Kekeringan, Warga Cirukem Buat Sumur di Pinggir Sungai

MANFAATKAN-AIR-SUNGAI
Musim kemarau warga Desa Cirukem, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan, memanfaatkan air sungai untuk mandi, cuci dan kakus (MCK). Foto: M Taufik/Radar Kuningan

KUNINGAN – Musim kemarau panjang masih menjadi mimpi buruk bagi warga Desa Cirukem, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Seperti yang sekarang terjadi, warga kembali harus menggantungkan kebutuhan air bersih untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) sekaligus untuk minum dari aliran sungai terdekat.

Setiap pagi dan sore, warga berbondong-bondong mendatangi aliran Sungai Ciawi Balekambang di desa tersebut yang mulai mengering untuk mandi dan lainnya. Meski terlihat jernih, namun tidak dijamin kebersihan air tersebut mengingat sepanjang aliran sungai tersebut juga terdapat tumpukkan sampah bahkan tak sedikit warga yang buang hajat di sana.

Untuk kebutuhan air bersih, sejumlah warga memilih membuat sumur galian di bibir sungai tersebut dan menyedotnya dengan pompa air. Bagi yang tidak mampu secara finansial mengingat biaya pembuatan sumur yang cukup mahal, mereka memilih memanfaatkan air kubangan hasil rembesan aliran sungai dan mengangkutnya menggunakan ember.

“Bikin sumur biayanya mahal, beli mesin pompa, paralon ditambah ongkos tukang sudah berapa? Untuk kebutuhan air minum, terpaksa memanfaatkan air kubangan ini nanti di rumah diendapkan hingga beberapa jam, baru kemudian dimasak,” ungkap Raswa, warga Desa Cirukem yang tengah mengangkut air dari kubangan air sungai kepada Radar, kemarin.

Untuk menjangkau sungai tersebut, Raswa dan warga yang lain harus menempuh perjalanan hingga 500 meter. Raswa mengaku, kegiatan mengambil air di sungai untuk minum tersebut menjadi rutinitas setiap pagi dan sore sejak sumur di belakang rumahnya mengering sekitar dua bulan yang lalu.

“Sehari bisa dua hingga tiga kali ke sungai. Paling ramai biasanya pagi hari saat warga akan beraktivitas dan sore hari untuk mencuci,” kata Raswa.

Menurut Raswa, kondisi kekeringan seperti ini merupakan hal yang selalu terjadi setiap musim kemarau tiba. Program Pamsimas hasil bantuan pemerintah yang pembangunannya rampung tahun 2017 pun ternyata belum dirasakan manfaatnya oleh warga di saat musim kemarau seperti sekarang.

“Program Pamsimas yang memanfaatkan mata air Cikeusik hanya menjangkau warga di sekitar kantor desa saja, itu pun saat kemarau seperti sekarang tidak keluar air karena sumbernya pun surut. Warga masih harus antre untuk mendapatkan air bersih dari penampungan air milik masjid desa. Sedangkan untuk mandi dan cuci harus ke sungai,” kata Raswa.

Atas kondisi tersebut, Raswa maupun warga Desa Cirukem yang lain sangat berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mengatasi masalah air bersih di desanya. (fik)

Berita Terkait