Jalan Bubur Lemu Coklat Ada di Kecamatan Gegesik

MENYINDIR: Baju orang-orangan bertuliskan kata-kata menyindir kepada pemerintah karena jalan rusak di Gegesik, (19/3). FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
MENYINDIR: Baju orang-orangan bertuliskan kata-kata menyindir kepada pemerintah karena jalan rusak di Gegesik, (19/3). FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sebagai bentuk protes, warga meluapkan kekesalannya akan kondisi jalan yang rusak parah menggunakan kalimat “menyindir” pada baju yang dikenakan orang-orangan sawah. Itu terlihat di jalan penghubung Kecamatan Kaliwedi dan Kecamatan Gegesik, (19/2).

Sudah hampir sepekan, terlihat pemandangan tidak lazim di jalan raya Gegesik-Kaliwedi, tepatnya di Desa Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon. Jalan utama penghubung dua kecamatan yang kondisinya rusak parah.

Tampak ditumbuhi padi, eceng gondok dan beberapa tumbuhan lain. Bahkan, pada barisan tanaman juga terdapat orang-orangan sawah  bertuliskan kalimat keluhan warga.

Beberapa jenis tanaman yang berada di jalan, sengaja ditanam sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang tidak kunjung memperhatikan kondisi yang ada.

“Selamat datang di jalan bubur lemu coklat,” tulis warga, pada pakaian orang-orangan sawah di lokasi jalan yang rusak.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa warga, mereka yang menanam dan memasang tulisan, berawal dari rasa kesal akan kondisi jalan yang setiap hari dilaluinya.

Terlebih, saat ini intensitas hujan cukup tinggi. Sehingga, kondisi lubang jalan selalu tergenang air.

Pemilik lahan pesawahan di samping jalan yang rusak, H Kadmita (56) mengatakan, sebelum diurug dengan tanah merah, jalan tersebut juga pernah beberapa kali diurug menggunakan batu koral. Sayang, pengurugan dilakukan secara tidak maksimal.

“Ngurugnya tanggung. Hanya satu mobil atau dua mobil. Jadi, tidak lama juga hilang kena air,” ujar petani asal Gegesik Kulon itu.

Kadmita menyayangkan, pengurugan kembali jalan tersebut menggunakan tanah merah. Pasalnya, selain membuat kondisi jalan membahayakan pengendara, juga membuat jalan semakin menyempit sepanjang kurang lebih 20 meter.

Kadmita juga mengaku tidak mengetahui siapa warga yang telah menanam sejumlah tanaman di lokasi rusaknya jalan.

Di tempat yang sama, seorang pengendara sepeda motor, Hermanto (43) merasa was-was ketika melintas. Selain rentan terkena cipratan tanah, Hermanto juga khawatir terjatuh karena kondisi jalan yang licin.

Secara pribadi Hermanto mengaku setuju dengan bentuk protes yang dilakukan warga. Pasalnya, niat baik memperbaiki jalan, tidak mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. “Ya iya lah, masa diurugnya pakai tanah merah. Jalan jadinya seperti itu,” ujar Hermanto.

Sementara itu, Camat Gegesik Udin Syafrudin menanggapi, akan banyak perbaikan pada tahun anggaran 2019. Terkait aspirasi masyarakat untuk perbaikan jalan kabupaten, menghubungkan Desa Gegesik Kidul menuju Desa Prajawinangun Kulon. (ade)