Kasus Adi Saputra: Jika Anda Pengemudi Emosional, Ini Wajid Diwaspadai

Masih ingat, pria bernama Adi Saputra meluapkan emosinya dengan merusak Honda Scoopy, Kamis pagi (7/2/2019). Lalu,  ia membakar STNK. Kali ini muncul kabar baru mengenai, pria tersebut menangis sesegukan sembari mencium tangan Bripka Oky, petugas Satlantas Polres Tangerang Selatan (Tangsel) yang menilangnya.

“Maafin saya pak, saya minta maaf,” ujar Adi Saputra, sembari nangis sesegukan mencium tangan Bripka Oky di Mapolres Tangsel, Jumat (8/2/2019).

 

 

 

 

 

Jika melihat perilaku Adi dari video yang beredar, kuat diduga ia tergolong pengemudi emosional yang mengidap Intermittent Explosive Disorder (IED): ketidakmampuan seseorang dalam menahan emosinya sehingga meluapkannya dengan cara marah-marah sambil menyerang orang lain atau merusak barang-barang.

IED termasuk dalam kategori gangguan kontrol impuls. Kondisi ini ditandai dengan tingkat agresivitas yang melonjak ketika berada dalam situasi tertekan. Pengidapnya merasa situasi tersebut telah “menyerang” sisi psikologisnya, sehingga ia butuh meledakkan kemarahan yang segera diikuti dengan kelegaan. Setelah itu, pengidap akan menyesal atau malu dengan kelakuannya tersebut. Secara umum, ledakan kemarahan berlangsung kurang dari 30 menit, serta bersifat impulsif alias tidak direncanakan.

Perilaku IED cenderung muncul sejak akhir masa kanak-kanak atau remaja. Gangguan emosional ini acap mendahului — dan mungkin menjadi predisposisi — kelainan depresi, kecemasan, dan berujung dengan penyalahgunaan zat terlarang. Situs Psychology Today
memperkirakan 2,7 persen dari populasi warga dunia mengidap gangguan IED. Sebagian besar adalah pria muda dan riwayat kemarahannya sering mengakibatkan kecelakaan lalu lintas.

Kebanyakan orang dengan gangguan IED tumbuh dalam keluarga yang mengalami perilaku eksplosif dan pelecehan verbal. Jika sejak kanak seseorang mengalami kondisi tersebut, amat mungkin baginya menunjukkan sifat yang sama ketika dewasa. Terlepas dari itu, masih ada pengaruh lain terkait komponen genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anak-anak. Dengan kata lain, kombinasi dari faktor biologis dan lingkungan adalah penyebab utamanya.

Untuk mengatasi gangguan IED, pengidap dapat menjalani sesi terapi (melalui sesi konseling kelompok atau teknik relaksasi). Sementara dengan pengobatan medikal, pengidap dapat mengonsumsi obat antidepresan, maupun obat penenang yang mampu meredam gejala kecemasan dalam jangka pendek seperti benzodiazepine.

Dalam “The Psychology of Driving”, Geotac–perusahaan swasta yang fokus dalam bidang manajemen armada global dan pelacakan kendaraan, atau dikenal sebagai industri telematika–menjabarkan lima tipe pengemudi yang wajib Anda waspadai: (1) Pengemudi yang mudah terdistraksi; (2) Pengemudi agresif; (3) Pengemudi emosional; (4) Pengemudi yang baru bisa membawa kendaraan; dan (5) Pengemudi yang kelelahan.

Pengendara yang mudah terdistraksi seringkali mengalihkan pandangan dari jalan untuk mengecek gajet, mengganti saluran radio dengan intens, atau melakukan tugas lain yang mengganggu fokus saat berkendara. Berdasarkan penelitian dari jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), pengemudi jenis ini memiliki risiko kecelakaan dua kali lebih besar dari pengendara lain. Sebab itulah, mereka harus melatih fokus ketika berkendara. Sekadar memelankan laju kendaraan saat melakukan kegiatan lain tidaklah cukup.

Jenis kedua, pengendara agresif, kerapkali mempercepat laju kendaraan, mengubah jalur, lalu berbelok kesana-sini demi tiba ke lokasi yang mereka tuju secepat mungkin. Tentunya gaya mengendara seperti ini memiliki konsekuensi mengerikan. Berdasarkan riset dari tim Life Hacker,ngebut sama sekali tidak membantu Anda tiba lebih cepat. Sebab upaya mewujudkan efisensi semacam itu hanya dapat hadir dari bagaimana cara Anda melakukan manajemen waktu.

Sebagaimana penamaannya, pengemudi tipe emosional adalah mereka yang membiarkan gejolak emosinya mengambil alih keputusan rasional saat berkendara. Pengemudi tipe ini jamak ditemui di jalanan kota besar, ditandai dengan kebiasaan mereka yang suka memaki atau mengkonfrontasi pengendara lain (termasuk dengan cara menabrakkan kendaraan secara sengaja) hingga berujung keributan.

Dikutip dari artikel yang dirilis DMV–perusahaan penyedia jasa di Amerika yang membantu pengendara menyelesaikan urusan administratif di departemen kendaraan bermotor (semacam Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap atau Samsat di Indonesia)–, berjudul “Road Rage: How To Deal With It”, ada sekian cara untuk mengatasi perilaku agresif dalam berkendara: menepi sejenak ketika emosi mulai tidak stabil, putar musik yang menyenangkan, tarik nafas dalam-dalam, lalu ingatlah konsekuensi apa saja yang dapat menimpa Anda jika menuruti kemarahan tersebut.

Tipe pengemudi yang baru bisa membawa kendaraan cenderung akan lebih suka “show off” hingga mengakibatkan memiliki risiko tinggi kecelakaan. Riset yang dilakukan tim House Research & State Demographic Center tahun 2014 mengenai pola mengemudi pada orang berusia 20-an, 40-an, dan 60-an menunjukkan bahwa pengemudi berusia 20-an kerap kali berkendara di posisi paling pinggir untuk kecepatan tinggi, dibandingkan para pengemudi “veteran” yang cenderung lebih konservatif dan berhati-hati.

Pengemudi tipe ini diharapkan dapat memahami pentingnya cara berkendara yang mengutamakan keselamatan atau Defensive Driving Skills. Hal ini ditandai oleh tiga poin: visibilitas (waspada dengan kendaraan lain di sekitar), ruang (perhatikan celah untuk menghindari kecelakaan di jalanan), dan komunikasi (bantu pengemudi lain dengan memberitahu jika Anda ingin berbelok, melakukan manuver, atau hendak melaju kencang).

Tentu sulit untuk mengetahui apakah pengemudi di kendaraan lain tengah dalam kondisi kelelahan atau tidak. Namun demikian, Anda dapat mengasumsikan dari tipe kendaraannya. Truk besar sudah pasti menempuh rute jarak jauh dan itu artinya, sang pengemudi memiliki peluang paling tinggi untuk diduga sedang berada dalam kondisi kelelahan. Demikian pula dengan angkutan umum.

Berdasarkan keterangan Kepala Subdirektorat Penegakkan Hukum Ditlantas Polda Jabar, Matrius, yang dilansir Pikiran Rakyat menunjukkan, tingkat kecelakaan yang melibatkan angkutan truk dalam kurun waktu 2016-2017 cukup tinggi, yakni sebanyak 20% dari total kecelakaan. Sementara dalam hal pelanggaran lalu lintas dalam kurun waktu yang sama, baik angkutan maupun truk hanya tercatat melakukan 2% pelanggaran dari seluruh total keseluruhan. (*)