ISIS Hancur Bersama Teka-Teki Si “Hantu” Abu Bakar al-Baghdadi

Abu Bakar al-Baghdadi

ISIS adalah Islamic State in Iraq and Syria atau dalam singkatan lain disebut dengan Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL). Dalam literatur Barat atau berita-berita di Barat kata the Levant lebih sering dipakai dari pada Syria karena fakta wilayah yang dikuasai kelompok ISIS dan cita-cita kelompok ISIS adalah wilayah mencakup Irak dan the Levant yang lebih luas dari Suriah.

The Levant yang merujuk kepada Levantines (Latin Kristen Katolik yang hidup dibawah kekuasaan Khalifah Ustmaniyah) mencakup wilayah yang saat ini kita kenal sebagai Suriah, Lebanon, Israel, Palestina, Yordania, dan Turki.

Disebutkan, warna hijau tua adalah negara dan wilayah di kawasan the Levant (Suriah, Lebanon, Israel, Yordania, Cyrpus, dan propinsi Hatay – Turki). Warna hijau muda adalah negara dan wilayah yang kadang juga dimasukan sebagai the Levant (Irak dan Sinai – Mesir). Warna hijau sangat muda adalah negara dan wilayah juga dimasukkan dalam wilayah the Levant (Yunani, Turki, dan Mesir).

Merujuk kepada sejarah maka wilayah the Levant yang paling luas adalah gabungan seluruh kombinasi warna hijau tersebut, sedangkan merujuk kepada fenomena ISIS saat ini data hingga bulan Mei 2017, maka wilayahnya adalah mencakup sebagian wilayah Irak dan Suriah dengan konsentrasi kekuatan di Raqqa, Deir ez-Zour, Palmyra, Sha’er (Suriah) dan Mosul, Hawija, Qaim (Irak).

Dalam berbagai analisa dan fakta yang terungkap, ISIS) adalah salah satu ekses Perang Irak pada 2003. Ia berakar dari kelompok Al-Qaeda in Irak (AQI)—salah satu aktor utama dalam pemberontakan terhadap pemerintah Irak dan pasukan pendudukan asing di sana. Di bawah kepemimpinan Abu Musab Al-Zarqawi, AQI bertanggung jawab atas beberapa serangan paling brutal selama konflik di Irak.

Rencana-rencana pembentukan suatu daulah atau negara Islam oleh AQI mulai terkuak pada Juli 2005. Rencana itu datang langsung dari orang nomor dua di Al-Qaeda, Ayman Al-Zawahiri. Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Zarqawi, tangan kanan Osama bin Laden itu menyebut tentang tahap-tahap mengambil alih kendali negara ketika pasukan Amerika pergi.

Surat sepanjang 6.000 kata itu memuat rencana empat langkah yang dimulai dengan pengusiran pasukan AS dari Irak. Pengusiran itu akan diikuti pembentukan suatu “otoritas Islam atau keamiran” yang meliputi wilayah Irak.

Tahap ketiganya adalah “perluasan gelombang jihad” ke negara-negara sekuler tetangga Irak. Ketika semua tahapan itu tercapai, sebagai kemuncaknya adalah perang langsung dengan Israel.

“Karena Israel didirikan hanya untuk menantang entitas Islam baru,” tulis Zawahiri dalam surat yang—seturut sumber intelijen Amerika Serikat—diperoleh selama perang kontraterorisme di Irak.

Surat itu juga menekankan perlunya suatu kampanye politik inklusif yang mampu menarik kelompok Islam lain di luar kelompok-kelompok jihadis. Surat itu memperingatkan agar AQI tak mengulang kesalahan Taliban di Afganistan yang eksklusif dan akhirnya mendapat penolakan.

Rencana itu belum sepenuhnya terlaksana hingga tewasnya Zarqawi oleh serangan militer Amerika Serikat pada Juni 2006. Ia tewas usai tempat persembunyiannya dijatuhi bom oleh pesawat tempur Amerika Serikat. Sehari kemudian, AQI mengumumkan bahwa posisi Zarqawi digantikan oleh Abu Ayyub Al-Masri.

Di bawah Al-Masri, pada Oktober 2006 AQI bergabung dengan kelompok-kelompok sunni radikal di provinsi Anbar, Irak, dan membentuk Koalisi Mutayyibin. Hanya berselang beberapa hari koalisi besar ini menyatakan berdirinya Islamic State of Irak (ISI).

