Kemendagri Data ASN Meninggal Akibat Gempa-Tsunami Sulteng

KONDISI-PASCA-TSUNAMI-PALU_NURHADIFAJARJPG_FajarKORBAN: Ribuan korban meninggal akibat gempa dan tsunami di Palu. Foto: Dok. Nurhaidi/Fajar

JAKARTA – Sebanyak 110 aparat diutus Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Mereka sudah tiba di Sulawesi Tengah (Sulteng) lalu disebar di lokasi-lokasi terkena dampak gempa dan tsunami yang telah menelan korban 1.558 jiwa (data per 4 Oktober 2018 pukul 18.06 WIB).

Selain tim dari Kemendagri, juga dibantu Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) dari Manado dan Makassar. Kehadiran mereka di lokasi bencana tak lain untuk memastikan penyelenggaraan pemerintahan tetap berjalan untuk melayani korban bencana, khususnya di Palu, Donggala, Sigi dan beberapa daerah lainnya. Itu menjadi tugas pokok Kemendagri dalam penanggulanangan bencana tersebut.

“Memang tugas pokok kita dalam penanggulangan bencana ini sesuai dengan tugas pokok Kemendagri. Bagaimana dalam masa tanggap darurat ini memastikan penyelenggaraan pemerintahan tetap berjalan,” kata Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri), Bahtiar saat dikonfirmasi Fajar Indonesia Network (FIN), Kamis (4/10).

Tim yang dikirim juga selain membantu proses pemerintahan tetap berjalan, juga ikut memotivasi para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi korban dalam tragedi yang terjadi pada Jumat (28/9). Seperti diketahui, banyak juga ASN yang mungkin saat ini tengah mencari keluarganya atau bahkan kehilangan anggota keluarga.  Olehnya itu, tim yang hadir di lokasi juga akan memotivasi para ASN yang menjadi korban agar bisa semangat lagi.

“Kita kan tahu bahwa banyak aparat kita yang juga menjadi korban. Mereka disatu sisi harus melaksanakan tugasnya, dan disisi lain harus melihat keluarganya atau mencari keluarganya. Kemudian diantara mereka juga banyak yang jadi korban,” tambahnya.

Pihaknya juga saat ini tengah melakukan identifikasi terhadap jumlah ASN yang menjadi korban. Baik yang luka-luka maupun meninggal dunia. Identifikasi ASN yang bertugas di Provinsi Sulteng, Palu, Sigi, Donggala dan daerah lainnya terus dilakukan pendataan. “Kami sekarang lagi proses identifikasi berapa jumlah korban pegawai. Jumlahnya semoga dalam waktu dekat sudah dilaporkan, saat ini tim juga lagi bekerja untuk itu,” ujarnya.

Selain itu juga, pihaknya tengah mendata jumlah infrastruktur pemerintahan yang mengalami kerusakan. Misalkan kantor-kantor lurah yang hancur nantinya akan dibangun tenda-tenda darurat untuk melayani masyarkat. Untuk personil yang melakukan pelayanan tetap dari pemerintah daerah. Pihak Kemendagri hanya melakukan pendampingan dalam proses pelayanan.

“Infrastruktur pemerintahan juga sementara didata berapa banyak yang mengalami kerusakan. Tapi yang tetap melayani nanti pemerintah deaerahnya, kami hanya melakukan pendampingan. Kalau misalnya kantor lurah tidak ada bisa bikin tenda supaya masyarakat bisa terlayani, Pak Mendagri memang cepat sekali langkahnya dalam tanggap darurat di Sulteng,” paparnya.

Selain bantuan yang datang dari Kemendagri, dukungan juga berdatangan dari pemerintah daerah lainnya. Bahkan, ada yang mengutus tenaga teknis seperti dokter, perawat hingga guru. Termasuk partisipasi bantuan yang disalurkan melalui pihak swasta. “Kalau untuk tim dari Kemendagri nanti akan digilir, per satu minggu diganti, ada juga yang dua minggu. Dari Pemda lain selain membantu uang, makanan, minuman juga ada tenaga medis,” pungkasnya.

Mendagri Tahjo Kumolo sendiri lanjut Bahtiar, dalam waktu dekat akan kembali menuju ke Sulteng untuk memantau langsung perkembangan jalannya pemerintahan. Namun, untuk saat ini dikarenakan masih adanya jadwal yang harus dihadiri, Tjahjo masih melakukan pemantauan dan menunggu laporan tim yang ada di lokasi.

“Pak menteri juga sudah mengagendakan untuk kembali memantau langsung ke lokasi. Tapi untuk saat ini masih menunggu laporan dari tim. Karena ada schedule yang sudah terjadwal jadi saat ini masih menunggu laporan dulu,” tutupnya. (hrm/fin)