Kecamatan Kroya Calon Kuat Ibu Kota Indramayu Barat

Raih Nilai Tertinggi dari Hasil Kajian Tim Unpad

Ilustrasi-Pemekaran-Wilayah
Ilustrasi-Pemekaran Wilayah

INDRAMAYU-Kecamatan Kroya menjadi calon kuat ibu kota daerah persiapan Kabupaten Indramayu Barat (Inbar). Kecamatan paling selatan di wilayah eks Kawedanan Kandanghaur ini dinilai memenuhi kriteria sebagai lokasi pusat pemerintahan kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Indramayu.

Hal ini terungkap dalam pemaparan laporan akhir hasil kajian calon lokasi ibu kota daerah persiapan Kabupaten Inbar yang disampaikan Tim Lembaga Penelitan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, di Ruang Ki Tinggi Setda Indramayu, Senin (8/7).

Selain Kroya, ada tiga kecamatan lainnya yang masuk nominasi sebagai calon ibu kota daerah persiapan Kabupaten Inbar. Yaitu Kecamatan Gabuswetan, Haurgeulis dan Kandanghaur. Namun diantara ketiganya, Kecamatan Kroya meraih peringkat tertinggi yakni 4,01. Disusul Kecamatan Gabuswetan yang mendapat skor 3,95. Kemudian, Kecamatan Haurgeulis 3,45 dan Kecamatan Kandanghaur 3,42.

Pantauan Radar Indramayu, pemaparan itu dihadiri Asisten Pemerintahan (Asda I) Setda Indramayu Drs H Jajang Sudrajat, Anggota DPRD Kabupaten Indramayu Drs H Muhaemin, para kepala SKPD, camat dan Panitia Pembentukan Kabupaten Indramayu Barat (PPKIB).

Pemaparan laporan akhir hasil kajian calon lokasi ibu kota daerah persiapan Kabupaten Inbar disampaikan oleh ketua tim LPPM Unpad Bandung Prof Dr H Nandang Alamsah Deliamor SH MHum beserta sejumlah anggota. Diantaranya Dr R Widya Setiabudi Sumadinata, SIP SSi MT MSi (Ahli Teknik Modeling dan Simulasi), Drs Moch Zainuddin MAP (Ahli Kesejahteraan Sosial), Drs Asep Rachlan (Ahli Antropologi).

Dan Dr R Anang Muftiadi SE MSi (Ahli Ekonomi). Kemudian Dr Drs Slamet Usman Ismanto MSi (Ahli Administrasi Publik) Ari Ganjar Herdiansyah SSos MSi PhD (Ahli Politik), Dr Novie Indrawati Sagita SIP MSi (Ahli Pemerintahan), Ir Romeiza Syafriharti MT (Ahli Tata Ruang) dan Kolonel Laut Drs H Sony Sondiamond MSi (Ahli Keamanan).

Dalam paparannya, Prof Dr H Nandang Alamsah Deliamor SH MHum menjelaskan, pembentukan daerah otonom merupakan bagian dari pelaksanaan prinsip desentralisasi, yang menjanjikan kemanfaatan dan kesejahteraan kehidupan masyarakat di tingkat lokal, meningkatkan efisiensi dan efektivitas administrasi pemerintahan nasional dan mengaktualisasi representasi lokal.

Sehingga, rencana pembentukan Kabupaten Indramayu Barat ialah bagian dari upaya desentralisasi. Penentuan ibu kota daerah persiapan menjadi hal yang penting dalam pembentukan suatu daerah otonomi baru (DOB).

Dalam melaksanakan tugasnya, tim LPPM Unpad Bandung menggunakan dasar kajian merujuk Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Penataan Daerah sebagai aturan pelaksanaan Pasal 55 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Tujuannya, lanjut Nandang, untuk memperoleh indikasi calon ibu kota Kabupaten Inbar dilihat dari kondisi geografis, kesesuaian dengan rencana tata ruang, ketersediaan lahan, kondisi sosial, budaya, dan sejarah.

Kemudian  untuk mengetahui kondisi politik dan keamanan, aksesibilitas calon lokasi ibu kota daerah persiapan Kabupaten Inbar dengan memperhatikan keterjangkauan pelayanan masyarakat.

“Kami melakukan beberapa tahapan pelaksanaan kajian mulai dari menyusun kerangka pikir, kerangka metode, mengumpulkan data awal, data lanjutan, mengolahnya, diskusi dan pembahasan kemudian finalisasi laporan,” tuturnya.

Kriteria penentuan ibu kota seperti dalam draf RPP memiliki bobot berbeda berdasarkan tingkat kepentingannya. Proses pembobotan dilakukan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Tim sendiri melakukan kajian terhadap 10 kecamatan yang masuk wilayah Kabupaten Inbar. Hasilnya, pembobotan kriteria menggunakan AHP peringkat 4 tertinggi calon lokasi Ibu Kota Kabupaten Inbar adalah Kecamatan Kroya, Gabuswetan, Haurguelis dan Kandanghaur.

Tak hanya mengkaji lokasi calon ibu kota, pihaknya juga melakukan pemetaan indikasi pengembangan kawasan di wilayah Inbar. Misalnya wilayah Kecamatan Sukra dapat dikembangkan menjadi kawasan industri lantaran dekat dengan pelabuhan internasional dan PLTU I dan II.

Kecamatan Kandanghaur berpotensi menjadi kawasan sentra perikanan, pertanian, kuliner, dan wisata budaya Pantura. Kecamatan Gabuswetan pengembangan kawasan pendidikan, Kecamatan Haurgeulis menjadi pusat perdagangan dan jasa.

Sementara, Kecamatan Kroya selain sebagai pusat pemerintahan juga bisa dijadikan kawasan ekonomi penunjang Jawa Barat karena posisinya dekat dengan akses Tol Cipali dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka. Usai pemaparan, laporan akhir hasil kajian calon lokasi ibu kota daerah persiapan Kabupaten Inbar diserahkan kepada Pemkab Indramayu diwakili Asda I Setda Indramayu Drs H Jajang Sudrajat. (kho)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait