Kisah Nama Untung Surapati: Dari Perwira VOC Hingga Sultan Cirebon

Untung Surapati (Wikipedia)

Bocah rupawan itu dianggap membawa kemujuran bagi Tuan Moor. Karier perwira VOC ini melesat sejak si bocah tinggal di rumahnya. Pangkatnya yang semula kapten naik menjadi mayor. Bahkan, ia juga diangkat sebagai anggota Dewan Hindia (Raad van Indie) alias dewan penasihat Gubernur Jenderal. Kekayaannya pun meningkat pesat. Dari situlah, Moor sering memanggil lelaki kecil itu dengan nama Untung.

Dikisahkan Ratnawati Anhar dalam Untung Surapati (2012), Moor mendapatkan bocah itu dari rekannya sesama perwira kompeni, Kapten van Baber. Sejak usia 7 tahun, Untung mengabdi kepada keluarga van Baber setelah ditebus dari seorang penjual budak belian di Makassar (hlm. 18).

Sekitar 3 tahun kemudian, Untung terpaksa dijual kepada Moor karena van Baber harus sering berpindah-pindah tempat dinas. Untung pun diboyong Moor ke kediamannya di Batavia. Tugasnya adalah melayani putri kesayangan keluarga Belanda itu, Suzanne, serta membersihkan seisi rumah sekaligus sebagai tukang kebun.

Untung kerap terkagum-kagum setiap kali memandang kegagahan sang majikan dengan seragam militernya. Ia kini punya cita-cita: menjadi seorang tentara seperti Tuan Moor. Mimpi tersebut nantinya terwujud. Ia menjelma sebagai sosok prajurit pemberani. Si kecil pembawa nasib mujur itu kelak tersohor dengan nama Untung Surapati dan termasuk salah satu orang yang paling merepotkan VOC.

Anak lelaki yang oleh Moor diberi nama Untung itu ternyata berasal dari Bali. Ia lahir pada 1660 dengan nama Surawiroaji. Ada yang menyebut Surawiroaji berasal dari kalangan rakyat biasa. Namun, ada pula yang meyakininya masih memiliki darah bangsawan, bahkan keturunan raja-raja.

Tapi yang jelas, Surawiroaji melalui masa kecilnya sebagai budak belian. Waktu itu memang masih ada perdagangan manusia di Nusantara. Budak-budak diperjualbelikan untuk dipekerjakan di kebun, dijadikan pendayung kapal, dan sebagainya.

Hingga akhirnya, pada 1670, Moor mendapatkan Surawiroaji, yang kemudian dipanggilnya Untung, dan dibawanya pulang ke Batavia. Saban hari, Untung selalu melayani Suzanne, putri terkasih Tuan Moor, selain mengerjakan tugas-tugas lain.

Tumbuh besar bersama, meskipun berbeda “kasta”, Suzanne dan Untung saling jatuh cinta. Keduanya lantas menikah secara rahasia. Dikutip dari Betawi Queen of the East (2004) karya Alwi Shahab, Tuan Moor yang akhirnya tahu pun murka. Moor, yang saat itu sudah menjadi tokoh terhormat di pemerintahan, menginstruksikan aparat kolonial untuk menangkap Untung (hlm. 111).

Untung segera dibekuk dan dipenjara di Stadhuis (kini gedung Museum Sejarah Jakarta). Selama dibui, pemuda ini sering disiksa karena kelakuannya yang dianggap tak patut lantaran berani-beraninya mencintai, apalagi menikahi, seorang putri pejabat tinggi, orang Belanda pula.

Beruntung, Untung bisa kabur dari tahanan berkat pertolongan Suzanne yang diam-diam melepaskannya. Sejak saat itu, kebenciannya terhadap tentara Belanda memuncak. Ia bertekad akan membalas segala perlakuan mereka terhadapnya, selain masih sakit hati karena dipisahkan secara paksa dengan istri Belanda-nya yang cantik.

Untung, yang kini sudah berusia 20 tahun, meluapkan kemarahannya dengan kerap membikin onar di pinggiran Batavia. Sasarannya adalah aparat VOC atau orang-orang yang dekat dengan pemerintah Hindia Belanda. Untung pun harus pintar-pintar bergerak karena menjadi buruan aparat kolonial.

Pada 1683, seperti dikisahkan Uka Tjandrasasmita dalam Sejarah Jakarta dari Zaman Prasejarah sampai Batavia (1977), VOC menyerang Kesultanan Banten dan memenjarakan Sultan Ageng Tirtayasa di Batavia hingga wafat. Putranya, Pangeran Purbaya, lolos dan lari ke Gunung Gede (dekat Bogor) untuk berlindung. Ia bersedia menyerahkan diri, tetapi hanya mau dijemput oleh perwira VOC dari kalangan pribumi (hlm. 96).

Sementara itu, Untung, mantan budak Tuan Moor yang dianggap kurang ajar itu, masih dikejar-kejar aparat kolonial dan akhirnya bisa ditemukan. Ditawarilah Untung pekerjaan baru ketimbang harus menjalani hukuman, yaitu menjemput Pangeran Purbaya.

Tawaran itu diterima. Ia kemudian dilatih ketentaraan oleh militer VOC, bahkan diberi pangkat letnan dalam tempo yang relatif singkat. Setelah beres, Untung bersiap untuk melaksanakan misinya, menuju ke Gunung Gede.

 

Untung akhirnya menemui Pangeran Purbaya yang bersedia ikut untuk diserahkan kepada VOC. Dalam perjalanan, serdadu-serdadu Belanda pimpinan Vaandrig Kuffeler memperlakukan sang pangeran dengan kasar. Untung tidak bisa menerima perlakuan itu.

Situasi memanas karena Kuffeler juga menghina Untung. Buku Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi (1988) yang ditulis Sagimun Mulus Dumadi menceritakan, Kuffeler mencibir Untung, menyebutnya tetap saja budak dan buronan VOC (hlm. 99). Kuffeler yang tidak sudi mengakui Untung sebagai perwira bahkan mengancam akan menjebloskannya ke penjara.

Cukup lama menahan diri, Untung akhirnya lepas kendali. Seperti diungkap Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudari dalam Catatan Masa Lalu Banten (1993), di tepi Sungai Cikalong (dekat Cianjur), pada 28 Januari 1684, pasukan Kuffeler dihancurleburkan oleh Untung. Tidak kurang 20 orang Belanda tewas dalam pertikaian itu (hlm. 160).

Usai insiden berdarah tersebut, Pangeran Purbaya tetap ingin menyerahkan diri kepada VOC ketimbang timbul masalah yang lebih besar nantinya. Namun, istri pangeran, Raden Ayu Gusik Kusuma, justru meminta Untung mengantarkannya pulang ke Kartasura (dekat Solo). Raden Ayu Gusik Kusuma adalah putri seorang pejabat tinggi di istana dinasti Mataram itu.

Mereka berpisah jalan. Pangeran Purbaya dan para pengawalnya menuju benteng VOC di Tanjungpura (Karawang), sementara Untung beserta beberapa pengikutnya mengawal Raden Ayu Gusik Kusuma ke Kartasura. Dalam perjalanan panjang itu, cinta mulai bersemi. Sang istri pangeran ternyata menaruh hati kepada Untung, dan berbalas.

Untung sempat menghadapi pasukan VOC lagi yang mengejarnya di bawah pimpinan Jacob Couper. Peristiwa itu terjadi di Desa Rajapolah, Tasikmalaya. Disebutkan R.P. Suyono dalam Peperangan Kerajaan di Nusantara (2003), pertempuran itu cukup seru. Untung kehilangan beberapa orang anak buahnya. Namun, kerugian di pihak Couper juga tak kalah sedikit, bahkan lebih parah (hlm. 74).

Demi keselamatan Raden Ayu Gusik Kusuma, Untung terpaksa melarikan diri. Orang-orangnya yang sudah hafal medan membuat rombongan ini bisa lepas dari kejaran meskipun Untung kini kembali menjadi buronan aparat kolonial.

Perjalanan dilanjutkan. Untung berniat mampir ke Cirebon sekaligus menghadap sultannya karena Kesultanan Cirebon berhubungan baik dengan Mataram, tempat asal Raden Ayu Gusik Kusuma. Namun, kedatangan Untung ternyata tidak disukai oleh anak angkat sultan yang bernama Raden Surapati.

Raden Surapati dikenal sebagai sosok pangeran yang sangat angkuh dan sering bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat. Ia mencegah rombongan Untung masuk ke istana dan terjadilah pertengkaran sengit. Raden Surapati bahkan menyerang kepribadian dan masa lalu Untung yang pernah menjadi budak. Apalagi Untung adalah buronan VOC.

Kericuhan itu baru mereda setelah Sultan Cirebon mengetahuinya dan turun tangan. Sultan memutuskan Raden Surapati bersalah dan dianggap telah mencemarkan nama kerajaan karena tindakannya terhadap Untung. Ratnawati Anhar menuliskan, bahkan sultan menjatuhkan hukuman mati untuk anak angkatnya itu (hlm. 58). Nama Surapati pun diberikan kepada Untung. Sejak saat itulah, nama Untung Surapati mulai dikenal.

Setelah mendapatkan restu dari Sultan Cirebon, rombongan Untung Surapati meneruskan perjalanannya ke timur. Namun, pergerakan Untung diketahui VOC. Kembali dipimpin oleh Jacob Couper, pada 6 Oktober 1684, terjadi pertempuran di perbatasan Jawa bagian barat dengan tengah itu. Sekitar 50 orang dari pihak Untung tewas.

