Kokain: Narkoba Favorit Kalangan (Tidak) Orang-Orang Kaya

Kokain mahal, tapi tidak untuk orang-orang kaya. Sebagian berprinsip tiada pesta tanpa narkoba. Candu dan kenikmatan itu mengalir dalam darah mereka.

Apa yang menghubungkan antara Richard Muljadi, Steve Imannuel, Asisten Ivan Gunawan dan mantan pialang saham Jordan Belfort yang kisah hidupnya sudah difilmkan oleh Leonardo di Caprio dalam Wolf of Wall Street (2013)? Keduanya sama-sama pengguna narkoba jenis kokain.

Kokain berasal dari daun koka, tanaman asal Amerika Selatan. Masyarakat adat Bolivia terbiasa mengunyahnya. Koka sempat jadi komoditas utama mereka, terutama pada era 1970-an. Perkembangan industri koka dalam sejarah Bolivia juga sampai melahirkan tokoh besar seperti Evo Morales.

Jauh sebelum kemunculan kartel narkoba, perlawanan negara terhadap pergerakan mereka, hingga acara televisi yang menyorot bahaya candu kokain, serbuk putih itu dipuja-pula oleh dunia medis sebagai obat penyembuh segala penyakit.

Dua tokoh legendaris yang bereksperimen dengan kokain menurut catatan Caleb Hellerman untuk CNN Health adalah ahli psikoanalis Sigmund Freud dan pionir dalam dunia bedah William Halsted.

Hellerman mewawancarai sejarawan Dr. Howard Markel yang mengatakan pada tahun 1884 Freud muda sedang dalam upaya melahirkan penemuan besar. Freud kemudian bertemu kokain, yang ia harapkan bisa jadi zat pembantu terapi bagi pecandu morfin, penangkal depresi, dan penyembuh gangguan pencernaan.

Upaya Freud tak mencapai hasil yang diharapkan. Ia justru kecanduan kokain berkontribusi terhadap menurunnya kondisi kesehatan di masa-masa tuanya.

Kisah Halsted serupa. Ia menginjeksikan kokain ke tubuhnya, ke beberapa orang kolega, dan sejumlah muridnya untuk menjajaki hipotesa: apakah kokain bisa menjadi obat penahan rasa sakit di saat operasi?

Hasilnya: bisa. Metodenya pun terus dikembangkan dan diwariskan hingga hari ini. Sayangnya, penemuan legendaris itu turut menyimpan risiko yang besar. Halsted jadi kecanduan kokain.

Saking parahnya, pada suatu hari ia tak mampu memimpin sebuah operasi, pulang ke rumah, dan tak kemana-mana selama tujuh bulan. Ia hanya mendekam di kamar dalam kondisi mabuk berat akibat tersengat efek kokain.

Ada banyak riset yang menjelaskan mengapa kokain mengandung candu yang tak main-main. Salah satunya adalah karya Cristoforo Pomara dan kawan-kawan dari Universitas Foggia, Italia, yang dipublikasikan di kanal Current Medicinal Chemistry pada 2012 silam.

Usai disedot melalui hidung, dihisap dalam bentuk asap, atau disuntikkan ke pembuluh darah dalam bentuk larutan, kokain secara instan menemukan jalannya ke titik yang bertanggung jawab atas kenikmatan di otak.

Hanya butuh hitungan detik untuk kokain membuat penggunanya mabuk selama 5-19 menit. Mereka akan mengalami halusinasi atas realita, perasaan bahagia yang intens, dan dorongan untuk melakukan hal-hal agitatif.

Pemakaian dalam jangka waktu sebentar atau dalam jumlah sedikit saja akan membuat pelakunya kecanduan. Sedangkan penggunaan dalam jangka panjang akan mengakibatkan kelelahan drastis, menurunnya kemampuan mencecap rasa nikmat, stroke, serangan jantung, infeksi darah, hingga kematian mendadak.

Masih mengutip data Pomara dan kawan-kawan, ada kurang lebih 14 hingga 21 juta pengguna kokain tiap tahunnya. Pada tahun 2013 pemakaian kokain telah membunuh 4.300 nyawa, naik dari angka 2.400 pada tahun 1990.

Risiko-risiko tersebut barangkali dianggap setara dengan kenikmatan yang dihasilkan. Pasar ilegal skala global untuk kokain pun secara menakjubkan dengan mencapai US$100-500 miliar per tahun. Ia adalah jenis narkoba yang paling populer untuk dikonsumsi setelah ganja.

Kembali ke laporan Hellerman, pada 1914 Kongres Amerika Serikat meloloskan undang-undang yang melarang konsumsi kokain selain untuk kepentingan medis. Status kokain sebagai barang haram dan hanya bisa ditemui di kongsi-kongsi ilegal pun bermula sejak era ini.

Maju di awal 1970-an, cerita-cerita soal pecandu kokain mulai berkurang. Namun tiba-tiba pada akhir dekade terjadi ledakan konsumsi kokain yang melampaui tingkat penggunaan untuk rekreasional era-era sebelumnya. Pihak di balik kebangkitan kokain ini adalah golongan elite berkantong tebal.

Hellerman mendapatkan cerita tersebut usai meminta pendapat Mark Kleiman, seorang profesor kebijakan publik di University of California, Los Angeles. Kleiman juga salah satu penulis buku “Drugs and Drug Policy: What Everynone Need to Know.”

“Untuk menjadi pengguna kokain pada tahun 1979 adalah menjadi kaya, trendi, dan modis. Orang-orang kala itu tidak merasa khawatir terkait kokain. Seperti sedang bukan menghadapi masalah nyata,” katanya.

