Medsos Dibatasi Pemerintah, Pengusaha Online Shop di Cirebon Menjerit

Menkominfo Sebut Aplikasi VPN Berbahaya

Ilustrasi

CIREBON-Pembatasan akses media sosial (medsos) dan layanan perpesanan yang dilakukan pemerintah membuat sejumlah pihak kelimpungan. Terutama para penggiat bisnis yang mengandalkan promosi melalui media sosial. Salah satunya dirasakan pemilik usaha kreatif kaus Ingsun, Vicky Vichtoriansyah.

Vicky mengungkapkan, selama ini promosi produk kaus, topi dan aneka oleh-oleh Cirebon lebih banyak dilakukan lewat media sosial. Sehingga dengan pembatasan pengiriman gambar dan video cukup menyulitkan proses promosi. “Apalagi ketika ada koleksi atau desain-desain baru yang biasanya kita kenalkan lewat media sosial dan layanan perpesanan WhatsApp,” ujarnya.

Promosi melalui media sosial, dikatakan Vikcy, cukup menopang usaha yang ia geluti sejak dua tahun lalu itu. Sebab, selain menjajakan produknya secara offline melalui kios maupun menitipkan ke toko oleh-oleh, ia juga kerap menerima pesanan melalui media sosial. “Sekitar 25 persen pesanan datang dari promosi lewat medsos,” ucap Vicky.

Selain promosi, pembatasan akses media sosial dan layanan perpesanan WhatsApp juga berpengaruh pada proses transaksi. Beberapa order yang diterima terkendala karena tak dapat mengirimkan contoh gambar desain yang dipesan. “Karena tiga medsos (Facebook, Instagram dan WhatsApp, red) itu yang paling gencar. Jadi sangat berpengaruh. Karena pembatasan begini jadi lambat prosesnya,” jelas Vicky.

Seperti sebagian pengguna internet lainnya, ia juga sempat memanfaatkan laynan internet menggunakan akses Virtual Private Networ (VPN). Dengan akses tersebut, masalah promosi dan perpesanan dapat diselesaikan. Namun, bukan berarti masalah sepenuhnya tuntas. “Karena pas ada pembatasan itu internet banking juga delay, jadi transaksi juga tersendat. Tadinya mau pakai VPN juga tapi katanya kurang bagus. Jadi terpaksa ke ATM,” ucap Vicky.

Hal yang sama juga dialami Nurlaela Sari, pemilik usaha kreatif flipouch itu juga mengalami kendala serupa saat akses media sosial dibatasi. Akibatnya, produk kerajinan tangan berupa dompet dan aksesoris lainnya itu pun mengalami masalah pada proses promosi, order dan transaksi. “Kita kan setiap berapa hari sekali ada koleksi-koleksi terbaru, nah itu butuh dipromosikan. Tetapi dua hari ini kita cukup kesulitan,” ujar Ella – sapaan akrabnya.

Mereka pun berharap, pembatasan akses media sosial tidak berlangsung lama. Sehingga aktivitas usaha yang dijalani bisa kembali normal seperti sebelum pembatasan akses media sosial diterapkan. Terlebih, momentum mendekati Idulfitri merupakan waktu yang baik untuk melipatgandakan pencapaian pemasaran. “Semoga tidak sampai Idulfitri,” tutur Ella.

Sebelumnya, Menkopolhukam Wiranto mengatakan langkah pemerintah membatasi akses media sosial untuk mengantisipasi penyebaran berita hoax yang berkaitan dengan kericuhan di Jakarta. “Akses di media sosial dimatikan untuk menjaga hal-hal negatif tersebar di masyarakat seperti berita bohong dan provokasi,” kata Wiranto dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta, Rabu (22/5) lalu.

Wiranto mengatakan pemerintah ingin menjaga warga agar tidak terpengaruh informasi yang berbau hoax dan simpang siur. Pembatasan layanan itu, dikatakan, akan terjadi selama dua sampai tiga hari ke depan. “Kami sesalkan ini dilakukan, tapi ini ajak untuk mengamankan negeri yang kita cintai. Kita harus berkorban dua sampai tiga hari, tidak bisa kirim gambar, tidak apa-apa, teks masih bisa,” jelas Wiranto.

Sementara itu, aplikasi virtual private network (VPN) kini jadi pilihan alternatif warga net di tanah air untuk bisa mengakses media sosial. Aplikasi ini, tersedia gratis di Playstore. Namun, VPN dianggap berbahaya bagi pengguna.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengimbau agar tidak menggunakan VPN untuk mengakses media sosial. Sebab, menurutnya, VPN berbahaya bagi kebocoran data pribadi penggunanya. “Kami sudah memperhitungkan salah satunya melalui VPN, selalu dikatakan bisa by pass lewat VPN. Namun hindari VPN karena (menggunakan) VPN gratis bisa terdampak terbukanya data-data pribadi,” kata Rudiantara di salah satu televisi swasta, pada Kamis (23/5).

Menurut Rudiantara, penggunaan VPN bisa menjadi akses bagi masuknya malware ke smartphone. Malware atau Malicious Software sendiri merupakan suatu program yang dirancang dengan tujuan untuk merusak dengan menyusup ke sistem komputer. “Kalau gratis, hindari. Pokoknya hindari menggunakan aplikasi WhatsApp melalui VPN,” katanya.

Rudiantara mencontohkan penggunaan VPN yang marak dilakukan di Tiongkok karena akses terhadap aplikasi-aplikasi luar yang diblokir. “Di Tiongkok, WhatsApp tidak bisa, tetapi menggunakan VPN bisa, tetap berbahaya memakai VPN,” tegasnya. (day/dal/fin)

Berita Terkait