”Kupu-kupu” Pembawa Virus, Jaringan Dunia Maya Menghidupkan Prostitusi Online

CIREBON-Kupu-kupu terbang ke sana kemari. Membawa serta serbuk sari. Ia menjadi media, membuahi bunga-bunga yang mekar. Sore itu Sasa dan Sisi –bukan nama sebenarnya- menuntaskan pemotretan. Keduanya tak memakai jasa fotografer professional.

Di kamar hotel yang berada di jantung kota, duo gadis semampai ini bergantian difoto. Mengabadikan tubuh mereka dalam balutan pakaian dalam. Dimulai dari lingerie sampai hanya menggunakan bra dan g-string. Sesi pemotretan itu berlangsung “panas”. Keduanya berasal dari kota kembang. Dari Cirebon mereka akan bertolak kembali ke Paris van Java. Sebelumnya, mereka pasangan pengumuman di Twitter. “Expo Bandung, 27-29 Juli. Kuota 5 orang, hubungi WA 085864756xxx,” tulis Sasa.

Expo artinya ia membuka layanan ngamar. Tak sekadar status. Serangkaian foto disematkan. Hasil pemotretan yang dilakukannya di kamar hotel. Yang hasilnya sungguh ”sedap” dipandang. Sebuah akun yang menggunakan nama “Kupu-kupu” kemudian mengirimkan ulang foto sekaligus caption-nya. Respons pun berdatangan. Sasa sudah dapat kuota. Lima pemesan. Sekaligus jaminan di Bandung, ia bakal dapat uang.

Untuk jadi anggota Kupu-kupu ini tidak mudah. Ada serangkaian verifikasi yang dilakukan. Mulai dari mengirimkan foto asli, dan syarat lainnya. Tujuannya menghindarkan mereka melakukan penipuan. Sasa termasuk yang sudah terverifikasi. Sehingga foto kirimannya langsung tayang di media yang diberi keterangan oleh Twitter; Mengandung konten dewasa.

Tak lama berselang, akun lain saya temukan. Ia masih ada di Cirebon. Ini hari terakhirnya. Habis ini ke Jakarta, lalu pindah ke Surabaya. Dua hari di kota pahlawan, lalu bertolak ke Makasar. Tak sekadar bepergian. Konsumennya sudah terjadwal. Sudah ada yang memesan, sekaligus tanda jadinya. Minimal 2-3 tiga hari menginap di sebuah kota. Begitu seterusnya.

Gadis 21 tahun itu sedang menunggu di salah satu pool angkutan antar kota. Ia menunggu jadwal pemberangkatan yang tertera di tiket miliknya. Saya menemuinya di salah satu minimarket. Ia mengonfirmasi akun “Kupu-kupu” jadi sarana promosi. Dengan pengikut sampai 35 ribu, tentu sangat cepat mendapat respons yang diharapkan.

Sisil, sebut saja ia begitu, baru menuntaskan ”misi” nya di Cirebon. Sisil tak kalah ”panas” memamerkan foto-fotonya lewat Twitter. Itu dipakai untuk menarik pelanggan. Selain mengandalkan Twitter, ia juga memanfaatkan aplikasi chat dengan fitur geo lokasi. Di Cirebon, tiga pria hidung belang tuntas dilayani. Satu kali kencan Rp900 ribu.

Uniknya, prostitusi lewat Twitter ini harus disertai testimoni konsumennya. Setelah menggunakan jasa alter, konsumen akan mengirimkan review lewat pesan Whats App kepada gadisnya. Di situ tertera istilah-istilah yang familier di kalangan mereka. Face 8, Body 8, HJ 9, FJ, CIM 8, CIF 8, WOT 9. Silakan cari sendiri artinya.

Review itu menjadi gambaran kepuasan konsumen atas jasa si gadis. Face 8, sudah pasti cantik. Body 9 pastinya aduhai. Tangkapan layar dari konsumen itu nantinya akan diunggah ke Twiter. Pastinya, review itu bakal menarik mata-mata nanar mencoba Sisil. Sekaligus jadi pembuktian bahwa ia adalah alter real.

Istilah alter ini dipakai sebagai sebutan untuk mereka yang menjual jasa pemuas syahwat. Mereka bisa bebas berjualan sesuai mood. Sesuai kebutuhan mereka. Tidak setiap hari seperti pekerja seks komersial (PSK) yang ditampung di lokalisasi.

Bang Boy, yang mengaku sebagai pengamat alter independen punya definisi sendiri soal alter. Menurutnya, istilah itu berasal dari kata kerja dalam Bahasa Inggris. Artinya “mengubah”. Di dunia medsos, alter mengubah identitas dan karakter pemilik akun berdasarkan tujuan tertentu, yang berbeda dengan tujuan dan imej asli.

Alter kini ramai diperbincangkan di dunia maya. Ada banyak yang gentayangan di media sosial. Macam-macam pula layanannya. Ada live video chat, video bugil, hingga yang lebih intim. Review jadi alat untuk menangkis merosotnya kepercayaan konsumen kepada alter. “Mereka itu ngerusak alter real,” ucap Sisil.

Layanan video, telepon dan chat mesum, memang rawan penipuan. Hubungan intim jarak jauh ini tidak mempertemukan alter dan konsumennya. Sebagai tanda jadi, konsumen harus terlebih dahulu mentransfer kepada alter idamannya. Kisaran tarifnya Rp200-300 ribu. Tergantung kesepakatan. Setelah itu, baru layanan diberikan sesuai dengan jam yang disepakati.

Dari penelusuran Radar, tak sedikit sebetulnya yang jadi korban. Mereka mengaku di-block oleh alter bodong setelah transfer sejumlah uang. Di sini akun Kupu-kupu berperan. Ia turut menyebarkan screen shoot aduan, sekaligus akun yang diduga melakukan penipuan. Tujuannya sebagai bentuk advokasi, sekaligus menghindarkan konsumen lain dari alter bodong. Penipuan macam ini memang susah diadukan ke ranah hukum. Korbannya pasti malu membuat laporan.

Awalnya, saya menduga Kupu-kupu ini semacam perantara. Namun lewat keterangan dan deskripsi grup, persepsi ini dibantah pengelola akun. Ia menuliskan; Ini komunitas terdiri dari alter real. Kami saling sharing foto seksi demi kesenangan. Bercanda tawa dan saling mempromosikan. Kami tidak menawarkan keuntungan apapun. Misinya adalah membedakan akun alter asli dan palsu. Memberikan keakraban kepada sesama alter. Memecahkan masalah bersama-sama. Saling bantu dan saling mendukung.

Lantas kenapa berpindah-pindah kota? Membuka expo macam ini rupanya menjadi sensasi tersendiri. Konsumen tentu rela menantikan gadis pujaannya datang. Tak sedikit yang janjian untuk kembali melepas kangen ketika sang alter kembali berkunjung ke kotanya. Mereka menyebutnya RO (repeat order). Sementara dari sisi alter, cara ini membuat jejak mereka tidak mudah dilacak. Dengan berpindah-pindah, keamanannya lebih terjamin. Kemudian menyebarkan virus prostitusi online ke kota-kota lainnya. (yud)