Penggunaan kokain di kalangan pengusaha elite alias golongan bergaya hidup jetset terus bergulir hingga dekade 1980-an. Di masa inilah Jordan Belfort memulai bisnis saham manipulatifnya, meraup untung sebesar gunung, dan mulai bersahabat dengan kokain.

“Kokain: Kebiasaan buruk dari orang-orang kaya dan para pesohor,” demikian tajuk laporan Jackson Stiles untuk The New Daily sekitar empat tahun silam.

Stiles mewawancarai Elizabeth Enter, psikolog dan direktur The Sanctuary, klinik rehabilitasi premium bagi pecandu narkoba yang terletak di Byron Bay, Australia. Selama sepuluh tahun berada di klinik ia biasa menghadapi pasien berlatar belakang orang-orang kaya Australia dan seluruh dunia.

“Mereka menggunakan obat rekreasional dalam jumlah besar. Mereka mampu untuk membelinya. Kokain adalah amfetaminnya orang-orang kaya,” ujar Enter.

Para pasien Enter banyak yang sebelumnya bukan pecandu, tapi terseret aktivitas tersebut akibat berkumpul dengan orang-orang elite yang juga pecandu. Orang-orang ini bekerja di mana uang berputar dengan cepat, seperti bidang “real estate”, investasi, dan bisnis yang terkait pembangunan lain.

“Saat mereka pergi ke dunia bisnis da mereka berpesta, mereka akan mengonsumsi kokain. Ini bagian dari kultur. Mereka percaya hal tersebut menjernihkan pikiran mereka. Mereka merasa berkuasa. Mereka merasa sangat fantastik, dan mereka menikmati perasaan itu.”

Peter Guy dari South China Morning Post pernah menulis laporan perihal persahabatan bankir investasi AS dan kokain itu. Popularitasnya naik dan menyebar di kalangan eksekutif Wall Street yang dikenal sebagai pusat perekonomian Negeri Paman Sam.

American Psycho (2000) adalah film dengan tema serupa. Dalam film yang diadaptasi dari novel Bret Easton Ellis dengan judul yang sama itu, aktor Christian Bale berperan sebagai Patrick Bateman, bankir investasi super kaya yang tinggal di New York. Selain hobi pamer kartu nama, ia serta kawan-kawan seprofesi juga suka menyedot kokain.

Kelainan mental disertai penggunaan obat terlarang membuat Bateman melakukan hal-hal sadis. Peter Guy menyinggung hal ini untuk membahas Rurik Jutting, mantan wakil presiden ekuitas terstruktur, keuangan dan perdagangan di Bank of America Merrill Lynch (BAML).

Jutting dinilai punya latar belakang dan perilaku serupa Bateman. Jutting ditangkap atas kasus pembunuhan terhadap dua perempuan asal Indonesia, yang menurut laporan otoritas berwenang, ia jalani dengan sadis. Ia juga pecandu kokain serta pekerja elite kedua di BAML yang tersandung kasus serupa.

Guy menengarai problemnya ada pada budaya keserakahan yang mengakar kuat, persis dengan kelakuan Jordan Belfort dan teman-temannya di film Wolf of Wall Street. Kokain hanya jadi satu bagian sebagai pelengkap pesta. Kasus yang menyeret Richard Muljadi adalah contoh riil kesekian serta yang kebetulan terungkap.

Meski bukan eksklusif sebagai persoalan orang kaya, orang-orang dengan banyak uang mudah terpapar narkoba sebab mereka punya modal lebih untuk membelinya. Selain harus punya relasi khusus untuk memasok, narkoba jenis kokain dihargai tinggi karena statusnya sebagai industri ilegal.

Untuk itulah, menurut riset profesor psikologi Suniya Luthar dan kawan-kawan dari Arizona State University, remaja dari orang-orang tua kaya lebih rentan terhadap narkoba ketimbang remaja dari orang tua miskin.

Luthar dan kolega mempublikasikan temuannya pada akhir Mei 107 di Jurnal Development and Psychopathology. Sebagaimana dilaporkan ulang Live Science, mereka meneliti para responden usia 26 tahun untuk dicatat jejaknya selama remaja.

Hasilnya menunjukkan bahwa responden yang berasal dari kalangan menengah atau kemungkinannya 2-3 kali lebih tinggi menjadi pecandu narkoba dibandingkan dengan responden dari kelas ekonomi di bawahnya.

Luthar berupaya membuktikan anggapan bahwa candu narkoba marak di lingkungan orang miskin. Kemungkinan untuk tetap menjadi pecandu di kala si remaja sudah jadi orang sukses juga lebih tinggi. Termasuk kemungkinan untuk menjajaki narkoba jenis lain jika bosan dengan kokain.

Live Science kemudian bertanya tentang kemungkinan penyebab. Luthar menjawab bagaimana remaja kaya itu punya modal untuk membuat kartu identitas palsu untuk membeli alkohol. Harga narkoba yang tinggi juga bukan masalah bagi uang jajan yang dipasok secara berlimpah oleh orangtua.

Luthar juga menyatakan kemungkinan bahwa orangtua dari kelas menengah ke atas tidak terlalu mempermasalahkan kelakuan anaknya sebab pencapaian akademiknya masih baik. Kekayaan finansial pada akhirnya bak pisau bermata dua: lebih banyak modal untuk melindungi anak, tapi juga membuka kemungkinan lain yang lebih buruk, salah satunya terjerumus sebagai pemakai kokain. (*)