Logo Branding Dirasa Abstrak, Pemkot Disarankan Bikin Sayembara atau Libatkan Ahli

The Gate of Secret

CIREBON–Sekitar 2014, Jogjakarta pernah meramaikan perdebatan mengenai branding pariwisata. Logo yang digunakan dinilai kurang cocok. Padahal branding itu digawangi pakar marketing Hermawan Kertajaya. Jogjakarta pun kemudian mengubah tagline-nya. Dari Never Ending Asia, menjadi Jogja Istimewa. Dengan perubahan signifikan pada font Jogja. Menggunakan jenis original font, yang mengadopsi aksara Jawa.

Perdebatan itu baru mereda setahun setelahnya. Setelah melewati urun rembuk Jogja, yang mengundang antusias dan partisipasi publik. Sedemikian antusiasnya masyarakat di sana dengan branding kotanya. Musababnya adalah,  kesadaran bahwa logo ini akan punya arti penting. Tidak sekadar promosi pariwisata. Tapi juga kegiatan masyarakat Jogja pada umumnya.

Mundur tiga atau empat tahun sebelumnya, Kota Cirebon juga pernah ramai dengan pergunjingan soal branding. Ketiga The Gate of Secret diperkenalkan Walikota Cirebon, Subardi SPd di car free day. Kritik pertama mengenai penetakan The Gate of Secret yang secara gramatikal dinilai kurang tepat. Kemudian pemilihan logonya.

Perdebatan itu mengemuka kembali. Setelah sembilan tahun berselang. Terkait dengan penetapan logo branding Kota Cirebon melalui Surat Keputusan Walikota Cirebon Nomor 556.4/Kep.98-adm. Perek/2019. Logo tersebut dimonisasi dengan warna hijau. Pemaknaan fisik branding dalam surat keputusan tersebut juga disebutkan dalam tiga poin. Yang pertama, pemilihan warna hijau dimaknai sebagai lambang identik islami. Sedangkan visualisasi dua buah candi bentar memiliki pemaknaan bahwa Cirebon sebagai sebuah kerajaan Islam yang lahir dari ayah biologis Galuh Pakuan yang Sunda. Juga sebuah anak budaya dari ayah ideologis Jawa.

Kemudian dalam poin ketiga, logo garis-garis gunung di guratan motif mega mendung juga memberitahukan bahwa Cirebon berhubungan dekat dengan kebudayaan Tiongkok. Sementara dalam pemaknaan copyrighter/tagline “The Gate of Secret terdapat dua poin. Pertama, teks tersebut dapat diterjemahkan sebagai ”Gerbang Rahasia”. Mengapa logo ini mengundang perdebatan? Juga mengundang kritik? Dalam kacamata pelaku design grafis, Whisnu Dwi Purnama menilai, logo branding Kota Cirebon dirasa terlalu abstrak. Khususnya dari segi fisik atau visualnya. Hal tersebut diungkapkannya setelah melihat contoh desain logo yang dimaksud.

Dengan nuansa hijau, banyaknya akses dedaunan atau pepohonan di dalam logo tidak dijelaskan maksudnya. Namun dari segi visualnya justru ia melihat terlalu banyak tambahan gambar dedaunannya. “Jatuhnya seperti terlalu ramai kelihatannya jadi kurang fokus pada tulisanya dan kurang menarik menurut saya,” kata Whisnu, kepada Radar Cirebon.

Founder WHDP Project Art tersebut juga mempertanyakan mengapa unsur logo seperti candi bentar justru ditempatkan di ujung masing-masing sudut mega mendung. Skalanya juga kelewat kecil. Sehingga ketika logo ini dipakai dalam ukuran tertentu, candi bentar ini tidak akan terlihat.

Penempatan unsur candi bentar sebagai unsur logo tersebut juga terlalu abstrak. “Kurang cocok juga apalagi disatukan dengan font untuk tulisan Cirebonnya. Terlalu ramai jadinya,” katanya.

Menimbang-nimbang logo branding Kota Cirebon tersebut, ia sangat menyayangkan. Penetapannya juga seperti terburu-buru. Padahal, pemerintah bisa mengajak masyarakat berpartisipasi. Khususnya generasi muda dan mereka yang memang bergelut di bidang seni grafis.

Dengan melibatkan pihak-pihak berkompeten, logo branding Kota Cirebon akan lebih diterima.  Selain hasilnya juga bisa meningkatkan rasa cinta generasi muda saat ini. Dan tidak kalah penting, menjadi ikon promosi pariwisata. “Banyak anak-anak muda yang saat ini jago desain. Kasih kami-kami kesempatan ikut ambil bagian,” tuturnya.

Di era seperti ini, ia mendorong Pemerintah Kota Cirebon mengedepankan prinsip keterbukaan. Bisa mengadakan lomba atau sayembara. Bisa juga dengan urun rembuk. Selain agar banyak inspirasi, juga dapat sesuai dengan masyarakatnya. (myg)