Longsor Leuweung Cina Penyebab Banjir Bandang Padahurip

banjir-bandang-padahurip
TANGGAP BENCANA: Petugas BPBD Kabupaten Kuningan bersama warga Dusun Tajur Desa Padahurip membersihkan material di Lebak Cilaku, Senin (7/1). Foto: M Taufik/Radar Kuningan

KUNINGAN – Musibah banjir bandang yang menimpa pemukiman warga Dusun Tajur, Desa Padahurip, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan merupakan yang kedua kalinya. Pertama terjadi pada 1982, menyebabkan sedikitnya 10 rumah warga di lokasi yang sama mengalami rusak berat.

Seperti diungkapkan salah satu warga Desa Padahurip, Darsa, kejadian banjir bandang tahun 1982 pun disebabkan karena tanah longsor di hulu sungai seperti sekarang. Tiga titik lokasi longsor di lahan Perhutani Blok Leuweung Cina menyebabkan material tanah juga pepohonan ikut terbawa aliran sungai yang dikenal warga dengan sebutan Lebak Cilaku. Hal tersebut menyebabkan sumbatan dan seketika air meluap menghempas pemukiman warga.

“Waktu dulu banjir menyebabkan empat rumah warga hanyut hingga tak bersisa dan enam rumah rusak berat. Salah satu bukti banjir bandang tahun 1982 adalah batu berukuran besar yang ada di tengah sungai. Akibat banjir bandang tersebut, membuat beberapa warga harus pindah rumah dan upaya membersihkan sisa-sisa banjir pun hingga memakan waktu dua bulan baru kelar,” ungkap Darsa.

(Baca: Longsor dan Banjir Bandang Terjang Padahurip Kabupaten Kuningan)

Saat kejadian banjir bandang kemarin, Darsa menjadi salah satu saksi mata yang menyaksikan bagaimana air bercampur lumpur mengalir deras turun dari gunung sambil membawa material batang pohon berukuran besar. Saat batang pohon tersebut tersangkut di jembatan Blok Tajur, seketika air pun meluap dan membanjiri pemukiman warga di sekitarnya.

“Saat itu hujan baru saja berhenti, tiba-tiba air dari gunung turun sangat deras sambil membawa material kayu dan batu hingga meluap ke pemukiman warga. Banjir bandang hingga menimbulkan suara bergemuruh yang sangat keras sehingga membuat warga terutama ibu-ibu ketakutan hingga banyak yang berlarian sambil menangis mencari tempat aman. Sedikitnya ada tiga motor warga yang kebetulan masih terparkir di teras rumah sampai ikut terbawa hanyut,” ungkap Darsa.

Beruntung, lanjut Darsa, banjir bandang berlangsung selama setengah jam saja. Sesaat kemudian air pun berangsur surut. Sehingga kerusakan akibat banjir tersebut pun terbilang tidak terlalu parah. Hanya tiga motor warga yang terbawa hanyut dan ditemukan sekitar 1 kilometer di hilir sungai sudah dalam keadaan rusak berat.

“Beruntung banjir bandang kali ini tidak sampai menyebabkan rumah warga mengalami kerusakan. Hanya saja air bercampur lumpur sempat masuk ke sekitar 10 rumah dan mengotori lantai dan perabotan,” ungkap Darsa.

Upaya penanganan pascabencana pun, kata Darsa, kali ini bisa segera tertangani berkat bantuan dari petugas BPBD, TNI, kepolisian dan relawan lainnya. Hanya dalam waktu satu hari, aliran Sungai Lebak Cilaku pun terbebas dari batang pohon dan sampah yang menyumbat.

“Alhamdulillah kondisi sungai Lebak Cilaku sekarang sudah kembali bersih berkat bantuan dari BPBD, TNI dan lainnya.  Mudah-mudahan kejadian banjir bandang yang mengerikan ini tidak terulang lagi,” pungkas Darsa. (fik)