Jusuf Wanandi: Harmoko, Akbar dan Ginanjar Pengkhianat

Breaking news, Nasional, Slide

JAKARTA-Salah satu pendiri Centre for Strategic and International Studies ( CSIS ) Jusuf Wanandi meluncurkan buku berjudul “Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998”, bulan Februari 2014. Jusuf Wanandi sebagai orang dalam di lingkaran politik itu yang berpuluh tahun bekerja dengan para penasihat utama Presiden, membuka tabir gelap masa itu. Dari hari pertama usaha kudeta PKI pada tahun 1965 hingga invasi Timor Timur dan hubungan Soeharto yang kompleks dengan RRC, PKI, dan para aktivis politik Muslim, Jusuf Wanandi menceritakan beberapa peristiwa dalam sejarah modern Indonesia yang paling dramatis dan yang paling sulit dimengerti umum berdasarkan pengetahuannya tentang apa yang terjadi di belakang layar dan dari pengalaman hidupnya.

Terungkap sangat jelas di halaman 387, Jusuf Wanandi menceritakan pertemuan antara Soeharto dengan mantan Panglima Leonardus Benyamin Moerdani atau L.B.Moerdani atau sering dipanggil Moerdani. Pertemuan itu berlangsung di rumah salah seorang putera Soeharto,Sigit yang diatur oleh Tutut. Cerita ini bermula setelah lengsernya Soeharto, Mei, 1998, tepatnya beberapa bulan setelah itu pada 15 Desember 1998.

“Ben, bagaimana ini bisa terjadi. Apa sebenarnya yang terjadi.” Lengsernya Soeharto dari tampuk kepresidenan, bagi Soeharto sendiri seakan-akan tak percaya, sehingga beliau bertanya kepada Benny Moerdani.

Satu setengah jam pembicaraan tersebut. Benny Moerdani mengatakan sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi;” Kami adalah dasar dari kekuasaan Bapak, tetapi Bapak tidak lagi percaya kepada kami dan malah lebih percaya Habibie dan ICMI dan semua pembantu Bapak, Harmoko, Ginanjar Kartasasmita, Akbar Tandjung, ternyata pengkhianat. Ini salah besar. Lihat apa yang terjadi, militer pun sekarang sudah semakin hijau di bawah Faisal Tandjung karena Bapak tidak percaya kepada saya. Bapak tidak percaya kepada ABRI, walaupun kami selalu mendukung Bapak dan setia.”

“Kita harus melihat sejarah negara itu secara keseluruhan dan tidak secara sedikit demi sedikit,” kata Jusuf saat peluncuran bukunya, “Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998”.

Bagi Jusuf, peristiwa sejarah harus diceritakan kembali oleh orang-orang yang mengalaminya langsung.

Sementara, sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) Anhar Gonggong memuji buku Jusuf dan usahanya untuk menceritakan kembali beberapa saat-saat penting dalam sejarah negara itu terlepas dari kekurangan. “Buku ini akan memperluas perspektif pembacanya, karena beberapa fakta hanya diketahui oleh hanya segelintir orang , ” kata Anhar .

Anhar mengatakan bahwa beberapa konten dalam buku Jusuf dapat membantah beberapa “fakta” yang disajikan oleh orang asing, termasuk sutradara Joshua Oppenheimer film “The Act of Killing”.

Senada dengan Anhar, Pegiat Intelijen Bondan Wibisono, film the Act of Killing dapat menjadi cermin untuk introspeksi, namun bukan rujukan kebenaran sejarah. Tidak perlu risau bagaimana film tersebut “mendiskreditkan” potensi-potensi positif bangsa Indonesia yang saat ini demokratis, menjunjung tinggi HAM, dan giat membangun bangsa baik melalui good governance di dalam negeri maupun bisnis yang handal di dunia internasional. (wb)