Masalah Sosial Baru dari Kehamilan Tak Diingingkan, Lahir Lalu Dibuang

ILUSTRASI-BAYI

Pekerja Sosial Dinsis-P3A Siti Fatimah mengakui telah menangani dua bayi yang ditelantarkan orang tuanya. Namun, ia pun turut melakukan assessment untuk kasus serupa di wilayah tetangga, karena bayi-bayi malang itu diadopsi oleh warga Kota Cirebon.

Di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak, angkanya tak jauh berbeda. Penanganan atas adopsi bayi selam kurun 2018-2019 mencapai empat berkas. Adopsi bayi berkaitan dengan kehaliran yang tidak diinginkan.

Kepala UPT LKSA, Eni Setiarini SPd mengatakan, pembuangan bayi ini punya beragam motif. Mulai dari hasil hubungan gelap, hingga ketidakmampuan orang tua secara ekonomi. Ada juga yang karena tidak mampu mengasuh anak yang dilahirkannya. “Kebanyakan karena hubungan gelap orang tuanya,” ujar Eni.

Dalam beberapa kasus yang ditangani Eni, tidak selalu bayi hasil hubungan gelap dibuang. Ia mencontohkan seorang anak yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya. Di mana anak tersebut merupakan hasil hubungan gelap.

Selama bertahun-tahun, anak itu diasuh oleh neneknya. Malang, oleh neneknya, anak ini malah dieksploitasi untuk meminta-minta. “Dari kecil anak ini disuruh minta-minta. Kalau tidak mau, kakinya disundut rokok,” katanya.

Setelah menemukan kasus ini, LKSA melakukan penanganan. Anak tersebut kemudian ditangani Dinsos-P3A sebagai anak negara. Namun dalam penanganan anak-anak terlantar ini, LKSA atau panti asuhan yang berada di wilayah Kota Cirebon justru berhadapan dengan masalah yang kompleks. Anak-anak yang mereka asuh kebanyakan warga dari daerah lain.

Anak-anak itu ditempatkan dip anti, karena orang tua mengutarakan bergam alasan. Paling banyak klarena faktor kerentanan ekonomi. Dalam beberapa kasus, anak-anak dititipkan di panti asuhan karena orang tuanya tersandung perkara hukum. “Sebetulnya Kota Cirebon sedikit. Justru anak-anak di sini banyaknya dari daerah lain,” ulasnya.

Halaman: 1 2 3