Lantaran kekuatan dan senjata yang tidak seimbang, Untung Surapati menginstruksikan kepada pasukannya untuk mundur. Mereka lolos berkat bantuan dari Kesultanan Cirebon dan berhasil memasuki wilayah kekuasaan Mataram dan bergegas menuju Kartasura.

Singkat cerita, tibalah rombongan Untung Surapati di Istana Kartasura yang saat itu diperintah Amangkurat II (1680-1702), cucu Sultan Agung. Ayah Raden Ayu Gusik Kusuma, Patih Nerangkusuma, adalah sosok yang sangat anti-VOC. Ia pun merestui pernikahan Untung dengan putrinya yang telah memutuskan berpisah dengan Pangeran Purbaya dari Banten.

Patih Nerangkusuma langsung terpikat kepada Untung setelah mendengar laporan dari bupati-bupati bawahan Mataram tentang sepak-terjangnya selama perjalanan menuju Kartasura. Ia pun tidak ragu-ragu mengajak Untung untuk bersama-sama memerangi musuh yang sama-sama mereka benci, yakni kompeni Belanda.

VOC mendesak kepada Amangkurat II agar menyerahkan Untung Surapati. Amangkurat II menyanggupinya. Tapi, itu ternyata hanya taktik yang dirancang Patih Nerangkusuma bersama Untung Surapati.

Pasukan kompeni pun berangkat ke Kartasura. Kali ini, komandannya adalah Kapten Francois Tack, perwira senior VOC yang pernah terlibat dalam penumpasan gerakan Trunojoyo yang dianggap memberontak kepada Mataram. Tack juga terlibat dalam penaklukan Kesultanan Banten.

Sampai di Kartasura tanggal 8 Februari 1686 menjelang siang, Kapten Tack yang memimpin lebih dari 200 serdadu memasuki istana dengan percaya diri karena yakin Untung akan ketakutan melihatnya.

Ternyata, Kapten Tack masuk jebakan. Anak buah Untung Surapati membuat kebakaran hebat di sekitar istana. Pasukan VOC pun panik dan terperangkap. Selain itu, pasukan Untung juga membakar sebagian bangunan kraton untuk mengesankan seolah-olah Amangkurat II ikut menjadi sasaran serangan, agar VOC tidak curiga.

Pertempuran hebat pun terjadi di halaman kraton. Korban berjatuhan di kedua pihak. Untung Surapati kehilangan 75 anak buahnya. Sementara dari kubu VOC sebanyak 79 orang tewas, termasuk Kapten Tack.

Peristiwa ini cukup menggetarkan kompeni. Sejarawan Hermanus Johannes de Graaf dalam Terbunuhnya Kapten Tack: Kemelut di Kartasura Abad XVII (1989) bahkan menyebut, “pembunuhan Kapten Francois Tack merupakan salah satu peristiwa yang paling mencolok dalam sejarah VOC” (hlm. 1).

Amangkurat II kemudian memerintahkan Untung Surapati ke Pasuruan untuk menyerang salah satu wilayah Mataram di Jawa bagian timur itu. Kedoknya seolah-olah Untung melawan Mataram, agar Belanda tak curiga. Setelah merebut Pasuruan, seperti dituturkan Joko Darmawan dalam Sejarah Nasional “Ketika Nusantara Berbicara” (2017), Untung Surapati mendeklarasikan diri sebagai pemimpinnya dengan gelar Adipati Aria Wiranegara (hlm. 36).

Pada 1702, Amangkurat II wafat dan digantikan putranya, Amangkurat III. Raja baru ini langsung terlibat perseteruan dengan pamannya, Pangeran Puger. Amangkurat III kabur ke Pasuruan, meminta perlindungan Untung Surapati.

Sementara itu, pada 1706, VOC menggerakkan armada perang ke Pasuruan. Dalam pertempuran sengit di Bangil, Pasuruan, pada 17 Oktober 1706, peruntungan Untung berakhir. Ia terluka parah, terpaksa mundur, dan akhirnya gugur. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Untung meminta kepada para pengikutnya agar merahasiakan kematiannya.

Namun, pada 18 Juni 1707, kuburan Untung ditemukan pasukan VOC yang sedang mencari keberadaan Amangkurat III di Pasuruan. Makam itu lalu dibongkar, jasad Untung dibakar, dan abunya dibuang ke laut.

Kendati begitu, para pengikut setia Untung, yang kebanyakan terdiri dari orang-orang campuran Jawa dan Bali, masih sering melibatkan diri dalam berbagai aksi perlawanan terhadap VOC. Begitu pula dengan putra-putranya, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga. Maka, pada 1723, mereka ditangkap kompeni dan diasingkan ke Srilanka agar tidak merepotkan lagi.

Sepak terjang Untung Surapati yang berkali-kali membikin murka Belanda ini sangat melegenda. Melalui Surat Keputusan Presiden RI tertanggal 3 November 1975, Untung Surapati ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. (*)