Juhanda Sempat Ketemu Noordin M Top di Panawuan

DIBONYOK WARGA: Juhanda, warga asal Ciniru, Kab Kuningan, yang diduga menjadi pelaku pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda.FOTO: SAIPUL ANWAR/KALTIMPOST

SOSOK Juhanda cukup dikenal di desanya. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Juharta dan Juharnah, penduduk RT 09/02, Dusun Manis, Desa Bunigeulis, Kecamatan Hantara. Pelaku lahir dan besar di Bunigeulis dan merantau ke Jakarta setelah lulus SMK swasta di kota Kuningan. Di ibukota, Juhanda bekerja sebagai pedagang asongan, dan setiap tahun pulang kampung pas Hari Raya Idul Fitri. Pekerjaan sebagai pedagang asongan itu dilakoni Juhanda sampai tahun 2007.

Kepala Desa Bunigeulis, Didi Yosefa membenarkan jika Juhanda merupakan warganya yang lahir di desa tersebut. Namun sejak tahun 2014 lalu atau selepas bebas bersyarat dari Lapas Tangerang, Juhanda sudah bukan lagi warga Bunigeulis lantaran sudah mengajukan surat pindah.

“Juhanda atau akrab dipanggil Kendo merupakan warga kami. Kedua orang tuanya, serta adik-adiknya ada di Bunigeulis sampai sekarang. Namun di tahun 2014, Kendo mengajukan surat perpindahan. Yang datang ke balai desa dan mengajukan surat permohonan pindah adalah orang tuanya. Kendo sendiri masih di Tangerang,” jelas Didi diamini Sekretaris Desa Bunigeulis, Inar

Rusdinar kepada Radar yang mengambanginya, kemarin sore (14/11).

Didi mengaku kaget ketika melihat tayangan di televisi yang menampilkan wajah Juhanda, pelaku aksi bom molotov di area parkir di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur. Dia tak asing dengan wajah Kendo karena sejak kecil sering bertemu. “Begitu lihat telivisi, saya kaget. Kemudian disebutkan juga oleh penyiar kalau pelaku kelahiran Ciniru, Kabupaten Kuningan. Ternyata dia memang berasal dari Desa Bunigeulis,” terang Didi.

Inar menambahkan, selama ini dia sangat mengenal pribadi Juhanda atau Kendo. Sebab sejak SD sampai SMP satu sekolah, kemudian berpisah ketika melanjutkan ke SMA. Menurut Inar, dirinya merupakan kakak kelas Kendo beda dua tahun, dan sering main bersama. “Dari kecil sampai SMK, saya sering bertemu dengan Kendo. Yah namanya satu desa, pasti sering bertemu. Tak ada yang aneh dalam diri Kendo. Sama seperti yang lainnya. Anaknya juga rajin, dan tak pernah membantah perintah orang tuanya. pokoknya tidak ada yang ganjil dari sikap Kendo,” terang Inar.

Seingat Inar, Kendo pulang terakhir kali ke desanya di tahun 2007. Setelah tahun itu, dia tidak pernah lagi bertemu. Hubungan antar orang tuanya dengan Kendo juga seperti terputus karena Kendo tidak pernah menghubungi orang tuanya. “Saya masih ingat, tahu-tahu di tahun 2011, ada surat dari kepolisian yang memberitahukan kalau Juhanda terlibat kasus bom buku  di Puspitek Serpong Tangerang. Jadi, ketemu langsung dengan Kendo itu tahun 2007. Orang tuanya juga sudah pasrah,” papar Inar yang menjabat sekdes Bunigeulis.

Sementara itu, sumber Radar menyebutkan Juhanda sebenarnya sudah cukup lama bergaul dengan kelompok radikal. Itu jauh jauh sebelum dia bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 Juli 2014, dan terseret kasus teror bom Puspitek di Serpong, Tangerang Selatan, dan bom buku di Jakarta pada 2011.

Juhanda juga ditengarai sempat datang ke sebuah hotel di Panawuan ketika gembong teroris, Nordin M Top ketika melakukan rapat di hotel tersebut bersama Saepudin Juhri dan Ibrohim, sebelum tahun 2010. Tugasnya saat itu hanya mengantar orang kelompok tersebut ke hotel menggunakan sepeda motor, tidak lebih dari itu.

Menurut sumber itu, Juhanda awalnya hanya sekadar ikut-ikutan di kelompok Noordin M Top yang saat itu merencanakan untuk melakukan pengeboman di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. “Ketika itu ia hanya menjadi pengangkut orang menggunakan motor. Istilahnya orang yang disuruh-suruh. Selepas kejadian bom JW Marrriot dan Ritz Cralton, dia kemudian tidak ada di Kuningan. Kabarnya di Tangerang. Dia termasuk salah satu orang yang dianggap hilang. Ada beberapa warga Kuningan yang sampai ini belum kembali sejak tahun 2005,” ujar sumber itu. (ags)