Jejak Juhanda di Desa Bunigeulis; Tak Pernah Melawan Orang Tua, Terakhir Ketemu tahun 2007

ADIK PELAKU BOM: Sekretaris Desa Bunigeulis Inar Sudinar (kiri) foto bersama adik Juhanda nomor dua, Juhartana ketika ditemui Radar Kuningan di rumahnya. FOTO: AGUS PANTHER/RADAR KUNINGAN

Siapa nyana jika pelaku aksi bom di area parkir depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur, Juhanda, berasal dari Kabupaten Kuningan, tepatnya Desa Bunigeulis, Kecamatan Hantara. Praktis nama desa ini menjadi terkenal dan jadi jugjugan para pewarta dan aparat kepolisian.

Laporan: Agus Panther, Kuningan

DI Kabupaten Kuningan, banyak nama desa yang sama namun beda kecamatan. Seperti Desa Bunigeulis. Nama desa ini ada di Kecamatan Cigandamekar, dan Kecamatan Hantara. Uniknya, kedua desa dengan nama sama ini pernah didatangi menteri. Desa Bunigeulis, Kecamatan Cigandamekar pernah disambangi Dahlan Iskan yang menjabat Menteri BUMN di era Presiden SBY, dan Desa Bunigeulis, Kecamatan Hantara, beberapa hari lalu dikunjungi Mendikbud. Namun ada yang membedakan yakni kondisi medan menuju kedua desa tersebut.

Untuk jarak tempuh dari pusat kota Kuningan hampir sama yakni sekitar satu jam-an. Cuma saja menuju Desa Bunigeulis, Kecamatan Hantara, medannya berkelok-kelok dan naik turun. Disamping itu, ruas jalannya juga terbilang sempit. Sehingga ketika ada kendaraan roda empat yang berpapasan, terpaksa salah satunya harus menepi memberi jalan. Sudah begitu, jalanan menuju desa tersebut juga cukup memprihatinkan. Selepas Desa Margabakti sampai Bunigeulis, sepanjang dua kilometer keadaannya rusak parah. Butuh kesabaran dan kendaraan yang prima jika ingin menuju desa itu melalui jalur Kadugede-Cikeutak.

Nama Desa Bunigeulis kini menjadi buruan para pewarta dan aparat kepolisian akibat dari ulah Juhanda. Karena sudah jarang pulang sejak tahun 2007, banyak masyarakat Desa Bunigeulis yang tak mengenal Juhanda. Itu terbukti ketika Radar Kuningan menanyakan ke pemilik warung depan balai desa setempat, sang empunya warung mengaku tidak mengenal nama Juhanda. “Maaf paka saya tidak tahu rumah Pak Juhanda. Setahu saya, di desa ini tidak ada namanya Juhanda,” kata wanita bertubuh subur itu.

Untungnya, Sekretaris Desa Bunigeulis Inar Sudinar yang ditemui di balai desa mengaku mengenal nama tersebut. Bahkan dia pernah satu sekolah mulai SD sampai SMP, meski terhadang dua tahun. Inar lalu mengantarkan awak media ke rumah orang tua Juhanda. Sebuah rumah permanen khas pedesaan berdiri di antara gang sempit di desa tersebut. Sang penghuni rumah rupanya membuka usaha dagang kecil-kecilan. Selain bertani, orang tua Juhanda, Juharta dan Juharnah memiliki peternakan ayam yang dikelola adik Juhanda nomor dua, Juhartana. Kebetulan, Juhartanah baru pulang dari lokasi peternakan ayam milik orang tuanya.

Setengah bingung, pemuda berusaia 25 tahunan itu menjawab pertanyaan yang diajukan para pewarta. Ketika diberikan foto pelaku bom di Samarinda, Juhartana langsung menganggukan kepala jika yang di foto tersebut adalah benar kakak kandungnya. “Ya ini memang kakak saya. Tapi kakak saya sudah lama tidak pulang. Ada apa ya dengan kakak saya? Soalnya saya baru datang dari kandang ayam. Pas datang ke rumah juga kedua orang tua saya katanya lagi ke polsek. Tapi kalau foto lelaki yang ada di handpone itu, memang benar kakak saya yang pertama,” ujar Juhartana.

Namun setelah dijelaskan, barulah Juhartana memahami mengapa sang kakak ditangkap. Dia menceritakan jika kakaknya sudah lama tak pulang ke rumah. Dia terakhir bertemu ketika masih duduk di bangku SMK. “Sekitar tahun 2007, kakak saya pulang. Itu pertemuan terakhir, dan sampai sekarang belum pernah ketemu lagi. Bertahun-tahun dia tidak pernah menghubungi keluarga sampai tahun 2014 lalu. Saat itu, kakak saya menjalani tahanan di Tangerang. Pas mau bebas, keluarga berencana menjemputnya. Tapi dia malah telepon minta dikirim surat pindah. Katanya dia bilang sudah di Kalimantan,” tutur Juhartana.

Untuk keseharian kakaknya sendiri, Juhartana mengaku sama sekali kurang paham karena sudah lama tidak bertemu. Dia juga merasa kaget kalau kakaknya melakukan aksi bom di Samarinda. “Keluarga sudah pasrah saja dengan kejadian ini. Sebab selama ini kakak saya tidak pernah datang dan menghubungi keluarga,” ungkapnya. (*)