Leiden, Museum Ingatan Mantan Tanah Koloni Kunci Nusantara di Belanda

Saat ini perpustakaan Leiden punya 5,2 juta buku, 44,000 jurnal elektronik dan lebih dari sejuta buku elektronik. Setidaknya begitulah menurut laporan libraries.leiden.edu. Selain itu terdapat 60 ribu manuskrip kuno, 500 ribu surat, 100 ribu peta, 12 ribu gambar, dan 300 ribu foto.

Perpustakaan yang mulai dibuka sejak 31 oktober 1587 ini, artinya hari ini genap berusia 429 tahun, menyimpan banyak koleksi tentang Indonesia. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, Sri Sulasih, 26 ribu manuskrip kuno tentang Indonesia ada di Universitas Leiden. Sementara Perpustakaan Nasional sendiri hanya mengoleksi 10,3 ribu manuskrip kuno. Tak sampai separuh dari yang dimiliki Perpustakaan Leiden.

Perpustakaan Leiden punya bagian yang menyimpan koleksi khusus tentang Asia Tenggara. Selain koleksi tentang Asia Tenggara, sebagai perpustakaan kampus juga memiliki perpustakaan yang mengoleksi tentang ilmu-ilmu sains, hukum, dan sosial. Semuanya di kota Leiden. Sementara Library Learning Centre-nya berdiri di Den Haag. Di Jakarta sendiri terdapat wakil Perpustakaan Leiden, yakni Koninklijk Instituut voor Taal- Land- en Volkenkunde (KITLV) Jakarta di Jalan Rasuna Said, yang juga menjadi alamat dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda.

Koleksi-koleksi soal Indonesia di Belanda sebenarnya tak perlu membuat heran. Tak ada yang menyangkal Indonesia adalah mantan koloni Kerajaan Belanda. Sebagai imperialis modern pasca renaissans, Belanda termasuk bangsa modern yang terbilang rapi dalam mengarsip lembaran-lembaran tertulisnya terkait Indonesia era kolonial. Bahkan tulisan dan benda-benda kuno Indonesia pun sampai ke sana.

Perpustakaan Leiden, dengan demikian, adalah museum kenangan dan ingatan sang mantan tanah koloni.

Setelah Perpustakaan Dibuka

Revolusi Belanda melawan wangsa Habsburg dari Austria, yang kemudian melahirkan sebuah negara baru, menyadarkan Belanda akan pentingnya pendidikan tinggi. Universitas Leiden pun mulai dibangun pada 1575. Kampus itu berdiri di tanah milik biara Katolik yang disita.

Pentingnya buku, membuat pendiri langsung memulai proyek membangun perpustakaan. Plantin Polyglot alias Bibel Raja, yang dicetak Christopher Plantin, dihadiahkan Willem van Orange kepada perpustakaan itu pada tahun pertama pembangungan perpustakaan tersebut. Perpustakaan itu resmi dibuka dan beroperasi pada 31 Oktober 1587.

Katalog pertama perpustakaan ini muncul pada 1595. Koleksinya makin lama makin bertambah. Perpustakaan ini belakangan punya beberapa bagian. Untuk Perpustakaan Universitas terletak di Witte Singel 27, Perpustakaan Asia Timur di Arsenaalstraat 1, Perpustakaan Hukum di Steenschuur 25, Perpustakaan Ilmu Pengetahuan Tingkah Laku dan Sosial, Wassenaarseweg 52, Perpustakaan Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika di Einsteinweg 55, Perpustakaan Gorlaeus di Niels Bohrweg 1. Semua masih di kota Leiden. Selain itu, perpustakaan ini memiliki Library Learning Centre di Den Haag dan di Jakarta ada KITLV di Rasuna Said Kav S-3.

