Lagi, TKI Cirebon Alami Masalah di Luar Negeri, Berangkat Usia 18 Tahun, 15 Tahun tanpa Kabar

Keluarga memperlihatkan foto Tuminah. Ia awalnya berangkat ke Kuwait, tapi belakangan diketahui dibawa ke Arab Saudi. FOTO:NURHIDAYAT/RADAR CIREBON

CIREBON-Nasib kurang baik kembali dirasakan buruh migran asal Kabupaten Cirebon. Tuminah, warga Desa Kalipasung, Kecamatan Gebang, tidak diketahui keberadaannya selama 15 tahun atau setelah keberangkatannya menuju Kuwait. Pihak keluarga masih menantikan kepulangan perempuan yang kini berusia 34 tahun itu ke kampung halamannya.

Kasiri, kakak kandung Tuminah mengungkapkan, sang adik awalnya berangkat ke Kuwait melalui PT Rahana Karindo Utama yang beralamat di Jl Olahraga, Condet, Jakarta Timur. Setelah melalui proses panjang, dia pun terbang dengan harapan bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Namun, satu bulan setelah berada di Kuwait, keluarga sudah menerima kabar tak menyenangkan. “Satu bulan di sana itu sudah bilang kalau dianiaya sama majikannya dan ditolong sama polisi,” ujar Kasiri saat dijumpai Radar Cirebon di kantor Lembaga Bantuan Hukum Gerakan Kemanusiaan Keadilan di Jl Brigjen Dharsono, Kedawung, Kamis (22/8).

Meski awalnya mengaku senang karena telah ditolong polisi, tapi rupanya Tuminah kembali masuk ke lingkaran masalah. Polisi yang menolong anak ke-5 dari 5 bersaudara itu punya maksud lain yang tidak jauh berbeda dari majikan yang pertama di Kuwait. Tuminah dibawa ke Kota Dammam, Arab Saudi. “Awalnya iya, dia ngurus gaji adik saya dan sempat kirim uang Rp800 ribu ke sini. Tapi setelah itu sudah tidak ada kabar,” ungkap Kasiri.

Kasiri mencatat, ia dan adiknya sempat saling berbalas surat sebanyak 4 kali. Dan yang terakhir, surat tidak sampai ke tujuan dan kembali ke rumah. Komunikasi pun terputus hingga awal tahun 2019. Tuminah tidak diketahui keberadaannya.

Berbagai cara sudah dilakukan pihak keluarga untuk kembali mengetahui keberadaan dan kondisi si bungsu yang menghilang. Bahkan ibu kandung Tuminah, Caryi, sebelum meninggal setahun lalu, sempat sakit karena memikirkan anaknya. “Kita coba ke PT (perusahaan penyalur TKI, red) tapi ternyata sudah tutup, sudah bangkrut,” kata Kasiri.

Hingga, pada Februari lalu, ia mendapatkan kabar mengenai keberadaan Tuminah. Perempuan yang berangkat ke Kuwait pada usia 18 tahun itu menghubungi pihak keluarga melalui kuwu atau kepala desa Setempat. Kuwu memberitahukan jika Tuminah memberikan nomor telepon untuk dihubungi. “Di situ kita senang. Setelah lama nggak ada kabar, akhirnya ada kabar. Sampai kita syukuran, karena kita mengira sudah tidak ada harapan,” kata Kasiri.

Halaman: 1 2
[adrotate banner="13"]

Berita Terkait