Legenda Bintang Kehidupan Nike Ardilla

Nike Ardilla (NET)

18 Maret, sekitar pukul 8 pagi, 24 tahun lalu, Nike Ardilla baru saja berangkat menuju tempat syuting sinetron Warisan II di Jalan Atletik, Bogor. Nike tiba pukul 10 pagi dan memulai syuting hingga pukul 19.30. Bersama Sofiatun Wahyuni, sahabat sekaligus manajernya, Nike melanjutkan pergi ke Bandung. Mereka sempat pulang ke rumah keluarga Nike di Perumahan Aria Graha II, Jalan Soekarno-Hatta. Keduanya lantas ke Hotel Jayakarta untuk menemui teman-temannya, dan lanjut ke diskotek Pollo di Jalan Asia Afrika.

Pada 19 Maret 1995, sekitar pukul 5 pagi, Nike meninggalkan Hotel Jayakarta usai mengantarkan beberapa kawan. Sekitar pukul 6 pagi, mobil Honda Civic Genio yang dikendarai Nike oleng dan menghantam tempat sampah yang terbuat dari beton di Jalan Riau (sekarang R.E Martadinata). Nike meninggal di usia 19 tahun, masa ranum seorang selebritas di puncak karier.

Tahun ini menandai 24 tahun Nike Ardilla berpulang.

Nike Ardilla adalah salah satu artis yang memulai karier di usia yang amat belia. Nike memasuki dunia tarik suara sejak umur 10. Album pertama yang melejitkan Nike Ardilla adalah Seberkas Sinar (1989). Saat merilis album Seberkas Sinar pada 1989, usia Nike baru 14. Di tempat lain, anak-anak seumuran Nike sedang asyik bersekolah dan bermain. Album ini berisikan lagu sukses seperti “Seberkas Sinar”, “Hati Kecil”, juga “Cinta Pertama”. Nike baru berusia 14 tahun kala itu. Namun di album kedualah, Bintang Kehidupan (1990), yang membuat Nike dikenal di seluruh Indonesia. Album ini berisi lagu terbesar Nike yang diciptakan Deddy Dores, “Bintang Kehidupan”. Setelah itu, Nike merilis 8 album lagi. Album terakhirnya adalah Sandiwara Cinta yang direkam pada akhir 1994 dan dirilis pada 1995.

Selain menjadi penyanyi, Nike berakting dalam film dan sinetron serta jadi foto model. Tapi tentu saja, sebagai artis yang memulai karier dari dunia tarik suara, banyak penggemar lebih menganggap serius album musiknya.

Bergabungnya Nike dengan promotor musik kawakan ini membawa dampak besar dalam karier sekaligus hidup Nike. Pertama, nama Nike diubah untuk kepentingan pembentukan citra. Dari Nike Astrina menjadi Nike Ardilla.  Sejak 1989, Nike membintangi 7 film layar lebar dan 11 sinetron. Membuat jadwalnya semakin padat dan melelahkan. Menjalani tapping sinetron hingga tengah malam adalah rutinitas biasa bagi Nike kala itu.

Meski sudah meninggal selama 24 tahun, Nike masih tetap dikenang. Hari kelahirannya dirayakan, hari meninggalnya ditangisi. Bagaimana ini bisa terjadi? Setidaknya ada dua jawaban yang bisa disodorkan.

Pertama, pengaruh media sosial, yang berperan dalam menyebarkan segala hal tentang Nike. Dikelola oleh fans militan, ada banyak laman penggemar Nike di Facebook. Yang paling besar tentu laman Nike Ardilla.

Kedua, karya yang bagus akan tetap abadi. Jawaban standar lain: suara Nike bagus. Opsi jawaban lain, karena Nike adalah artis yang baik hati dan dermawan. Ada pula jawaban semacam: karena Nike Ardilla cantik.

Tapi apa iya itu semua bisa merangkum kegilaan kolosal yang konstan ini?

Perihal suara, Nike tak sendirian sebagai penyanyi perempuan dengan suara prima. Apalagi Nike berkarier di era 1980 dan 90-an saat Indonesia punya banyak penyanyi perempuan bersuara prima. Dari Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, Inka Christie, Mel Shandy, hingga Ita Purnamasari. Soal baik hati dan dermawan, ada banyak artis yang rutin mengadakan acara amal dan bakti sosial. Cantik? Ini tentu hal relatif.

