Kejutan Kompas: Prabowo Sandi Unggul, Jarak Jokowi-Prabowo Menipis Jadi 11,8 Persen

Pasangan capres/cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi unggul di Jawa Barat+Banten (Jabar+ Banten) dan DKI Jakarta sebulan sebelum digelarnya pemilu presiden 2019. Sementara pasangan dengan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf unggul di Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah+DI Yogyakarta (Jateng+DIY).

Berdasarkan hasil survei Kompas terbaru yang dirilis, Rabu (20/3/2019) elektabilitas pasangan Prabowo-Sandi di Jabar+Banten mencapai 47,7% unggul dari pesaingnya, Jokowi-Ma’ruf  yang hanya  42,1%. Demikian pula di DKI Jakarta, pasangan nomor urut 02 unggul dengan elektabilitas 47,5% sementara kompetitornya pasangan urut 01 hanya 36,3%.

Selisih suara di antara kedua pasangan menyempit menjadi 11,8 persen.

Pada survei Litbang Kompas sebelumnya, Oktober 2018, perolehan suara keduanya masih berjarak 19,9 persen dengan keunggulan suara di pihak Jokowi-Ma’ruf.

Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen, Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, dan 14,7 responden menyatakan rahasia.

“Bersandar pada kedua periode hasil survei itu, dapat dikatakan momentum penguasaan politik enam bulan terakhir cenderung mengarah pada Prabowo-Sandi,” tulis peneliti Litbang Kompas, Bestian Nainggolan, seperti dikutip dari harian Kompas, Selasa (20/3/2019).

“Sekalipun elektabilitas mereka masih tertinggal, hasil survei ini menunjukkan, dari Oktober 2018 hingga kini terjadi peningkatan hingga 4,7 persen atau rata-rata mendekati 1 persen setiap bulan. Sebaliknya, pada momen sama, rival politik mereka cenderung menurun hingga 3,4 persen,” lanjut dia.

Survei ini dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak melalui pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error +/- 2,2 persen.

Dengan jarak ketertinggalan yang terpangkas, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berpeluang memperluas celah ruang penguasaan politik pemilu.

Satu bulan jelang Pemilihan Presiden 2019, menunjukkan persaingan yang semakin kompetitif di antara kedua pasangan calon. Sebagai penantang, pasangan Prabowo-Sandi relatif masih tertinggal. Namun, dalam kurun enam bulan terakhir, berbagai upaya yang dilakukan pasangan itu mampu menekan penguasaan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Hasil survei opini publik Litbang Kompas, hingga awal Maret 2019, mengonfirmasikan peta persaingan politik yang semakin ketat. Survei kali ini, dengan 2.000 responden yang tersebar di 500 desa dan kelurahan terpilih, menunjukkan tingkat keterpilihan Prabowo-Sandi menjadi 37,4 persen. Pasangan Jokowi-Amin menguasai 49,2 persen. Masih ada 13,4 persen yang belum menentukan pilihan dan yang merahasiakan pilihannya.

Jika hasil survei diekstrapolasikan dengan menyisihkan kelompok responden yang belum bersikap dan memperhitungkan potensi ketidakakuratan dalam penentuan sampel penelitian (margin of error), penguasaan Prabowo-Sandi berkisar 41,0-45,4 persen. Di sisi lain, pasangan Jokowi-Amin ada di kisaran 54,6-59,0 persen. Dengan demikian, bersandar pada hasil survei ini, jarak elektabilitas yang terbangun sekitar 13 persen atau di atas selisih proporsi suara di antara kedua calon presiden saat Pemilu 2014 (6,3 persen).

Meski demikian, masih mengutip harian Kompas, Edisi Selasa (20/3/2019) berjudul Momentum Prabowo Sandi, Bestian Nainggolan mengungkapkan perlawanan politik Prabowo-Sandi tampak agresif. Hasilnya, jika dibandingkan dengan survei periode enam bulan sebelumnya (Oktober 2018), capaian Prabowo-Sandi saat ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada survei Oktober 2018, dengan sampel 1.200 responden di 300 desa dan kelurahan, sebanyak 32,7 persen responden memilih Prabowo-Sandi. Pasangan Jokowi-Amin menguasai 52,6 persen. Selebihnya (14,7 persen) belum menentukan pilihan atau merahasiakan pilihannya.

Bersandar pada kedua periode hasil survei itu, dapat dikatakan momentum penguasaan politik enam bulan terakhir cenderung mengarah pada Prabowo-Sandi. Sekalipun elektabilitas mereka masih tertinggal, hasil survei ini menunjukkan, sejak Oktober 2018 hingga kini terjadi peningkatan hingga 4,7 persen, atau rata-rata mendekati 1 persen setiap bulan. Sebaliknya, pada momen sama, rival politik mereka cenderung menurun hingga 3,4 persen.