Tak sampai satu dekade setelah dibukanya perpustakaan tersebut, pada 27 Juni 1596, sebuah armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman, tiba di Banten. Setelahnya lebih banyak armada Belanda yang masuk ke Nusantara. Pelan-pelan hasil bumi wilayah Nusantara dimonopoli oleh Belanda yang mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 20 Maret 1602. 

Portugis yang semula berjaya di Maluku, juga berhasil dipukul mundur oleh Belanda melalui VOC. Kuku kekuasaan Belanda mulai menancap di bumi selatan khatulistiwa, tanah air Nusantara.

Rombongan-rombongan armada kapal Belanda yang baru sampai ke Asia itu, nyaris tak pernah pulang dengan tangan kosong. Selain barang dagangan laris macam rempah-rempah, para perwira kapal juga membawa pulang peta-peta yang mereka buat dalam pelayaran. Bahkan manuskrip kuno dari tanah yang mereka jelajahi juga dibawa pulang.

Pengetahuan apapun yang dibawa para pelaut Belanda dari Indonesia tentu menjadi sesuatu yang berharga bagi Kerajaan Belanda. Tak hanya peta pulau rempah-rempah, tapi juga bahasa lokal. Namun, usaha membuat kamus-kamus bahasa daerah di Indonesia baru mulai masif dilakukan pada abad XIX.

Pembuatan kamus sering kali melibatkan para rohaniawan zending penyebaran agama Kristen. Misalnya Benjamin Matthes yang membuat Kamus bahasa Bugis-Makassar. Dari Matthes inilah lakon besar sastra “asli” Indonesia, La Galigo, manuskripnya pun terbawa ke Belanda.

Penginjil lain yang ikut menyusun kamus J.H. Neumann yang membuat kamus Batak Karo dalam aksara latin. Selain bahasa Karo, Bugis dan Makassar, kamus-kamus bahasa daerah lain pun dibuat di masa kolonial. Kamus-kamus tersebut, pastinya akan membantu mempelajari manuskrip-manuskrip kuno Indonesia yang sudah terangkut ke Leiden.

Terus Meneropong Nusantara

Sebut saja namanya Galuh. Pemuda asal pedalaman Jawa yang pernah mendalami ilmu sejarah ini pernah ke Belanda bertepatan dengan Tahun Asia Leiden 2017-2018, yang merupakan sebuah perayaan budaya dan sejarah mengenai Asia dan kajiannya.

Leiden adalah tempat yang dia tuju untuk mencari data yang dibutuhkan, dua benda dalam koleksi Perpustakaan Asia bahkan terdaftar di Memori Dunia UNESCO: La Galigo (1908), sebuah kitab terbesar di dunia yang ditulis dalam bahasa Bugis; dan manuskrip Babad Diponegoro, dimana Pangeran Jawa dan pahlawan nasional Diponegoro, menceritakan perangnya melawan Belanda (1825-1830).

Sebagai tambahan koleksi tersebut, Perpustakaan Asia menunjukkan sebuah taman yang namanya diambil dari Philipp Franz von Siebold—seorang ahli botani Jerman yang pertama kali memperkenalkan obat-obatan Barat di Jepang.

Leiden mengaku sebagai “satu-satunya universitas di Belanda yang memberikan progam besar dalam bahasa dan budaya tentang wilayah Asia”, dan berada di peringkat ke-67 dalam daftar Pendidikan Tinggi Times untuk tahun 2018, dan peringkat 79 dalam daftar Universitas Global Terbaik US News.

Perpusatakaan Asia tersebut berusaha untuk “menempatkan Leiden (baik kota, museumnya, dan universitasnya) lebih tegas dalam peta internasional, sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan tentang Asia terbaik di dunia, melakukan penelitian, pengajaran, koleksi, dan keahlian.”

Galuh mengikuti jejak sejarawan berpengaruh Sartono Kartodirjo yang meneliti Pemberontakan Petani Banten 1888. Sartono juga mencari bahan sampai ke Leiden. Bedanya Sartono membuat disertasi.

