Literasi, Bergerak Membangun!

Adi Tama, Guru SDN Larangan 2 Kota Cirebon

Siang ini, seorang kawan berhasil mengagetkan saya dengan tautan yang dikirimnya. Sebuah tautan tulisan dari halaman web radar cirebon online Hari Kamis, Tanggal 14 Februari 2019 dengan judul “Gelem Maca Menentukan Masa Depan” berhasil membangkitkan rasa penasaran, kemudian menggerakan diri untuk segera membacanya.

Kalau jujur, secara umum saya sepakat dengan semua isi tulisan tersebut. Tidak ada yang salah, baik dari sisi penulisan ataupun konten isinya. Terlebih di dalamnya menggunakan data dan perbandingan valid sebagai uraian.

Entah siapa yang menulis berita itu. Tidak tertera nama, yang jelas di paragraf terakhir tertulis, “Gerakan Literasi Sekolah yang digulirkan pemerintah mirip seperti kampanye imunisasi.” Hal ini berhasil memantik kawan-kawan pegiat literasi untuk berdiskusi memahami makna tersembunyi dari sebuah kalimat. Menarik!

Menyikapi hal tersebut, saya memiliki persepsi sedikit berbeda dengan penulis. Seperti kita ketahui, masyarakat kita masih sangat jauh dengan kata “Membaca” apalagi “Menulis.” Kalimat baca tulis adalah bla bla bla memang masih sekadar untaian kata motivasi yang tertempel di dinding sekolah, perpustakaan, atau sudut baca.

Nyatanya masih banyak dari kita yang tidak gemar membaca. Buku adalah barang yang tersusun rapi di rak hingga berdebu.

Berdasarkan data hasil survei PISA, CCSU. Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara dengan minat baca terendah. Data ini tentu saja memprihatinkan jika melihat Indonesia adalah negara besar yang sangat kaya akan segala. Tapi apalah daya, data telah berbicara. Secara realitas pun kita menyadarinya bersama.

Berangkat dari hal di atas, pemerintah melalui Kemdikbud meluncurkan sebuah program bernama Gerakan Literasi Nasional (GLN) pada Tanggal 28 Oktober 2017. GLN dibagi lagi menjadi: Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Masyarakat (GLM), dan Gerakan Literasi Keluarga (GLK).

Gerakan Literasi Sekolah

Sebuah terobosan baru untuk dunia pendidikan, bahwasannya literasi menjadi komponen penting untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, mampu berdaya, berkarya, dan bersaing dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ini. GLS memiliki tiga tahapan program yaitu, pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.

Dalam tahap pembiasaan siswa-siswi diberi waktu sekitar 15 Menit untuk membaca buku non teks pelajaran (buku yang bisa menarik minat baca siswa tumbuh dan berkembang). Ingat, buku non teks pelajaran, bukan buku materi, paket atau lks yang berisi materi-materi pelajaran pada umumnya.

Sepertinya untuk ini kita pasti paham alasannya. Membaca buku cerita bergambar, buku komik, atau novel pasti akan sangat berbeda dengan membaca buku ilmiah, non fiksi. Baik dari mata saat membaca, hingga kepala saat mencerna.

Pertanyaan mendasar dalam tahap pembiasaan ini kenapa harus dilakukan? Sudah jelas untuk memancing, membiasakan, menumbuhkan, mendekatkan para siswa dengan buku. Sederhananya agar mereka (siswa) terbiasa dengan membaca.

Jika tidak dibiasakan, lalu kapan kita bisa mengejar ketertinggalan? Jika tidak ditanamkan, lalu bagaimana minat baca tulis dapat terus tumbuh dan meningkat?

Bukankah istilah membudayakan selalu diawali dengan membangun? Jika sepakat, maka kegiatan pembiasaan membaca 15 Menit sebelum pembelajaran mulai adalah sebuah terobosan guna membangun, mendongkrak, dan menumbuhkembangkan minat baca siswa. Generasi yang akan meneruskan perjalanan bangsa.

Pada tahap pengembangan GLS siswa tidak hanya bisa membaca, tetapi juga diharapkan mampu memahami isi bacaan. Selanjutnya dapat mengambil poin penting dari buku lalu menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Menceritakan kembali, membuat review atau ulasan, mempresentasikan buku, mempraktikan langsung petunjuk dari buku, merupakan contoh tangga selanjutnya yang ada dalam tahap pengembangan GLS.

Tahap Pembelajaran. Di mana kegiatan literasi menjadi bagian tidak terpisahkan dalam tiap pembelajaran di kelas. Hal ini sesuai dengan visi dari gerakan literasi yaitu “Membangun insan literat sepanjang hayat.” Insan pembelajar yang terus belajar.

Gelemaca

Akronim dari Gerakan Literasi Masyarakat Cirebon Kota. Gelemaca adalah sebuah komunitas literasi yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Cirebon. Gelemaca terbentuk dari semangat, inisiatif, dan kesadaran guru-guru hebat akan pentingnya literasi.

Menyukseskan program besar pemerintah pusat tentang GLN terutama Gerakan Literasi Sekolah. Gelemaca menjadi wadah yang memfasilitasi berbagai program dan event yang berhubungan dengan kegiatan literasi.

Sebut saja CLRC (Cirebon Leaders Reading Challenge) atau Tantangan Membaca. Program ini sebagi bentuk nyata kepedulian Gelemaca terhadap literasi sekolah. Di mana para siswa SD-SMP se-Kota Cirebon diberi tugas menyelesaikan bacaan minimal 24 judul buku selama kurang lebih 10 bulan dan membuktikannya dengan membuat ulasan (review) tertulis.

Bukti ulasan ini akan diverifikasi oleh panitia, dan siapa yang berhasil lolos akan mendapat penghargaan pangalungan medali dari Kepala Dinas Pendidikan. Saat ini program CLRC berjalan di Tahun ketiga.

Tidak hanya tantangan membaca, festival literasi siswa (beraneka lomba literasi), workshop guru menulis secara berkala menjadi sayap yang terus dibentangkan oleh Komunitas Gelemaca. Bahkan bukti eksistensinya mendapat perhatian tersendiri dari banyak pihak luar agar bisa berkerja sama untuk menjalankan program CSR-nya. Tentu yang berkaitan dengan pengembangan literasi.

Kembali pada kalimat, “Gerakan Literasi Sekolah seperti Kampanye Imunisasi.” Saya tidak begitu peduli dengan apapun istilahnya. Sudah terlalu jengah rasanya mendengar segala konsep-konsep indah yang terlontar rapi dari para pakar atau konseptor.

Tetapi kenyataannya? Konsep hanya sebatas konsep. Tanpa realita, tanpa bentuk nyata!
Saat ini yang dibutuhkan adalah lebih banyak lagi orang, komunitas, badan dan segala elemen untuk bergerak bersama. Menyebarkan energi positif kita pada khalayak. Membangun sebuah tindakan konsisten yang mampu menciptakan budaya literasi.

Mencetak insan-insan literat. Hingga akhirnya tercipta kehidupan layak karena masyarakat kita memiliki skill, keterampilan, pengetahuan, dan ilmu yang membuatnya mampu bertahan dan menang dalam percaturan global.

“Lebih baik dianggap ibarat kampanye imunisasi dalam menggemakan literasi di seluruh penjuru negeri, daripada hanya mengkritisi tapi tetap berdiam diri tanpa aksi.”

 

Penulis: Adi Tama, Komunitas Gelemaca

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait