Lagi, Dua TKW Hilang di Arab Saudi dan Jordania, Keluarga Minta Bantuan Presiden

Sari'ah memperlihatkan foto anaknya Kasiri yang sudah sepuluh tahun hilang kontak bekerja di Jordania. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
Sari'ah memperlihatkan foto anaknya Kasiri yang sudah sepuluh tahun hilang kontak bekerja di Jordania.FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Derita tenaga kerja wanita (TKW) dari Kabupaten Cirebon seperti tidak ada habisnya. Setelah TKW asal Desa Lungbenda, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, kini giliran Carmi (48) dari Desa Rawaurip dan Kasiri (30), warga dari Blok Carik, Desa Jagapura Lor, Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon.

Keluarga berharap, mereka bisa ditemukan dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Orang tua Carmi, Ilyas (85) dan Warniah (75) mengatakan, sudah 31 tahun Carmi tanpa kabar. Awalnya, anak sulungnya itu berangkat keluar negeri untuk membantu mengangkat perekonomian keluarga.

Dikatakan Ilyas, Carmi berangkat sekitar setahun setelah lulus SD. Saat itu umurnya sekitar 13 tahun. Keluarga, kata Ilyas, awalnya melarang, namun akhirnya tak bisa berbuat banyak karena tekad Carmi yang saat itu sudah bulat dan tidak bisa dilarang.

“Keluarga sebenarnya melarang. Saya pun tak kasih izin. Apalagi saat itu umurnya baru 13 tahun. Umurnya pun terpaksa dituakan agar bisa berangkat, yang tadinya kelahiran 1971, dituakan menjadi 1958, berangkatnya ke Arab Saudi. Berangkatnya sekitar tahun 1988,” ungkapnya.

Keluarga TKW asal Desa Rawaurip meminta bantuan pemerintah agar memfasilitasi pencarian terhadap Carmi yang sudah sekitar 31 tahun tidak pulang. FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON
Keluarga TKW asal Desa Rawaurip meminta bantuan pemerintah agar memfasilitasi pencarian terhadap Carmi yang sudah sekitar 31 tahun tidak pulang. FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON

Tujuh tahun pertama, kata Ilyas, komunikasi lancar. Meskipun tidak sering, namun Carmi kerap mengirim surat beberapa kali. Sampai akhirnya tidak ada lagi komunikasi dengan keluarga baik melalui telepon ataupun melalui surat.

“Saya terkahir kali telepon itu waktu di Jakarta, saya diantar warga datang ke PT nya. Disana saya diberikan waktu untuk telepon, bisa ngobrol dengan anak, tapi tidak lama. Katanya sehat dan baik disana. Katanya nanti mau kirim surat lagi, sekaligus mau kirim uang, paling lama sebulan setelah telepon, tapi sampai sekarang malah tak ada kabar,” tuturnya.

Diakuinya, segala upaya sudah dicoba. Dari mulai menggunakan jasa perantara, orang pintar, sampai harta bendapun terkuras habis agar Carmi bisa pulang. Namun, tidak ada yang membuahkan hasil.

Sementara itu, Warniah berharap anak sulungnya tersebut bisa segera ditemukan. Ia pun meminta bantuan pemerintah melalui Presiden Jokowi agar membantu pencarian Carmi. “Pak Jokowi, saya minta dibantu. Anak saya sudah 31 tahun tidak pulang. Minta dibantu agar bisa dipulangkan, kalau tidak ketemu sekarang takut tidak ada umur lagi,” ujar Warniah.

Terpisah, Ibunda Kasiri, Sari’ah mengaku, sudah hilang kontak dengan sang anak selama 10 tahun sejak bekerja di Jordania. Diungkapkan Sari’ah, putrinya berangkat ke Jordania sebagai TKW sejak 2009 silam. Namun, dirinya tidak mengetahui pasti nama penyalur jasa yang telah memberangkatkan Kasiri. Pasalnya, satu-satunya dokumen yang dimiliki dan di dalamnya juga berisi nama majikan beserta alamat, rusak akibat rumahnya bocor.

Lebih lanjut, dikatakan Sari’ah, setelah mendapat majikan di negara tujuan, komunikasi dengan Kasiri masih terjalin baik. Kasiri pun sempat menceritakan sikap majikan perempuannya yang kerap bertindak kasar. Akibat sikap majikannya itu, Kasiri sempat mengabarkan akan pindah majikan.

Setelah tiga bulan berlalu, Kasiri kembali mengabarkan keberadaannya yang sudah berada di rumah majikan baru. Sayangnya, di majikan barunya, Kasiri sering diperlakukan tidak senonoh. Kasiri pun ketakutan dan melarikan diri dari rumah majikan keduanya.

Menurut Sari’ah, putusnya komunikasi dirinya dengan Kasiri disebabkan karena handphone miliknya hilang. Selama tujuh bulan berada di dua rumah majikan, Kasiri sempat mengirimkan gajinya sebesar Rp6 juta.

Diakuinya, upaya untuk meminta Kasiri dipulangkan ke Indonesia sudah dilakukan keluarga. Dirinya sudah mencoba mendatangi PT yang memproses keberangkatan anaknya dan mendatangi BNP2TKI di Jakarta. Namun, hingga saat ini laporannya tidak membuahkan hasil.

Kini, Sari’ah berharap pemda melalui dinas terkait bisa memulangkan Kasiri seperti yang telah dilakukan terhadap Turini, mantan TKW asal Kecamatan Tengahtani yang 21 tahun disekap majikan. (dri/ade)