Kurang dari 60 Siswa, Sekolah Bisa Dimerger

sekolahan dimerger
ILUSTRASI

CIREBON-Sekolah ini berdiri sejak tahun 1984. Dahulu siswanya banyak. Tiap pagi maupun jam pulang sekolah, siswa hilir mudik di selasar kelas. Di jam pulang sekolah, banyak angkutan kota ngetem di depan gerbang sekolah. Kebetulan, lokasi sekolah ada di jalan utama dan langsung dilewati berbagai kendaraan angkutan kota.

Secara fisik, terlihat ruangan kelas yang memadai. Sekolah ini telah terakreditasi A sejak lama. Sayangnya, “embel-embel” akreditasi itu seolah tak berguna. Tak menarik minat siswa untuk mendaftar. SMA Windu Wacana malah terancam di-merger.

Kepala SMA Windu Wacana Harwidiandini mengatakan, wacana penggabungan sekolah sesunggunya sudah santer terdengar sejak tahun lalu. Sekolah-sekolah yang siswanya kurang dari 60 siswa dari 3 angkatan kelas 10, 11 dan 12-nya akan diberlakukan merger. Terdengar lagi rencana ini akan diberlakukan di tahun 2020 nanti.

Baru-baru ini, siswanya dari 3 angkatan kelas sudah berjumlah 62 orang. Namun karena sejumlah siswa memilih keluar sekolah karena bekerja dan lainnya, sampai tahun lalu siswanya dari 3 angkatan kelas itu berjumlah sekitar 50 orang. “Mudah-mudahan bisa menambah, kami sangat berharap,” ucapnya.

Dia  tetap optimis akan mencapai target. Mengingat di wilayah Cirebon sendiri merger sekolah belum diberlakukan.  Meski begitu, dia pun mengakui belakangan kian sulit dapat siswa. Kondisi ini sudah terasa 4 atau 5 tahun terakhir.

Penurunan siswa begitu terasa. Khususnya ketika diberlakukan zonasi. Pilihan 1,2 dan 3 para siswa saat ini seluruhnya merupakan sekolah negeri. Sekolah swasta, seperti SMA Windu Wacana semakin tertinggal. “Ini  hampir dirasakan semua sekolah Swasta. Waktu pendaftaran sistem passing grade itu, siswa kami masih agak banyak,” tuturnya.

Dirinya juga mewanti-wanti pemerintah untuk tanggap mengawasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Jangan sampai ada penambahan rombongan belajar di sekolah negeri. Satu kelas harus diisi sebanyak 36 siswa. Sehingga siswa dapat merata-sangat merata hingga ke SMA swasta juga. “Memang harus ada kebijakan yang betul-betul. Sekolah negeri jangan sampai menambah rombel,” katanya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Windu Wacana Didi Mulyadi mengungkapkan, pendaftaran siswa di SMA swasta sebetulnya sudah dibuka dilakukan jauh sebelum PPDB sekolah negeri. Namun hasilnya belum terlihat. “Baru dapat 8 calon siswa. Targetnya sih 30 orang,” ucapnya.

Dengan target itu, jumlah siswa SMA Windu Wacana mestinya mencukupi syarat untuk tidak di-merger. Aturan dari dinas menjadi acuan untuk optimis mendapatkan siswa. Didi mengaku telah melakukan berbagai upaya.

Diantaranya dengan promosi-promosi ke sejumlah SMP, para guru SMA Windu Wacana juga membagikan brosur sekolah juga dengan promosi lewat media sosial seperti blog, facebook hingga instagram. Kemudian dilakukan juga promosi via alumni untuk mengajak kenalan ataupun sanak saudara. “Semoga upaya-upaya kita ini berhasil,” harapnya.  (myg)