Sebagai amirnya diangkatlah Abu Umar Al-Baghdadi, sementara Al-Masri menjabat sebagai menteri perangnya. ISI mengklaim wilayah Anbar, Baghdad, Diyala, Kirkuk, Ninawa, Babel dan Salahuddin sebagai wilayahnya.

 

Dalam kurun dua tahun ISI telah membesar dan berhasil menggaet lebih banyak warga Irak untuk bergabung. Di antara kelompok besar yang bergabung dengan ISI adalah mantan anggota Partai Baath yang dulu dilarang semasa Saddam Hussein berkuasa.

ISI juga diduga kuat punya hubungan dengan kelompok jihadis di Suriah. Itu terlihat dari hasil investigasi terhadap pemboman bunuh diri besar-besaran di Baghdad pada 25 Oktober 2009. Dalam pemboman yang menewaskan lebih dari 150 orang itu ditemukan bahan peledak yang didatangkan dari Suriah.

Pada akhir 2009 hingga 2010 militer Amerika Serikat di Irak mengklaim telah berhasil menurunkan intensitas serangan oleh kelompok ISI. Meskipun begitu, serangan-serangan kecil oleh anggota kelompok ISI tetap saja terjadi. Pada April 2010 Abu Umar Al-Baghdadi dan Al-Masri tewas dalam serangan gabungan AS-Irak di dekat Kota Tikrit.

“Kematian para teroris ini adalah pukulan telak bagi Al-Qaeda [meskipun ISI telah dibentuk, nama Al-Qaeda atau AQI tetap umum digunakan untuk menyebut kelompok ini—red] di Irak sejak awal pemberontakan mereka,” kata Jenderal Ray Odierno, komandan militer Amerika Serikat di Irak. “Intelijen Irak dan pasukan keamanan yang didukung oleh intelijen Amerika Serikat dan pasukan khusus selama beberapa bulan terakhir terus mendegradasi kekuatan AQI. Masih banyak pekerjaan rumah tetapi ini adalah langkah signifikan dalam pembersihan teroris di Irak.”

Tetapi, Jenderal Odierno salah. Kematian Abu Umar Al-Baghdadi dan Al-Masri justru menjadi awal munculnya momok baru yang lebih brutal. Sebulan setelah serbuan pasukan gabungan AS-Irak itu, ISI mengumumkan bahwa mereka telah memilih Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai amir mereka yang baru. Di bawah pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi ISI kembali menyusun kekuatannya dan mulai membangun suatu faksi pula di Suriah.

Perang saudara di Suriah pecah pada awal 2011. Perang ini memberi peluang baru bagi ISI membangun faksi di sana. Sejak sekira Agustus 2011, Al-Baghdadi mulai mengirimkan pejuang ISI yang berpengalaman ke Suriah di bawah pimpinan Abu Muhammad Al-Golani.

Selama paruh akhir 2011 kelompok Al-Golani terus merekrut anggota dan mendirikan sel di seluruh Suriah. Lalu pada Januari 2012 kelompok Al-Golani muncul ke publik dengan nama Jabhat al-Nusra li Ahl as-Sham—biasa dikenal sebagai Front Al-Nusra.

Pada akhir 2012, berbagai kelompok pemberontak Suriah tampak melemah akibat konflik yang berkepanjangan. Situasi ini dimanfaatkan Abu Bakar Al-Baghdadi untuk memperluas cakupan ISI. Tiga bulan kemudian rencana itu akhirnya terlaksana.

Pada 8 April 2013, tepat hari ini lima tahun lalu, Abu Bakar Al-Baghdadi mendeklarasikan penggabungan pasukan ISI di Irak dan Suriah. Ia juga mengklaim bahwa Front Al-Nusra adalah kepanjangan tangan ISI di Suriah. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai Islamic State in Irak and Syria (ISIS).

Tetapi, Al-Golani sebagai pimpinan Front Al-Nusra menolak deklarasiitu. Ia menolak klaim Abu Bakar Al-Baghdadi bahwa Front Al-Nusra bukan bagian dari ISIS. Ia mengakui bahwa ia pernah menjadi bagian dan berperang di Irak bersama ISI—yang masih bersetia kepada Al-Qaeda. Namun, Al-Golani juga menyatakan bahwa kelompoknya bersetia kepada Ayman Al-Zawahiri sebagai pimpinan utama Al-Qaeda, bukan kepada ISIS.

