Inilah Tawon yang Menewaskan Petani di Kuningan?

Sampai awal tahun ini mendapat laporan 217 kasus temuan tawon dari warga di 26 kecamatan kabupaten Klaten (Foto. Fajar Sidiq/BBC)

Warga Desa Paninggaran, Kecamatan Darma, dihebohkan dengan tewasnya seorang petani bernama Muhidi (73) karena sengatan tawon dan seorang petani lain bernama Yusman mengalami luka sengatan hingga harus dilarikan ke RSUD ’45 Kuningan.

Peristiwa di Kabupaten Kuningan ini mengingatkan serangan tawon di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga menyebabkan dua orang tewas setelah tersengat sepanjang tahun 2017. Tim pakar serangga LIPI menyebutkan peristiwa ini merupakan yang terbesar di Indonesia.

Hari Nugroho pakar ilmu serangga LIPI menyebutkan penanganan tawon harus hati-hati agar tidak merusak ekosistem karena fungsinya sebagai pemakan hama dan biasanya mudah ditemui di hutan atau sawah.

“Mustinya yang harus dilakukan adalah pengendalian bukan pemusnahan, karena kita bicara tentang konservasi atau kesimbangan ekosistem mereka tawon punya peranan sebagai predator pemangsa hama, oenting bagi lingkungan juga,” kata dia.

Dia juga menyebutkan meledaknya populasi tawon dapat juga dipicu oleh peningkatan suhu, namun semua kemungkinan itu masih dikaji.

“Rata-rata yang dilaporkan itu sarangnya sudah besar mungkin warga tidak menyadarinya, jadi warga harus mengecek apakah di sekitar rumahnya ada sarang tawon, jadi tidak menunggu sampai ukurannya besar,” jelas Hari.

Dia juga mengatakan warga diminta tidak menangani sendiri sarang tawon, terutama yang berukuran besar karena dapat disengat.

Tawon adalah satwa yang cukup unik yang berbeda dari serangga lainnya, tetapi tawon parasit seperti ini jauh lebih unik lagi. Mereka adalah satwa penyendiri, menghindari kelompok-kelompok sosial, berburu mangsa dan bergerak menyendiri ke mana-mana. Tawon jenis ini adalah salah satu kelompok hewan yang paling beragam di bumi.

Mereka dikenal karena bertelur di dalam tubuh arthropoda lain (serangga atau laba-laba), dan menggunakan makhluk-makhluk itu sebagai rumah bagi keturunannya. Serangga tersebut tanpa sadar menjadi rumah bagi anak-anak tawon parasit dan ketika telur-telur menetas, kematian yang cepat terjadi.

Ini adalah salah satu metode pemijahan paling sukses dalam kerajaan hewan, yang menjelaskan mengapa perilaku ini bertahan begitu agresif jutaan tahun.

Sebagai informasi, tawon (wasp) dan lebah (bee) memiliki perbedaan. Dikutip dari laman LIPI, tawon merupakan predator (pemangsa) yang bersifat parasitoid tanpa menghasilkan madu. Sementara lebah, umumnya menghasilkan madu. Sengatan tawon berfungsi sebagai alat berburu mangsa sementara lebah menyengat untuk mempertahankan diri dari gangguan. Tawon berperan penting bagi ekosistem sekaligus pengendali hama.

Namun, bagaimana sengatan tawon bisa membuat seseorang meninggal?

Dr dr Tri Maharani, M.Si SP.EM, seorang pakar toksinologi menjelaskan bahwa V affinis bukanlah tawon madu, melainkan tawon predator. Tawon ini memiliki kemampuan untuk memasukkan racunnya ke dalam tubuh manusia.

Pada dosis kecil, yakni ketika yang menyengat hanya satu atau dua ekor tawon, racun V affinis hanya akan menimbulkan alergi saja dengan gejala-gejala seperti bengkak.

Penanganannya pun cukup sederhana. Bagian yang bengkak perlu dikompres dengan es atau kalau tersisa sengatannya, bisa dicabut.

Lalu, pasien diberikan analgesik dan obat-obatan antihistamin atau corticosteroid sampai pembengkakan berkurang.

“Tapi sengatan sedikit ini juga jarang. Karena ketika seseorang itu merusak sarang (tawon), maka yang marah kan tidak mungkin cuma satu, tetapi satu rombongan yang isinya bisa puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan tawon,” katanya.

Bila tawon yang menyengat berjumlah banyak, maka hal ini bisa menyebabkan hiperalergi yang jika tidak ditangani akan berlanjut menjadi anafileksis hingga sistemik atau merusak organ hanya dalam hitungan hari.

Efek yang paling fatal adalah menyebabkan edema paru akut atau kondisi di mana terjadi penumpukan cairan di paru-paru yang membuat pasien kesulitan bernapas.

Selain itu, efek fatal lain yang paling umum terjadi adalah gagal ginjal akut di mana fungsi ginjal menurun.

Oleh karena itu, dibutuhkan ketanggapan petugas medis untuk menangani kasus sengatan V affinis berat.

Pasien yang mengalami edema paru akut, misalnya, harus diberikan tatalaksana edema paru, seperti cairan parunya dikeluarkan.

Sementara itu, pasien yang mengalami gagal ginjal harus diberikan tatalaksana gagal ginjal, seperti hemodialisis. Bila penanganan gawat darurat yang tepat diberikan, pasien sengatan V affinis pun bisa tetap hidup.

Langka di Indonesia

Sayangnya, efek-efek di atas baru terlihat setelah dua hingga tiga hari disengat sehingga para petugas medis yang belum terlatih untuk menangani kasus sengatan tawon akan melewatkannya.

Pasien V affinis pun sering kali hanya diberi obat rawat jalan dan kemudian disuruh pulang tanpa penanganan lebih lanjut. Tri berkata bahwa ilmu toksinologi memang masih terabaikan di Indonesia.

Pada saat ini, ahli toksinologi di Indonesia hanya dirinya saja. Hal tersebut semakin terbukti ketika Tri yang juga penasihat kasus gigitan ular untuk Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan kasus serangan V affinis ke tingkat Asia.

“Vespa affinis ini kalau di luar negeri, gigitannya jarang yang sampai begitu banyak. Paling satu tahun itu hanya menggigit dua atau tiga orang dan yang meninggal hanya satu. Jarang ada yang seperti kita ini, dalam beberapa bulan meninggal tujuh orang,” ujar Tri.

Oleh karena itu, Tri pun berpendapat bahwa seharusnya serangan tawon V affinis ini sudah termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB).

Selain itu, serangan kali ini juga harus menjadi panggilan agar pemerintah Indonesia lebih serius dalam mendukung penelitian terhadap racun dan antivenom.

Secara khusus, Tri mengusulkan untuk menciptakan program nasional dalam penanganan kasus-kasus semacam ini. Pasalnya, Indonesia memiliki kondisi geografis dan kekayaan hayati yang unik.

Hewan Beracun

Selain tawon dan ular, Indonesia juga memiliki banyak hewan lain yang beracun, misalnya belalang, ulat bulu, dan ubur-ubur. Hewan-hewan ini belum tentu sama dengan yang di luar negeri sehingga antivenomnya pun bisa jadi berbeda.

Akan tetapi, belum banyak ahli yang tahu dan bisa membuat antivenom di Indonesia. Perusahaan farmasi yang ada sekarang pun tidak bisa mengatasi karena harus fokus dalam membuat vaksin.

“Jadi, saran saya adalah Indonesia harus membuat pabrik baru khusus untuk venom ini dan merekrut peneliti untuk membuat antivenomnya,” ujar Tri.

Selain itu, Tri juga mengharapkan adanya Pusat Racun atau Poison Center di Indonesia untuk mewadahi para ahli yang tertarik dengan bidang ini.

Poison Center akan menjadi universitas, rumah sakit dan pusat riset untuk menangani racun-racun hewan di Indonesia.

“Kita punya rumah sakit untuk infeksi, rumah sakit untuk jantung, tapi rumah sakit untuk toksinologi itu belum ada. Padahal kita ini butuh rumah sakit toksinologi.”

“Karena kalau ada kasus begini, kita rujuk ke mana? Kan rumah sakit olahraga juga ada, jadi harusnya sudah waktunya kita punya rumah sakit toksinologi ini,” ujarnya. (*)