Investor Timur Tegah Tertarik, Gubernur Ridwan Kamil Tawarkan Segitiga Rebana

BUKA PINTU: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil beserta rombongan menawarkan investasi kepada pengusaha Timur Tengah ke Jawa Barat, khususnya di kawasan Segitiga Rebana. FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PEMPROV JABAR
BUKA PINTU: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil beserta rombongan menawarkan investasi kepada pengusaha Timur Tengah ke Jawa Barat, khususnya di kawasan Segitiga Rebana.FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PEMPROV JABAR

DUBAI-Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengambil inisiatif membuka kontak bisnis langsung dengan para pelaku usaha di sejumlah pusat-pusat pertumbuhan ekonomi kawasan Timur Tengah.

Seperti Marakesh di Maroko, Aljir, Setif, dan Constantine di Aljazair, serta Dubai dan Abu Dhabi di Uni Emirat Arab.

Menurut Emil, sapaan akrabnya, aktivitas bisnis luar negeri Indonesia selama ini lebih banyak dilakukan dengan negara-negara di kawasan Asia Timur.

Sementara hubungan usaha dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, masih minim. Padahal, potensinya sangat besar. “Jabar Go Middle East,” tuturnya.

Untuk meningkatkan volume sekaligus menyeimbangkan perdagangan antara dua kawasan itu, sepanjang lawatan kedinasan di kota-kota tersebut, pada 6-14 Maret 2019, Ridwan Kamil yang didampingi Ketua Kamar Dagang dan Industri Jawa Barat Tatan Pria Sudjana, berkali-kali mengadakan temu bisnis dengan sejumlah pelaku usaha serta pimpinan grup perusahaan terkemuka setempat.

Dialog bisnis untuk mengenalkan potensi usaha dan berbagai produk unggulan Jawa Barat, mendapat respons positif dari para calon mitra usaha di tiga negara itu dan akan disusul dengan agenda pertemuan-pertemuan lanjutan yang lebih teknis.

“Kami memang akan lebih mengorientasikan promosi Jawa Barat dan pembukaan peluang usaha ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Potensinya sangat besar. Saya sudah mengetuk pintu ke pemerintahan setempat yang selevel (G to G) agar peluang usaha terbuka. Tinggal nanti ditindaklanjuti oleh pertemuan teknis antarpengusaha (B to B).

Diharapkan, dalam waktu yang tidak lama, Kadin Jabar  melanjutkannya dengan mengadakan misi dagang yang bisa menghasilkan sejumlah kesepakatan atau kontrak bisnis yang konkret, ” kata Emil di Dubai, Kamis (14/3).

Sejumlah komoditi unggulan Jawa Barat berkali-kali ditawarkan Ridwan Kamil kepada sejumlah pengusaha di kota-kota yang dikunjungi. Komoditas kopi dan teh menjadi primadona.

Beberapa hasil industri manufaktur unggulan, seperti pesawat terbang buatan PT DI, atau persenjataan produk PT Pindad, juga dijajakkan.

Selain itu, sejumlah fasilitas dan infrastruktur pendukung industri, baik yang sudah maupun yang sedang dalam proses pembangunan di Jawa Barat, juga dipresentasikan. Salah satunya adalah proyek pembangunan kawasan ekonomi Segitiga Rebana (Cirebon-Patimban-Majalengka).

Kepada para pengusaha di Dubai, Abu Dhabi, Setif, dan Aljir, Emil memberikan jaminan bahwa menanamkan investasi di kasawan pertumbuhan ekonomi baru itu sangat berpotensi menguntungkan.

“Selain harga lahan dan upah buruh yang masih murah, akses masuk dan keluar barang-barang produksi pun sangat mudah. Di Segitiga Rebana ada pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati dengan kapasitas besar,”  imbunya.

Menjawab pertanyaan tentang kemudahan lain yang ditawarkan, Emil menyebut, regulasi untuk membuka dan menjalankan usaha di tempat itu akan dipermudah.

Berbagai insentif kepada para investor sedang disusun. Tujuannya agar Segitiga Rebana mampu segera menarik investasi dan mendorong peningkatan aktivitas ekonomi di kasawan itu.

Sementara, Mohammed MT Khoory, pimpinan Al Khoory Group, konglomerat terkemuka di Dubai, menyatakan ketertarikannya untuk mengetahui lebih lanjut tentang Segitiga Rebana dan peluang-peluang bisinis lainnya di Jawa Barat.

“Sepanjang (prosesnya) mudah dan menjanjikan keuntungan, Khoory siap buka usaha,”  katanya.

Pengusaha yang sudah banyak membantu pengembangan keagamaan dan  pendidikan Islam di berbagai negara, termasuk di Indonesia juga mendorong pemerintah terus menyiapkan dan memperbaiki infrastruktur. Karena, Jawa Barat punya potensi luar biasa untuk dikembangkan.

Hal yang sama juga dilontarkan para pengusaha yang secara bergiliran, berdialog langsung dengan Gubernur Ridwan Kamil dalam sesi one on one meeting. Mereka, termasuk para petinggi dari perusahaan konglomerasi Kanoo Group, umumnya sangat antusias.

Apalagi, gubernur menyajikan data pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang positif dan pangsa pasar yang besar.

“Dengan pertumbuhan ekonomi Jabar sebesar 5,6 persen, peluang pengembangan usaha sangat terbuka,” ujar Emil.

Salah satu misi ekonomi Jawa Barat memang diorientasikan bagi penguatan investasi, dengan mengundang sebanyak mungkin pengusaha menanamkan modalnya. Namun, kata Ridwan Kamil, pemodal tidak akan berinvestasi tanpa ada jaminan keberlangsungan bisnis yang aman dan menguntungkan.

“Misi muhibah ini adalah salah satu upaya untuk langsung mengenalkan secara detil dan ngadagangkeun seluruh potensi dan kondisi Jawa Barat, dan Indonesia pada umunnya, kepada sasaran yang dituju. Yakni, para pengusaha luar negeri.

Dan ternyata, efektif. Responsnya sangat positif, Jawa Barat adalah pintu masuk investasi ke Indonesia,” kata gubernur.

Mengundang pebisnis untuk menanamkan modalnya di tanah air memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Perlu kerja keras yang berkelanjutan untuk meyakinkan mereka.

“Kuncinya adalah konsistensi kita dalam memfasilitasi upaya-upaya ke arah penciptaan iklim berusaha dan pengembangan usaha yang baik. Toh, pada akhirnya, jika ekonomi bergerak naik, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” kata Emil.

Untuk mengawali dan mengkondisikan hubungan bisnis antara pebisnis Jawa Barat dengan pengusaha dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Ridwan Kamil akan mengupayakan sebuah langkah kecil tapi kongkrit, yakni membuka kafe-kafe di beberapa kota yang dikunjungi.

Kafe itu akan menyajikan beragam olahan kopi unggulan dari seluruh Indonesia, terutama Jawa Barat. kafe akan didesain dengan konsep yang sangat Jawa Barat atau nusantara.

kafe itu akan menjadi etalase sekaligus tempat yang menarik untuk mengenalkan Jawa Barat dengan cara yang lebih kekinian.

“Kafe itu nantinya akan dikelola melalui pola kerjasama antara pengusaha Jawa Barat dengan pengusaha setempat.

Saya berkeyakinan,  diplomasi kopi ini bisa mengakselerasi upaya-upaya kita untuk membuka dan menangkap peluang bisnis yang lebih besar di kemudian hari,” pungkasnya. (jun/rls)