Tentu saja Galuh bukan satu-satunya. Para sejarawan yang meniliti zaman kolonial Hindia Belanda wajib hukumnya ke Leiden jika mencari referensi. Begitu juga orang-orang yang ingin mendalami bahasa daerah di Indonesia. Terdapat 26 ribu manuskrip kuno asal Indonesia yang terhimpun di sana. Selain manuskrip-manuskrip di Leiden, arsip-arsip di Arsip Nasional Belanda di Amsterdam juga jadi tempat yang yang harus dikunjungi.

Tak hanya belajar sejarah dan bahasa, orang-orang Indonesia yang pernah belajar di Leiden diantara adalah ahli hukum berpengaruh seperti Koesoemah Atmadja, Soenario Sastrowardoyo, Achmad Soebardjo, Christian Soumokil dan Alexander Maramis. Semuanya bergelar Meester in Rechten (Mr).

Soal siapa yang lebih dulu belajar dan menikmati fasilitas perpustakaan Leiden, nama Husein Djajadiningrat harus disebut. Seabad sebelum Galuh, Husein Djajadiningrat asal Banten, berhasil merampung disertasinya, Tinjauan Kritis Sejarah Banten (1913). Sponsor Husein semasa kuliah dan merampungkan tugas akhirnya adalah Christian Snouck Horgronje, nama besar dalam studi tentang negeri-negeri timur jauh di masa kolonial. Snouck juga lulusan Universitas Leiden.

Snouck mendalami Islam juga di Leiden. Karena perpustakaan Leiden pula, Snouck bisa hafal Al Quran. Ia merampungkan disertasi tentang ibadah haji yang berjudul Perayaan Mekkah pada 1880. Ketika itu dia belum pernah sama sekali ke Mekkah.

Setelah itu, Snouck pernah menjadi dosen bagi para calon pegawai kolonial asal Belanda yang akan dikirim ke Hindia Belanda. Leiden punya jurusan Indologi di zaman kolonial. Para calon pegawai kolonial itu idealnya harus paham soal daerah koloni yang kini bernama Indonesia itu. Bahkan calon Raja Jawa yang ketika itu diberi nama Dorodjatun pernah dikirim belajar di jurusan Indologi di Leiden. Namun, karena ayah Dorodjatun meninggal, mau tidak mau Dorodjatun meninggalkan kuliahnya dan harus menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Menurut Fances Gouda, dalam Dutch Culture Overseas (2007), mereka harus merasakan, “Pendidikan modern, yang menyerap kurikulum akademis yang kaya dan beragam, yang memadukan mata kuliah seperti geografi, sejarah dan agama-agama di Indonesia, hukum Islam dan hukum adat, prinsip-prinsip bahasa… baik bahasa Melayu atau Jawa maupun bahasa pribumi lainnya.”

Untuk semua itu, Leiden memberikan banyak bahan untuk menunjang pengenalan pegawai kolonial Belanda yang akan dikirim dan menjadi birokrat di Hindia Belanda. Tak sia-sia Willem van Orange membangun kampus dan dan juga perpustakaan di Leiden tersebut.

Saat ini koleksi Perpustakaan Leiden itu tak hanya buku-buku dan manuskrip-manuskrip kuno Indonesia saja. Buku-buku mutakhir beberapa tahun terakhir soal sejarah, sastra, politik, sosial dan tema-tema lain juga jadi koleksi perpustakaan Indonesia. Dari penulis atau peneliti terkemuka sampai yang kurang dikenal juga diboyong perpustakaan ini untuk pergi ke Belanda dalam berbagai urusan, dari riset sampai ceramah.

Indonesia, bagi Leiden dan juga kampus-kampus yang punya pusat studi kawasan Asia Tenggara atau Indonesia, masih menarik. Sekalipun status Indonesia sudah mantan (koloni). (*)

Berita Terkait