Kecanduan Gadget Bisa Kurangi Rasa Empati

ILUSTRASI GADGET
ILUSTRASI GADGET

CIREBON- Perkembangan teknologi membuat masyarakat sulit lepas dari gadget. Celakanya, sebagian masyarakat benar-benar tidak bisa lepas dari gadget baik saat sendiri ataupun sedang berkomunikasi dengan orang lain.

Psikologi, Rini S Minarso SE SPsi MPsi mengungkapkan phubbing merupakan istilah di mana seseorang sibuk menggunakan atau bermain gadget dan mengabaikan orang yang ada di hadapannya. Inilah salah satu pola anti sosial yang terjadi saat ini.

Fenomena phubbing dianggap sebagai fenomena negatif, karena pelaku mengabaikan orang lain untuk fokus melakukan hal receh pada gadget seperti membalas komentar teman di sosial media.

“Meski secara resmi belum dapat dikatakan sebagai gangguan prilaku, namun phubbing dapat merusak jika dibiarkan,” terangnya.

Fenomena ini tak hanya terjadi pada usia remaja. Namun di semua tingkatan usia. Jika phubbing dibiarkan maka akan menumpulkan rasa empatis, mengurangi kemampuan sosialisasi, dan cenderung menjadi apatis serta egois (menang sendiri).

Bukan hanya berakibat fatal pada interaksi atau hubungan antar teman atau kolega, namun hal ini juga bisa berdampak buruk contohnya pada hubungan interaksi pada orangtua dan anak.

“Interaksi yang minim anatara anak dan orangtua akan membuat komunikasi juga terhambat dan menyebabkan tidak adanya kedekatan antara mereka. Dan itu memungkinkan hal-hal yang mestinya dapat dilakukan dan diatasi bersama juga tidak ada,” jabarnya.

Sementara itu, meski gadget bisa memicu fenomena phubbing di masyarakat, Dosen Sosiologi FISIP Unswagati, Nuruzzaman MSi menuturkan meningkatnya arus komunikasi dan teknologi menyebabkan generasi milenial mengurangi interaksi formal.

Mereka justru memilih menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain gadget terutama di media sosial. Hal ini pun akhirnya mengurangi angka kekerasan dan kenakalan remaja.

“Pada satu sisi bisa mengurangi tingkat kekerasan, tapi di sisi lain harus diingat teknologi informasi bisa berdampak buruk kalau mereka tidak dapat literasi yang baik,” jelasnya.

Sebanyak 75 persen waktu yang dimiliki generasi milenial ini dihabiskan dengan memandang gadget yang mereka milik. “Dengan ketergantungan ini, maka tuntunan, gaya hidup milenial kini dipengaruhi oleh media sosial,” tuturnya.

Lanjutnya, dengan adanya fenomena ini, semua elemen memiliki tugas untuk memberikan pemahaman atau literasi bagi generasi milenial.

Meski telah menghindari dari kekerasan, dunia maya bisa saja menimbulkan efek doktrin, ujaran kebencian, dan hoax mana kala generasi milenial tak memiliki literasi yang baik dalam memanfaatkan teknologi. (apr)