Kenaikan Suku Bunga Belum Redam Pasar, BI Intervensi Valas dan Borong SBN

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo.

JAKARTA- Penaikan suku bunga acuan hingga 50 basis poin (bps) pekan lalu belum mampu meredam gejolak di pasar keuangan. Nilai tukar rupiah masih tertekan. Berdasar kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah kemarin berada di level Rp 14.418 per USD atau merosot 87 poin dari sehari sebelumnya Rp 14.331 per dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus melakukan serangkaian langkah stabilisasi. Tidak hanya melalui kebijakan suku bunga, tetapi juga lewat intervensi untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai.

Otoritas moneter juga melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. “Asing belum masuk cukup besar, maka perlu intervensi valas oleh BI. Kalau ada investor asing menjual SBN-nya, BI akan membeli SBN dari pasar sekunder,” jelasnya.

Perry menambahkan, BI kini menunggu respons pasar atas kebijakan suku bunga. Dia berharap, kenaikan bunga acuan bisa membuat imbal hasil di pasar keuangan tetap menarik bagi investor asing.

“Kami harapkan investasi masuk juga ke SBN dan itu juga menambah suplai dari dolar dan menstabilkan rupiah,” jelasnya.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menuturkan, upaya intervensi oleh BI akan membikin cadangan devisa kembali terkuras. Dia mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Mei ini, cadangan devisa sudah berkurang USD 9 miliar. Salah satunya untuk intervensi rupiah.

Karena itu, dia menilai masalah utamanya berada pada respons BI dan pemerintah yang terlambat mengantisipasi perubahan dinamika global. Bhima menekankan, perang dagang dan kenaikan Fed rate sebenarnya bisa terbaca sejak 2015.

Tapi, antisipasinya baru dilakukan tahun ini dengan naikkan bunga acuan 100 bps pada dua bulan terakhir, yakni Mei dan Juni. Selain itu, pemerintah seharusnya membuat mitigasi berupa insentif pajak untuk sektor penguat devisa seperti ekspor dan pariwisata.

“Itu juga belum dilakukan. Akibatnya, kondisi fundamental ekonomi semakin jatuh. Kalau kondisi terus begini, akhir Juli sangat mungkin rupiah tembus Rp 14.700–14.800,” ujarnya kemarin.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menuturkan, mengatasi pelemahan rupiah juga harus dibarengi dengan upaya meningkatkan ekspor. “Tidak bisa diatasi hanya peningakatan (suku, Red) bunga, tapi bagaimana produktivitas yang menghasilkan dolar itu diperbanyak,” ujar JK di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin (3/7).

Dia menambahkan, pelemahan rupiah memang bisa dilihat dari dua sisi yang berbeda. Rupiah melemah memang berdampak kurang baik untuk sektor impor. Tapi, di sisi sebaliknya, ekspor tentu akan lebih menguntungkan karena barang dari Indonesia dijual ke luar negeri.

“Di daerah-daerah penghasilan barang ekspor kayak di daerah sawit, batu bara, udang, kopi, cokelat, itu semua menikmatinya,” tambah politikus berlatar belakang pengusaha tersebut. Sementara itu, di perkotaan dampaknya memang harga-harga barang bisa menjadi naik. “Jadi, rupiah yang melemah itu jangan lihat jeleknya saja,” tambahnya.

JK melanjutkan, yang terpenting adalah nilai tukar tidak terlalu fluktuatif. “Yang penting bukan hanya 14 (ribu, Red), tapi stabilitasnya di mana yang seimbang,” ujarnya. (ken/jun/c25/sof)