Kisah Pemilik Nama Pangeran Soka, Pangeran Karangkendal, dan Syarif Syam

Makam Syekh Magelung

SEBUAH riwayat misteri yang memiliki tokoh-tokoh memikat, ketegangan yang menarik, dan teka-teki yang membuat Anda terus membacanya. Namun, menulis riwayat misteri yang menarik merupakan hal yang rumit, terutama jika Anda belum pernah melakukannya.

Apalagi menulis tokoh besar yang memiliki banyak nama dan julukan. Syekh Magelung Sakti alias Syarif Syam alias Pangeran Soka alias Pangeran Karangkendal alias Mama Gelung alias Rama Gelung alias Pangeran Remagelung alias Syekh Gelung, bukanlah perkara mudah.

Berdasarkan Babad Cirebon Syekh Magelung Sakti berasal dari negeri Syam (Syria), dengan panggilan Syarif Syam.  Ia adalah putra dari Sayyid Abdurrahman Ar rumi bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Barakat zainul Alam.

Berbagai versi menyelimuti asal-usul, dan riwayat perjalanan tokoh ini.

Ada yang menyatakan dari Syam, ada pula yang berpendapat bahwa ia berasal dari negeri Yaman, dan ada juga yang menyatakannya berasal dari Mesir. Disebutkan, ia berguru ke beberapa ulama terkenal, Syeikh Dzatul Ulum di Libanon, Syeikh Attijani di Yaman bagian Selatan, Syeikh Qowi bin Subhan bin Arsy di Beirut, Syeikh Assamargondi bin Zubair bin Hasan di India, Syeikh Muaiwiyyah As- Salam, di Malaita, Syeikh Mahmud, di Yerussalem, Syeikh Zakariyya bin Salam bin Zaab di Tunisia, Syeikh Marwan bin Sofyan Siddrul Muta’alim di Campa.

Kemudian, dikisahkan Syarif Syam bertemu Resi Purba Sanghyang Dursasana Prabu Kala Sengkala, diperbatasan selat Malaka, dan sampailah ke pantai utara Cirebon, di Karangkendal, Kapetakan (± 19 km sebelah Utara Cirebon). Di sana, Syarif Syam diangkat anak oleh Ki Tarsiman atau Ki Krayunan atau Ki Gede Karangkendal, bahkan disebut pula dengan julukan Buyut Selawe, karena mempunyai 25 anak dari istrinya bernama Nyi Sekar. Karenanya, Syarif Syam dikenal pula dengan nama Pangeran Karangkendal.

Dalam kesehariannya, Syarif Syam selalu menggelung (melilit dan mengikat seperti sanggul konde) rambutnya layaknya seorang resi. Karenanya, Syarif Syam dikenal pula dengan nama Mama Gelung atau Rama Gelung atau Pangeran Remagelung atau Syekh Magelung. Suatu ketika, ia diceritakan bertemu seorang nelayan tua yang tengah membawa jala (jaring), di tepi sungai kecil. Saat, Syarif Syam membelakangi nelayan tua yang tengah menyentuh rambutnya, tak terasa ternyata rambutnya telah terpotong dan jatuh ke tanah. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Karanggetas.

Ia merasa bahwa nelayan tua itulah sosok yang dicarinya. Syarif Syam menyatakan “Suka” dan “Lillahi ta’ala” di tepi sungai kecil itu. Karenanya, sungai itu kini bernama Kali Sukalila. Ia kemudian dikenal pula dengan nama Pangeran Sukalila atau Pangeran Soka atau Jaka Soka.

Halaman: 1 2