Kenapa harus “Eye Level”?

Eye Level
Ratusan pemenang Eye Level MUN Camp 2018, mendapatkan gratis pesawat, akomodasi dan belajar dengan PBB selama 7 hari ke Korea Selatan.FOTO: Eye Level

CIREBON-Tanpa terasa, Eye Level sudah memasuki tahun ke-tiga berada di Cirebon, dan telah membantu ratusan siswa Cirebon dalam meningkatkan prestasi mereka di sekolah, dan juga membangun daya berpikir kritis (critical thinking) mereka.

Eye Level menyediakan buklet dan alat peraga yang menarik, sehingga membantu para siswa untuk belajar sesuai dengan learning-style (gaya belajar) mereka masing-masing.

“Buklet kami yang full colour memotivasi para siswa visual untuk membaca dan memahami  soal-soal yang diberikan,” demikian menurut Debbie, Center Manager Eye Level Cirebon yang juga seorang Behavioral Consultant.

“Mayoritas pelajar itu visual, sehingga mereka cepat bosan dengan buklet yang monoton, sehingga mereka butuh gambar untuk mengerti suatu topik dan bersemangat untuk mengerjakannya,” tambahnya.

Siswa auditori dan kinestetik pun juga terbantu dengan adanya audio player, coaching 1:1, dan penggunaan alat peraga yang dapat disentuh dan dimainkan oleh siswa.

Eye Level memberikan pelajaran secara holistik atau menyeluruh, di mana siswa tidak hanya mendapatkan hard skill seperti aritmatika, aljabar, geometri, pengukuran, trigonometri; tapi mereka juga diajarkan soft skill seperti kreatifitas berpikir kritis, kedisplinan, kemandirian, dan kecintaan dengan belajar.

“Semua ini mempersiapkan para siswa untuk masa depan, toh ketika kuliah mereka harus bisa mandiri dan punya motivasi untuk belajar sendiri, tidak mungkin untuk kursus terus kan?” tambah Sarjana Matematika dan Computer Science dari University of Western Australia ini.

Berdasarkan obervasi dari mayoritas para siswa baru yang mengikuti diagnostic test, terdapat  learning-gap antara tingkat akademik di sekolah dan pemahamanan mereka yang sesungguhnya.

“Sangat di sayangkan sekali, ketika siswa kelas 5 SD datang, dan setelah kami diagnosa, bahwa ia masih sangat lemah dalam perkalian. Kelemahan ini akan terus berlanjut jika tidak ditangani dengan baik.

Siswa akan sulit mengerjakan soal cerita tentang luas, volume, atau  pecahan; karena perkaliannya belum lancar,” tukas Debbie.

“Early education sangat penting, alangkah baiknya pendidikan di mulai sejak usia 3 tahun, agar dapat memperkecil learning-gap, karena tidak semua siswa memiliki bakat dan minat yang sama pada logika (matematika), dan bahasa (English),” pungkasnya.

Eye Level mengukur penguasaan siswa melalui ketepatan dan kecepatan.

“Kami mengukur mastery (penguasaan) siswa melalui seberapa tinggi nilai dan seberapa cepat siswa mengerjakan bukletnya. Tidak hanya nilai tinggi tapi lama, atau cepat tapi banyak salah. Semuanya harus dipertimbangkan,” demikian katanya.

Tujuan utama Eye Level agar siswa menguasi semua materi, dan menjadi lebih depan dalam pelajaran  di sekolah mereka.

“Harus disiplin datang, dan mengerjakan buklet yang diberikan di centre maupun untuk PR. Orang tua juga harus terus mendorong siswa agar rajin mengerjakan PR, dan berkomunikasi dengan para instruktur, karena kami mau siswa kami maju dan berhasil,” ujar ibu dari dua anak ini.

Kurikulum Eye Level adalah hasil kerjasama Daekyo Korea dan Ohio State University; telah di terapkan di 18 negara termasuk Singapore, Australia, Malaysia, Hong Kong dan USA.

Para alumni lulusan dari program Eye Level Math dan English telah mengakui bahwa belajar di Eye Level sangat membantu mereka untuk di terima dan belajar di Universitas terkemuka di dalam dan luar negeri.

Hubungi Eye Level Cirebon di (0231)202172/ 081220099734 untuk coba gratis program-program di Eye Level sekarang  juga!