Jembatan Ke-77 Hubungkan Waled dan Pasaleman

dri - jembatan ke 77 (3)
SUDAH BERJALAN: Tim dari VRI dan sejumlah relawan lainnya sudah bekerja sejak empat hari terakhir. Pembuatan jembatan gantung tersebut rencananya bisa rampung pada 17 Agustus nanti bertepatan dengan momentum HUT Kemerdekan Republik Indonesia.FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON –  Ekspedisi 1.000 jembatan gantung Indonesia kembali ke Cirebon. Kali ini, Tim Vertical Rescue Indonesia (VRI) sedang membangun akses penyeberangan untuk masyarakat di atas Sungai Cisanggarung. Nantinya, akan menghubungkan Desa Waled di Kecamatan Waled dan Desa Cigobang Kecamatan Pasaleman.

Komandan VRI, Tedi Ixdiana menyebut, jika pembuatan jembatan gantung di lokasi yang sudah ditetapkan. Berdasarkan permintaan dan laporan dari masyarakat ke VRI yang membutuhkan akses penyeberangan. Pasalnya, setiap hari banyak warga yang harus memutar jauh sampai beberapa kilometer untuk sampai ke sisi sebelah Sungai Cisanggarung.

“Ini sudah hari keempat. Kita sudah masuk tahap konstruksi dan fondasi jembatan. Bentangannya sekitar 140 meter, Ini aman dan layak digunakan. Kalau resmi, jadi ini jembatan ke 77 yang sudah dibuat Vertical Rescue di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Jembatan tersebut menurut Tedi, ditargetkan bisa selesai pada 17 Agustus 2019 nanti. Bertepatan dengan momen HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Bersamaan dengan peresmian di tanggal tersebut, turut pula diresmikan jembatan ke 78, 79 dan 80 yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.

“Yang terlibat dalam pengerjaan ini banyak sekali. Ada rekan-rekan dari VRI. Ada dari relawan, masyarakat dan masih banyak lagi. Nanti kita namakan jembatan merdeka,” imbuhnya.

Dijelaskan Tedi, respons dari masyarakat terkait ekspedisi 1.000 jembatan gantung sendiri sampai sejauh ini sangat bagus dan direspons baik oleh pemerintah. Seluruh anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan tersebut, murni bersumber dari swadaya masyarakat.

Sementara itu, salah seorang warga sekitar Sopyan kepada Radar Cirebon menuturkan, selama ini warga sering kali menyeberangi Sungai Cisanggarung untuk berangkat sekolah maupun aktivitas lainnya menggunakan perahu penyeberangan. Namun saat musim kemarau ketika air mulai surut, perahu pun tidak bisa digunakan lagi. Sehingga anak-anak sekolah dan warga sekitar terpaksa terjun ke sungai untuk dapat melintas.

“Saya apresiasi sekali. Meskipun lokasi ini bukan akses utama, tapi ini yang paling banyak digunakan warga. Ini menghubungkan Pasaleman dan Waled. Mudah-mudahan lancar dan tidak ada kendala,” ungkapnya. (dri)