Ini Alasan Hanya Pendopo Bupati di Kota Cirebon menghadap ke Timur?

Pendopo Cirebon (Foto. Kota Di Djawa Tempo Doeloe, Olivier Johannes Raap)

Pada masa pemerintahan Raffles mulai diperkenalkan jabatan wedana sebagai kepala distrik. Hingga secara sepihak mengeluarkan “memorandum” bahwa para Sultan dipensiunkan dan diberi tunjangan pensiun dan penghasilan dari beberapa luas tanah dan dipertegas lagi dengan surat tertanggal 21 April 1815.

Di lain sisi, berdirilah kemudian Regentswoning Cheribon (Pendopo Kabupaten Cirebon) di ujung perempatan Alun-alun Kejaksan. Sebelah selatan berdiri kokoh yaitu Rumah Dinas Bupati Cirebon atau masyarakat Cirebon menyebutnya Pendopo Kartini, kerena terletak di ujung Jl Kartini Kota Cirebon.

Ada hal yang berbeda dari Pendopo Kartini dengan pendopo lainnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Menurut R Soemioto dalam memoarnya Buku Tjoretan Dan Tjatatan Serta Sorotan Kabupaten Tjirebon.

Tjirebon 1966 (edisi baru Penerbitan Naskah Sumber Arsip. Kantor Kearsipan Dan Dokumen Kabupaten Cirebon, Cirebon 2007), menuliskan bahwa Kanjeng Raden Adipati Salmon Salam Soeria Adiningrat (1902 1918), Regent Tjirebon (Bupati Cirebon) waktu itu.

Pendopo di Jawa Barat Menghadap Utara?

Dalam buku karya Olivier Johannes Raap, Kota Di Djawa Tempo Doeloe   diungkapkan sebuah wilayah afdeeling menyatu dengan wilayah regentschap. Praktiknya, kabupaten merupakan wilayah kekuasaan bupati yang juga menjadi wilayah kerja asisten residen. Kedua jabatan memiliki status  yang tinggi. Oleh karena itu, dalam tata bangunan sebuah kota kabupaten kolonial, lokasi dan rumah bupati tidak boleh kalah mewah dari lokasi dan rumah asisten residen, dan sebaliknya.

“Di banyak kota, kompleks kabupaten dan asistenan  saling berhadapan di sisi utara dan sisi selatan alun-alun. Orientasi kediaman pejabat negara dalam tata kota mengikuti adat kesopanan. Suatu kediaman tidak boleh membelakangi kediaman lain. Terkadang kediaman residen juga dibangun di alun-alun, tetapi lebih sering sebuah karesidenan terletak di tempat lain. Sebaliknya, semua kediaman menghadap ke arah alun-alun, juga jika kediaman tersebut dibangun agak jauh dari alun-alun, ” tulis Olivier Johannes Raap.

Menurutnya. tata letak jalan di sebuah kota tradisional biasanya punya jalanan barat-timur dan jalanan utara-selatan. Banyak rumah menghadap jalan, tetapi juga banyak rumah yang tidak menghadap jalan bahkan jalan raya tetapi menyamping bahkan membelakangi jalan, agar rumah menghadap ke arah yang diinginkan yang bisa dilihat dari dua pandangan, yaitu kepercayaan dan rasional.

Ada anggapan bahwa kepala bumi itu utara dan kakinya selatan. Ada anggapan bahwa utara itu dianggap awal kehidupan, dan selatan itu menuju ke kematian. Tapi anggapan kematian tersebut tidak selalu berlaku karena ada kalanya selatan dianggap sebagai pusat kenikmatan. Ada yang ingin menghadap Nyi Roro Kidul, berdasarkan kepercayaan yang bersifat mistis. Timur sebagai sisi terbit matahari yang dianggap sebagai sisi awal kehidupan yang sebaliknya tidak membelakangi.

Salah satu alasan lebih praktis adalah agar teras rumah tidak terhindar dari angin barat atau timur, atau dari sinar matahari pada waktu pagi dan sore. Pulau Jawa terletak di sebelah selatan khatulistiwa. Matahari selama delapan bulan dalam setahun berada di sebelah utara Pulau Jawa. Jadi sangat logis jika membangun rumah dengan pintu menghadap ke selatan, karena akan mendapat keuntungan delapan bulan lebih sejuk saat membelakangi matahari.

Dapat dikatakan, untuk setiap rumah dipakai formula jumlah hitungan tersendiri. Alhasil, untuk banyak rumah kalangan atas tradisional, antara lain keraton Solo dan di Yogyakarta, sumbu utara-selatan menjadi favorit.

Senada, Nurdin M Noer, dalam tulisannya Pendopo Cirebon Dirintis Sejak 1930  hampir semua pendopo di Jawa Barat menghadap utara. Ini didasarkan pada keyakinan, utara merupakan magnet yang memiliki daya tarik luar biasa. Utara adalah laut Jawa.

Dalam tataruang tradisional Jawa, pendopo merupakan salah satu rangkaian dari lima bagian yang harus dipenuhi. Lima bagian itu, masing-masing pendopo,  alun-alun dengan pohon beringinnya, masjid pada bagian barat, pasar di bagian selatan, dan penjara di sebelah timur.

Kelima bagian itu merupakan satu kesatuan yang mencerminkan simbol pemerintahan (pendopo), alun-alun dan pohon beringin (rakyat dan pengayomannya), keagamaan (masjid), ekonomi rakyat pasar dan hukuman bagi mereka yang bersalah (penjara). Di Cirebon kelimanya dibangun sezaman pada awal 1900-an.

Bangunan pendopo dibangun menyerupai ruang terbuka tanpa dinding bertiang kayu jati berdenah simetris dengan atap genteng berbentuk joglo berlantai keramik. Bangunan Pendopo merepresentasikan ruang publik dalam kegiatan pemerintahan, sedangkan rumah bupati atau ”pedaleman kanjeng bupati” dibangun dengan arsitektur berlanggam kolonial yang merupakan bangunan yang sangat privasi hanya diperuntukan untuk patih, pangrehpraja, atau keluarga bupati. Sebagai pemisah dan penghubung antara pendopo dan pedaleman kabupaten, dibangun atap penghubung yang dulu terpasang lampu gantung antik sebagai pelita.

Halaman: 1 2