Kuningan Minim Lapangan Kerja, Urbanisasi Masih Tinggi

mudik-(3)
Ilustrasi. Foto: dok. Radar Cirebon

KUNINGAN – Kota-kota besar terutama di Pulau Jawa, masih menjadi jugjugan tenaga produktif asal Kabupaten Kuningan. Setiap tahunnya terutama pasca Lebaran, ribuan angkatan tenaga kerja mengadu nasib di perantauan.

Selain sektor industri yang menjadi bidikan, banyak juga yang memilih untuk berdagang bersama kerabatnya. Tak heran jika bus jurusan Karawang, Bekasi, Jakarta, Tangerang dan Bogor disesaki warga Kuningan.

Lapangan pekerjaan yang minim di Kabupaten Kuningan, membuat tingkat urbanisasi cukup tinggi setiap tahunnya. Padahal mereka yang merantau itu mayoritas berada di usia kerja produktif. Mereka terpaksa harus berjuang di kota besar demi mencari sesuap nasi.

Ada di antaranya yang tidak memiliki bekal keterampilan apa-apa ketika memutuskan untuk menyambung nyawa di kota impian. Untuk bertahan di tanah kelahiran sendiri, mereka cukup sulit mengingat minimnya lapangan pekerjaan. Kemudian untuk bertani, para pemuda itu seperti asing dan enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya bergaul dengan lumpur.

Hampir saban tahun, ribuan warga Kota Kuda memilih merantau untuk mencari nafkah di luar daerah. Biasanya mereka berangkat pasca Lebaran juga kelulusan sekolah. Sejumlah kota besar di Pulau Jawa dan Sumatera hingga Kalimantan menjadi jugjugan warga usia produktif tersebut. Berbekal pendidikan yang minim, mereka berusaha menaklukkan kerasnya kota besar.

“Saat berangkat, saya tak peduli pekerjaan apa yang akan dilakukan nanti di kota besar itu. Yang penting saya bisa memperoleh uang dengan cara halal. Banyak teman saya yang akhirnya bekerja di pabrik-pabrik atau menjaga warung milik kerabat,” terang Dani, salah seorang pemuda yang hendak merantau ke Jakarta.

Untuk masyarakat Kuningan sendiri kebanyakan mereka bekerja di sektor informal seperti menjadi wirausaha di kota-kota besar terutama Jakarta, Bogor, Bekasi dan Depok. Bidang yang dipilih bagi kaum urban tanpa bekal keterampilan yaitu berdagang. Bermodal semangat, para tenaga produktif tersebut akhirnya menunggui warung kopi, bubur, atau mi instan.

“Tak ada pilihan lain kecuali menunggu warung. Mau melamar ke perusahaan tidak mungkin, soalnya saya hanya tamatan SD,” sebut Indra, remaja belasan tahun yang mengaku diminta saudaranya menjaga warung bubur di Jakarta.

Bukan hanya Indra saja yang mengharap mendapat rejeki dari kerasnya ibukota. Mungkin ribuan orang lainnya dari berbagai desa di Kabupaten Kuningan mengharapkan hal serupa.

Nyaris setiap pagi, banyak penumpang tujuan Jakarta menumpuk di beberapa titik yang dijadikan tempat mangkal bus jurusan Jakarta. Seperti di Rest Area Cirendang, depan Taman Cirendang, Pertigaan Cilowa, Pasar Kramatmulya, Pasar Induk Sadamantra, Panawuan, hingga bunderan Caracas.

Rehan (22), warga lainnya. Dia mengatakan, dirinya terpaksa berangkat ke Bekasi karena tidak ingin membebani orang tuanya. Usai tamat SMP, dia memutuskan mengikuti saudara menjaga warung jamu.

Sebenarnya, Rehan berniat untuk bekerja di pabrik namun karena hanya lulusan SMP, niat itu terpaksa dipendamnya. Keputusan untuk hengkang dari desanya disebabkan tidak adanya penghasilan saat tinggal di kampung.

“Di desa kami sudah menjadi tradisi usai tamat sekolah baik SMP maupun SMA, merantau ke berbagai kota lainnya. Hanya di kota besar yang akan memberikan penghidupan dan ini sudah terbukti turun temurun,” ujarnya.

Sekadar mengingatkan, Bupati Acep Purnama saat kampanye pilbup lalu menjanjikan 10 ribu lapangan pekerjaan selama lima tahun kepemimpinannya. Saat ini, janji tersebut berusaha ditepati Acep dengan mengizinkan investor menanamkan modalnya di Kabupaten Kuningan.

Salah satunya berdiri pabrik pulpen di Desa Sampora, Kecamatan Cilimus. Pabrik ini mampu menyerap lebih dari seribu tenaga kerja. Selain tenaga kerja, sektor ekonomi di sekitar pabrik juga mulai menggeliat.

“Sekarang kalau sore di sekitar pabrik pulpen, mulai ramai. Kalau bisa sih, ada lagi pabrik yang berdiri di Kuningan biar mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah banyak,” harap Nurohim, warga Cibuntu, Kecamatan Cigandamekar. (ags)