Maraknya PKL, Omzet Turun, Pedagang Pasar Perumnas Terancam Bangkrut

pasar-perum
Pasar Perumnas Kota Cirebon.FOTO: DOK. RADAR CIREBON

CIREBON-Para pedagang di Pasar Perumnas tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sudah berkali-kali melayangkan complain kepada pemerintah, tetapi belum juga ditanggapi. Para penghuninya, khususnya pedagang buah-buahan mengeluhkan keberadaan para pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sekitar Pasar Perumnas. Setiap hari, mereka mengaku harus menanggung kerugian.

Salah satu pedagang Kanasih (47) membeberkan, kondisi tersebut terjadi sudah cukup lama. Tepatnya dalam 6 bulan terakhir. Para pedagang buah mengalami penurunan omzet sejak maraknya PKL yang berjualan di depan pasar atau di Jalan Ciremai Raya. Bukan hanya di depan, PKL buah-buahan juga memenuhi Jalan Gunung Guntur 1. Tepatnya di depan pintu akses pasar.

“Dulu kita bisa jual 20kg/hari. Sekarang 5kg/hari saja susah. Dua tiga hari buah jadi peot dan busuk. Jadi terpaksa dibuang. Persoalan ini, kita sudah sering komplain. Tapi belum juga ditanggapi. Padahal kita juga harus memikirkan untuk bayar sewa kios dan listrik. Belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari,” keluhnya kepada Radar Cirebon.

Menurutnya, banyak pedagang buah seperti dirinya yang terpaksa menutup kios karena bangkrut. Atau terpaksa memindahtangankan kiosnya karena sudah tidak kuat bayar sewa. Sebagian lagi memilih untuk mengurangi jumlah buah-buahan yang dijajakan, dan menggantinya dengan berjualan sembako yang lebih awet.

Disebutkan juga, pembeli enggan masuk ke dalam pasar karena ketika masuk sudah dikenakan retribusi parkir. Selain itu, buah-buahan yang dijajakan para PKL buah di jual lebih murah. “Kalau mereka kan tidak ada tanggungan untuk bayar sewa kios. Jadi jual ke pembelinya juga lebih murah,” ujarnya.

Ungkapan serupa juga dilontarakan pedagang pisang, Dede (35). Sejak maraknya PKL yang berjualan di sekitar Pasar Perumnas, pendapatannya menurun 50 persen. Dia berharap, pemerintah bisa memberikan solusi, supaya para pedagang buah yang memiliki kios sama-sama mendapatkan rezeki.

“Jelas ada penurunan omzet. Kalau dihitung, ada kita menurun 50 persen. Kalau begini terus, bisa-bisa pedagang buah yang berada di dalam (pasar, red) bangkrut semua,” keluhnya. (awr)