Setidaknya tiga indikasi yang menopang besaran dukungan ke Prabowo-Sandi. Pertama, jika sebelumnya pendukung Prabowo-Sandi cenderung bertumpu pada kalangan menengah ke atas, pada survei kali ini penguasaan kalangan menengah atas itu makin solid. Prabowo-Sandi tidak hanya berhasil menjaga basis pendukung kalangan menengah ke atas, tetapi juga memperluas kuantitas dukungan dari karakteristik kelompok itu.

Pada sisi kategori pendidikan responden, misalnya, mereka yang berpendidikan menengah ke atas tampak semakin bertumpu pada Prabowo-Sandi. Saat ini, proporsi terbesar dari kalangan berpendidikan tinggi (46,1 persen) memilih Prabowo-Sandi. Pada survei sebelumnya, hanya 38,4 persen. Mereka yang berpendidikan menengah juga meningkat dibandingkan dengan survei sebelumnya.

“Kondisi demikian paralel dengan kategori sosial ekonomi responden. Jika pada survei sebelumnya ada 34,5 persen responden berkategori sosial ekonomi menengah memilih Prabowo-Sandi, kali ini menjadi 40,5 persen. Pada kalangan atas, dari sebelumnya 32,6 persen menjadi 41,9 persen,” tulis peneliti Litbang Kompas, Bestian Nainggolan.

Menurutnya, sekalipun tidak terlalu masif, perluasan dukungan terhadap Prabowo-Sandi juga tampak di kategori responden lapis bawah sosial ekonomi. Di kalangan ini, mereka mampu meningkatkan dukungan dari 28,9 persen menjadi 32,5 persen. Perluasan penguasaan Prabowo-Sandi pada kalangan bawah diikuti kecenderungan penurunan pesaingnya dari 56,8 persen menjadi 51,9 persen.

Latar belakang pekerjaan responden juga menguatkan indikasi perluasan ataupun penurunan dukungan. Pada kelompok pekerja formal, karyawan swasta dan PNS/BUMN meningkat dukungannya terhadap Prabowo-Sandi. Penguasaan mereka terhadap kelompok pekerja nonformal, seperti petani, nelayan, ataupun wirausaha, yang selama ini menjadi basis kekuatan pesaing, juga meningkat.

Ketiga, perluasan dukungan terhadap Prabowo-Sandi juga ditopang oleh loyalitas dan agresivitas para pendukungnya. Pemilih Gerindra, PKS, Demokrat, dan PAN semakin loyal dan terfokus pada Prabowo-Sandi. Di antara keempat partai itu, hanya PAN yang terkecil. Sebanyak 63,2 persen pemilih PAN memilih Prabowo-Sandi. Namun, proporsi itu masih relatif lebih besar dibandingkan dengan besaran loyalitas dukungan para pemilih partai pesaingnya.

Hasil survei juga menunjukkan, tulis Bestian Nainggolan, pendukung Prabowo-Sandi lebih aktif dan militan. Ekspresi dukungan pemilih pasangan ini tak hanya ditunjukkan dengan sekadar mengikuti pemberitaan terkait pasangan dukungannya. Mereka juga lebih banyak bereaksi dalam membela sosok pilihan mereka jika terdapat informasi yang dipandang merugikan. Bahkan, dari sisi pengorbanan materi, para pemilih Prabowo-Sandi lebih banyak yang menyatakan siap memberikan sumbangan.

Memiliki basis dukungan kalangan menengah ke atas yang disertai dengan kadar militansi yang kuat jadi modal terbesar Prabowo-Sandi. Persoalannya, dalam sisa waktu satu bulan ke depan, apakah momentum peningkatan elektabilitas Prabowo-Sandi mampu membalikkan kondisi persaingan?

Secara matematis, apabila tidak terjadi arus perubahan politik yang luar biasa dalam waktu yang tersisa, tren peningkatan elektabilitas yang dibangun Prabowo-Sandi masih belum cukup kuat membalikkan kondisi kemenangan.

Namun, perbandingan dari kedua hasil survei ini membuktikan, ruang penguasaan belum sepenuhnya tertutup. Masih ada celah penguasaan politik sejalan dengan penurunan proporsi dukungan dari lapis menengah ke bawah yang selama ini jadi basis kekuatan dukungan pesaing politik mereka. Dengan momentum yang tengah berpihak, jika hingga satu bulan mendatang strategi Prabowo-Sandi merembet sekaligus efektif menguasai pemilih kalangan menengah ke bawah, ruang penguasaan politik makin dekat terjamah. (*)