada tahun 1996 setelah seorang pria bersenjata dengan senapan semi-otomatis menewaskan 35 orang di kota Port Arthur.

Sejak saat itu, Australia tidak memiliki penembakan massal di mana para penyerang tidak mengenal korban mereka. Namun, NRA telah mengecam hukum Australia sebagai “bukan definisi akal sehat”.

Muller—reporter rahasia Al Jazeera yang beperan sebagai advokat hak senjata—memperkenalkan Kepala Staf One Nation James Ashby dan pemimpin cabang Queensland, Steve Dickson, kepada NRA, dan bepergian dengan kedua orang itu ke Washington DC lalu tahun.

Ashby dan Dickson berharap dapat memperoleh sumbangan politik hingga $20 juta dari para pendukung lobi senjata AS.

Dalam pertemuan di markas besar NRA di Virginia, para pejabat itu memberikan kiat-kiat kepada Ashby dan Dickson untuk menggalang dukungan publik, untuk mengubah undang-undang senjata Australia, dan melatih kedua orang itu tentang cara merespons penembakan massal.

Metode terbaik untuk menangani pertanyaan media setelah pembantaian adalah dengan “tidak mengatakan apa-apa”, menurut Catherine Mortensen, seorang petugas penghubung media NRA. Tetapi jika terus ada pertanyaan, dia merekomendasikan strategi komunikasi ofensif.

Itu termasuk mengalihkan perhatian publik dengan menjelek-jelekkan pendukung kontrol senjata.

“Permalukan saja mereka dan keseluruhan gagasan mereka,” kata Lars Dalseide, anggota lain dari tim hubungan masyarakat NRA. “Jika kebijakan Anda tidak cukup baik untuk berdiri sendiri, beraninya Anda menggunakan kematian mereka untuk mendorong agenda itu. Beraninya Anda berdiri di kuburan anak-anak itu untuk mengedepankan agenda politik Anda?”

Dickson menjawab: “Saya suka itu, terima kasih”.

Kemudian, menjelaskan bagaimana NRA memanipulasi liputan media, Darsedie menyuruh One Nation untuk memperoleh wartawan yang ‘ramah’ terhadap mereka.

“Anda harus punya seseorang yang mendukung pihak Anda, yang bekerja di sebuah surat kabar, mungkin dia sedang meliput balai kota atau seorang reporter kejahatan,” kata Darseide.

“Kami ingin mencetak cerita tentang orang-orang yang dirampok, diserbu rumah mereka, dipukuli atau apa pun itu, dan itu bisa ditolong jika mereka memiliki senjata. Dan itu akan menjadi sudut pandang dalam cerita Anda. Itulah yang harus dia tulis. Dia harus mengeluarkan dua sampai lima cerita dalam seminggu.”

Rodger Muller (tengah), menemani Steve Dickson dari One Nation (kiri) dan James Ashby (kanan), ketika mereka melakukan perjalanan ke Washington DC untuk bertemu NRA. (Foto: Al Jazeera)

Tips NRA lainnya adalah untuk menulis ‘kolom hantu’ atas nama para pejabat penegak hukum pro-senjata.

“Kami menulis kolom-kolom di koran lokal,” kata Mortensen.

“Sering kali, kita akan menulisnya misalnya atas nama sheriff lokal di Wisconsin atau siapa pun. Dan dia akan menyusunnya atau dia akan membantu kami menyusunnya. Kami akan melakukan banyak kerja keras karena orang-orang ini sibuk. Dan ini adalah pekerjaan kami. Jadi, kami akan membantu mereka dan mereka akan menyerahkannya dengan nama mereka sehingga terlihat organik. Anda tahu, karena itu berasal dari komunitas itu. Tapi kami akan memiliki peran di belakang layar.”

Dan untuk media sosial, NRA merekomendasikan untuk memproduksi video pendek yang menyoroti betapa bergunanya senjata untuk pertahanan diri.

“Ini sangat populer dan hanya sekilas. Kau tahu, ‘Joe Blow’, kasir di toko setempat, membawa senjatanya dan melindungi dirinya sendiri,” kata Mortensen.

“Itu bagus karena pendek dan bisa membuat Anda marah. Kami menyebutnya ‘kemarahan minggu ini’.”

Dalam pertemuan yang sama, Dickson mengatakan kepada NRA bahwa “geng-geng Afrika yang diimpor ke Australia” melakukan pemerkosaan dan pencurian di negara itu, termasuk “datang ke rumah dengan tongkat bisbol untuk mencuri mobil Anda”.

Untuk itu, Dalseide menyarankan hal ini: “Setiap kali ada cerita di sana tentang geng-geng Afrika yang datang dengan tongkat bisbol, mungkin hal kecil yang bisa Anda unggah—mungkin di bagian atas tweet atau unggahan Facebook atau apa pun—adalah seperti tulisan ‘ tidak diizinkan untuk mempertahankan rumah mereka ‘,’tidak diizinkan untuk mempertahankan rumah mereka’. Boom.”

Para pejabat NRA yang disebutkan dalam laporan ini, One Nation, Dickson, dan Ashby tidak menanggapi permintaan komentar Al Jazeera.

Jurnalis Al Jazeera berhasil melakukan ini selama tiga tahun, mendapatkan akses yang belum pernah terjadi sebelumnya ke aula NRA, dan mengetahui pikiran dua pejabat One Nation—pemimpin negara bagian Queensland Steve Dickson dan kepala staf kontroversial partai tersebut, James Ashby. (*)