Jelang Panen, Hama Wereng Cokelat Serang Padi, Petani Kelimpungan

Hama Wereng Cokelat

CIREBON-Menjelang musim panen padi, petani di wilayah Kecamatan Gantar justru lagi kelimpungan. Hal ini menyusul masifnya serangan hama wereng batang cokelat (WBC) yang menerjang tanaman padi siap panen.

Terancam gagal panen, sebagian petani terpaksa memilih panen padi lebih awal. Langkah ini dilakukan petani untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Sebagian lainnya nekat melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan dan membasmi hama WBC. Dengan cara menyemprotkan bermacam-macam obat. “Dua hari sekali disemprot. Ini karena serangannya sangat gawat,” ucap Sukanto, petani asal Desa Baleraja Kecamatan Gantar, Selasa (5/3).

Diungkapkannya, serangan hama wereng mulai terjadi sejak seminggu lalu. Di Kecamatan Gantar, sepengetahuannya hama WBC menyerang Desa Situraja, Baleraja, Mekarjaya dan Desa Gantar. “Terparah di Desa Situraja dan Baleraja dengan luas serangan hama mencapai 400 hektare,” ungkapnya.

Dirinya menduga, serangan wereng terjadi disebabkan perubahan cuaca yang ekstrem. Cuaca panas dan tiba-tiba hujan membuat hama wereng cepat berkembang. Padahal, sejak mulai tanam sampai tanaman padi berusia 90 hari setelah tanam, serangan hama dan organisme pengganggu tanaman terbilang wajar. “Sekarang tiga minggu lagi mau dipanen serangan wereng sangat masif. Petani ada yang memilih panen dini. Kalau saya masih berusaha terus disemprot walau makan biaya besar, obatnya mahal,” katanya.

Untuk satu kali semprot, Sukanto mengaku, mengeluarkan biaya sekitar Rp800 ribu sampai Rp1 juta. Dana itu dikeluarkan untuk membeli 3 jenis obat pembasmi wereng, bayar upah tukang semprot 3 orang dan konsumsi plus rokok. Upaya yang dilakukannya cukup berhasil. “Wereng yang ukuran besar bisa dibasmi dengan cepat, tapi yang lembut-lembut itu yang susah. Makanya seminggu 3 kali kita semprot. Syukur sekarang sudah mendingan,” ujarnya.

Meski begitu, Sukanto memprediksi, hasil panen padi bakalan berkurang antara 10-30 persen. Pasalnya ada beberapa titik di lahan 1 hektare miliknya yang tidak bisa terselamatkan. Petani lainnya, Rusnadi mengatakan, upaya pengendalian hama WBC dengan cara disemprot hampir dilakukan oleh para petani. Sebab jika ada yang tidak ikutan, dipastikan hama wereng akan berpindah kesawah yang tidak disemprot.

Hanya saja, penyemprotan yang dilakukan saat padi menjelang panen sangat merepotkan dibanding ketika usia muda. Dibutuhkan tenaga beberapa orang yang bertugas menyemprot dan menyibak batang tanaman padi. “Tanaman padinya kan sudah tinggi, jadi perlu disibak dulu kemudian disemprot batang sama daunnya yang disitu wereng sembunyi,” jelasnya. (kho)