Jaringan Teroris asal Majalengka Berinteraksi Lewat Facebook

BARANG BUKTI TERORIS: Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar (tengah) bersama Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Rikwanto (kiri), dan Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul (kanan) merilis barang bukti dari kelompok teroris di Mabes Polri.FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

JAKARTA–Kelompok teror di Indonesia mulai melibatkan anak muda. Hal itu terbukti dari aksi teror bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kaltim, pada 13 November lalu. Dua remaja terlibat dalam peristiwa keji tersebut. Yakni, pemuda berinisial GA yang berusia 16 tahun dan RP (17).

Ironisnya, keterlibatan mereka karena pengaruh dari orang terdekat, Yakni, orangtua mereka sendiri. Salah satu di antara dua remaja itu direkrut ke dalam jaringan teror Jamaah Ansharut Daulah (JAD) oleh orangtuanya sendiri. Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan, orangtua remaja tersebut bernama Joko Sugito. Yang bersangkutan juga dinyatakan sebagai tersangka.

Menurutnya, baru kali ini ada tersangka kasus teror yang berusia muda. Ini juga menjadi yang pertama untuk kasus yang ditindaklanjuti hingga ke meja hijau. Karena itu, perlakuan hukum terhadap tersangka belia itu juga berbeda. ”Tentunya dengan undang-undang perlindungan anak. Berbeda dengan yang lainnya,” kata Boy.

Aksi teror yang melibatkan anak muda ini membuka mata Polri. Langkah ke depan adalah bergerak mengantisipasi rekrutmen kelompok teror kepada para remaja. Apalagi anak-anak. Boy menyatakan, kuncinya ada pada orang tua. Namun, hal itu sebenarnya bisa dicegah. ”Polri akan bergerak agar melindungi anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Yang mengkhawatirkan, Boy menuturkan, pondok pesantren dari terdakwa kasus teror Amman Abdurrahman di Ciamis, Jawa Barat, masih beroperasi. Hal tersebut bisa menjadi indikasi bahwa ada potensi untuk rekrutmen. ”Kami pantau masih beroperasi,” kata Boy.

Mengapa tidak ditutup? Boy memaparkan, kewenangan menutup pondok pesantren bukan ada di Polri. ”Kewenangan kami tidak sampai ke sana,” kata jenderal berbintang dua tersebut.

Polri berencana menghitung jumlah anak yang dilibatkan dalam aksi terorisme. Hal itu sangat penting untuk mengetahui kondisi sesungguhnya. Juga untuk menyiapkan langkah antisipasi. ”Yang dibawa ke Syria itu banyak, salah satunya empat anak Bahrun Naim,” jelasnya.

Sementara itu, terkait dengan aksi pembuatan bahan peledak di Majalengka, Jawa Barat, Polisi telah menciduk empat orang. Mereka tergabung dalam satu tim peracik bahan peledak. ”Mereka berkenalan melalui Facebook,” ucap Boy.

Polisi sedang mengindentifikasi apakah ada orang lain yang terlibat dalam pembuatan laboratorium bahan peledak di rumah tersangka RPW. Termasuk mengejar para pemesan bahan peledak tersebut. (idr/ca)