Al-Zawahiri sebagai pemimpin tertinggi Al-Qaeda juga menyatakan menentang klaim Abu Bakar Al-Baghdadi itu. Dua bulan setelah deklarasi ISIS Al-Zawahiri menyurati Abu Bakar Al-Baghdadi dan juga Al-Golani. Dalam surat itu, Al-Zawahiri menyatakan bahwa Abu Bakar Al-Baghdadi “bersalah” telah mengklaim Al-Nusra tanpa konsultasi dengan pimpinan al-Qaeda.

Dia juga menyatakan bahwa Suriah adalah medan jihad khusus bagi Al-Nusra yang dipimpin oleh Al-Golani, sementara otoritas Abu Bakar Al-Baghdadi terbatas hanya di wilayah Irak.

Tetapi, Abu Bakar Al-Baghdadi menolak seruan Al-Zawahiri itu dan tetap menjalankan rencananya mendirikan ISIS.

“ISIS akan tetap berdiri, selama darah di tubuh kami masih mengalir dan mata masih berkedip. Kami tak akan berkompromi atau menyerah,” tegas Abu Bakar sebagaimana dikutip kantor berita Aljazeera.

Di sisi lain, ISIS adalah anak haram Amerika Serikat sebagaimana dinyatakan oleh Julian Assange, penelitian Global Research, analisa Seumas Milne, analisa Tom Engelhardtpernyataan Trump, dan berbagai pemberitaan lainnya dari yang obyektif sampai yang konspiratif. Kepentingan geopolitik global adalah dalam hal pengaruh AS di kawasan Timur Tengah yang berpotensi menurun karena peningkatan pengaruh Iran dan Rusia yang berada di belakang kelompok Syiah, sementara AS mau tidak mau mendukung kelompok Sunni dengan pentolan Arab Saudi.

Hal ini tampak dalam kunjungan pertama Presiden Trump ke luar negeri baru-baru ini ke Arab Saudi. Selain itu, AS meskipun tahun ISIS dibiayai oleh Arab Saudi pada era Obama ternyata membiarkan atau bahkan berkonspirasi (baca: Hillary – ISIS). Geopolitik berupa perebutan pengaruh kekuasaan di kawasan, geoekonomi berupa perebutan ladang-ladang minyak adalah faktor yang lebih besar daripada radikalisme dan terorisme yang merupakan efek dari pederitaan dan kebencian yang lahir dari darah dan air mata penduduk di daerah konflik di Irak dan Suriah.

Jika kemudian, momentum tercipta di Baghouz, desa kawasan timur Suriah yang berbatasan dengan Irak, ketika Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) dinyatakan kalah.

Kemenangan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) merebut desa yang menjadi benteng terakhir ISIS menandai berakhirnya operasi intensif sejak 9 Februari.

Kini dengan kekalahan ISIS itu teka-teki pun menggelayut. Bagaimanakah nasib dan ke mana perginya pemimpin mereka, Abu Bakar al-Baghdadi?

Berjuluk “Si Hantu”, Baghdadi tidak nampak lagi setelah mengumumkan “kekhalifahan” ISIS di Masjid Nuri Mosul, Irak, pada pertengahan 2014.

Rekaman suaranya yang terakhir berisi seruan kepada para anggota dirilis pada Agustus 2018, atau delapan bulan setelah Irak mengumumkan perang melawan ISIS telah usai.

Juru bicara SDF Mustafa Bali menuturkan ketika menekan benteng terakhir kelompok ekstremis itu, mereka tidak menemukan tanda-tanda Baghdadi ada di sana.

Namun sejumlah anggota ISIS yang memutuskan menyerah dan keluar dari Baghdadi mengaku perintah untuk kabur itu datang sendiri dari Baghdadi.

“Jika Sang Khalifah tidak memerintahkannya, maka kami tidak akan meninggallkan tempat kami,” kata seorang perempuan anggota ISIS.

Tetap menjaga kerahasiaan, berbeda dengan mendiang Pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden, adalah alasan Baghdadi diyakini masih hidup saat ini. (*)