Kesukaan terhadap idola adalah perkara yang wajar. Namun, kesukaan ini bersifat sementara, bisa pula berumur pendek. Kesukaan dan kecintaan bisa berubah seiring idola yang juga berubah. Misalkan, karya idolanya sudah tak sebagus dahulu. Atau, jika menggemari band yang identik dengan perlawanan, penggemar akan mencibir jika idolanya jadi lembek.

Sedangkan Nike? Jumlah fansnya masih stabil, disukai di dunia maya maupun dunia nyata, dan ini yang luar biasa: tanggal kematiannya diperingati dan diziarahi setiap tahun. Tak heran kalau George Quinn, dosen di Australian National University, menyebut Nike sebagai “…pop saint” alias santo dalam dunia populer Indonesia.

Setelah mengikuti ziarah dan menyaksikan bagaimana dinamisnya penggemar Nike, jawaban tambahan yang bisa diajukan: karena Nike meninggal di puncak karier.

George Quinn, dosen Australian National University, dalam artikel berjudul “Nike Ardilla: Instant Pop Saint,” menyebut bahwa pemujaan terhadap Nike nyaris serupa dengan apa yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia yang menziarahi makam Wali Songo. Sama seperti makam para Wali yang memberikan rezeki bagi pedagang lokal, begitu pula yang terjadi di sekitar makam Nike. Para pedagang menjual teh botol, susu kemasan, kupat tahu, es doger, cilok, hingga bakso. Semuanya laris manis. Ziarah, ujar George, adalah upaya mendekatkan diri kepada tuhan, atau mengaitkan kembali diri kepada para Wali atau orang suci yang sudah meninggal.

Kultur perayaan sosok di Indonesia lewat ziarah ini sudah lahir sejak ratusan tahun lalu. Berbeda dengan dunia Barat yang pemujaannya banyak ditujukan kepada idola dunia pop, di Indonesia, kultur seperti ini lebih dekat dengan sesuatu yang berkaitan dengan praktik agama dan religiositas. Karenanya kita tak perlu heran bila setiap tahun ada ratusan ribu orang melakukan ziarah Wali, meski Wali Songo sudah meninggal ratusan tahun lalu. Juga ribuan orang masih berziarah ke makam Sukarno di Blitar, Jawa Timur.

Para peziarah ini, selain orang biasa, adalah orang yang dianggap tokoh, baik dalam bidang agama, politik, ataupun ekonomi. Salah satunya Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur. Dalam satu artikel pendek di situs resmi Nadhlatul Ulama, Gus Dur pernah ditanya kenapa ia sering berziarah ke makam-makam.

“Karena orang mati tidak memiliki kepentingan,” ujarnya.

Walau bersayap, tapi jawaban Gus Dur ini menarik. Menurutnya, menziarahi makam adalah suatu bentuk penghargaan terhadap mereka yang sudah wafat. Jenazah tentu sudah tak lagi diikat urusan duniawi. Tak memiliki kepentingan, tak ada kepentingan ekonomi, apalagi politik yang remeh-temeh. Menziarahi makam, baik itu makam Wali, tokoh agama, atau leluhur, adalah sikap menghormati yang hidup kepada yang sudah tiada, dengan cara mengirim doa. Momen-momen seperti itu juga menjadi momen nostalgia sekaligus bisa menjadi pengingat bahwa hidup memang sekadar menumpang minum dan menanti mati. (Makam Gus Dur di Jombang, Jawa Timur, juga rutin diziarahi saban hari)

Meski demikian, sangat sedikit, untuk tak menyebut nihil, artis Indonesia yang diziarahi, dikenang, dirayakan, dan tetap dipuja, meski sudah puluhan tahun meninggal dunia. Jika harus menyebut satu nama yang langka, ia adalah Nike Ardilla.

“Banyak ziarah ke situs keramat untuk mencari masalah hidup, juga berharap bisa mendapat kekuatan supernatural untuk kepentingan pribadi. Bagi peziarah lain, situs keramat adalah tempat di mana mereka bisa mencari pencerahan, atau setidaknya bisa melarikan diri dari tekanan hidup modern,” tulis Quinn. (*)