Kota Cirebon Butuh Destinasi Wisata Baru

Keraton menjadi destinasi wisata sejarah favorit di Cirebon saat mengisi liburan. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon
Keraton menjadi destinasi wisata sejarah favorit di Cirebon saat mengisi liburan. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon

CIREBON- Meski okupansi kota Cirebon meningkat dari tahun ke tahun, namun length of stay (LOS) wisatawan menurun. Bahkan sepanjang 2018, length of stay tamu tak sampai dua hari.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki (Kiki) menuturkan, sebagian besar wisatawa menghabiskan waktu bukan di Cirebon. Ia menyebutkan banyak wisatwan yang menghabiskan waktu liburannya di daerah kuningan.

“Misalnya wisatawan dua hari ke Cirebon. Di sini (Cirebon, red) hanya menginap semalam untuk kuliner dan oleh-oleh. Liburannya lebih banyak di Kuningan, karena di sana banyak daya tarik,” tuturnya.

Kurangnya daya tarik yang ada di Kota Cirebon dinilai sebagai penyebab LOS yang semakin menurun. Daya tarik di Kota Cirebon kini hanya cafe dan kuliner. Bahkan untuk membeli oleh-oleh saja, wisatawan lebih memilih membeli di Kabupaten Cirebon.

“Kalau cafe saja atau kuliner biasa, lama-kelamaan wisatawan tak bertambah. Karena sudah pasti cafe di kota mereka banyak,” jelasnya.

Lebih lanjut Kiki menjelaskan, kuliner sendiri bisa dibuat daya tarik asal dipadukan dengan baik. Misalnya menghadirkan wisata kuliner malam yang memanfaatkan jalan-jalan mati di malam hari seperti Pekiringan dengan mengadaptasi wisata-wisata kuliner seperti Braga Street.

“Kuliner tradisional jelas menjadi daya tarik bagi wisatawan luar,” ungkapnya.

Selain itu, Kiki berharap Pemerintah Kota Cirebon bisa membuat event berskala nasional. Pemerintah juga diharapkan membuat destinasi baru agar wisatawan bisa hadir bukan saja saat weekend.

“Dengan target dua juta wisatawan, pemerintah harus bisa membuat destinasi baru agar wisatawan terus berdatangan di weekdays sekali pun,” jelasnya. (apr)