Khawatir Terjadi Krisis Pangan, HKTI Ajak Masyarakat dan Pemerintah Tidak Jual Lahan Pertanian Produktif

Ilustrasi
Ilustrasi

CIREBON-Alih fungsi lahan pertanian subur mulai marak. Banyak lahan pertanian berubah menjadi perumahan, industri, perkantoran, jalan, dan sarana lainnya. Padahal, potensi pengembangan sawah beririgasi relatif terbatas dan lahan kering yang memiliki tingkat produktivitas tinggi masih rendah.

Menyikapi kondisi itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon Tasrip Abu Bakar mengatakan, alih fungsi lahan pertanian memengaruhi produksi pangan. “Salah satu tantangan peningkatan produksi pertanian adalah berkurangnya lahan-lahan subur,” katanya pada Radar Cirebon.

Mengenai terus terjadinya alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran, Tasrip mengkhawatirkan, lambat laun akan terjadi kerawanan pangan. “Yang perlu dibangun mentalnya adalah para pemilik lahan pertanian harus menjadikan tanah miliknya itu sebagai harta yang tidak ternilai harganya, yang makin strategis ke depan. Menjualnya, walau dengan harga tinggi, sama saja menghabisi masa depan keturunannya,” tegas Tasrip.

Untuk itu, lanjutnya, lahan pertanian seharusnya menjadi kekayaan tak ternilai bagi masyarakat yang masih memilikinya. “Menjual tanah dan lahan pertanian itu lebih mudah. Tapi, setelah terjual, apakah mungkin masih akan kembali terbeli? Sementara, penduduk lain yang lebih cerdik melihat situasi, lebih suka mempertahankan lahan-lahan pertanian yang dimiliki,” tandasnya. (via)

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait