Melacak Tim Mawar

Made Supriatma
Ke manakah para perwira yang dulu terlibat dalam penculikan aktivis? Apakah mereka masih memiliki karier militer setelah menjadi terpidana? Apakah mereka masih terkait dengan gerakan politik mantan komandan mereka, Prabowo Subianto?

KONTROVERSI tentang Tim Mawar seakan tidak pernah lekang. Nama tim dari Kopassus yang melakukan penculikan para aktivis tahun 1997-1998 ini kembali mencuat terutama karena dikaitkan dengan sosok Prabowo Subianto, mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus yang kini menjadi calon kuat dalam pemilihan presiden RI. Prabowo adalah garis depan dan pusat dari kontroversi ini. Lawan-lawan politiknya menuduh bahwa dialah yang memerintahkan penculikan itu. Namun, Prabowo dan apparatchicks-nya di Partai Gerindra, dengan keras membantah hal tersebut. Mereka berusaha membangun ‘narasi’ bahwa mantan menantu Suharto itu tidak bersalah karena dia hanya menjalankan perintah atasannya.

Menariknya, di sisi lain, komandan tim penculik yang menjadi tersangka, mengaku di depan sidang pengadilan bahwa penculikan itu adalah inisiatif pribadinya. Komandan itu, Mayor Inf. Bambang Kristiono, dihukum 22 bulan penjara dan dipecat dari dinas militer. Bambang Kristiono juga mengaku bahwa timnya hanya menculik sembilan aktivis dan semua aktivis itu sudah dibebaskan. Ada tiga belas orang aktivis lain yang hilang sampai saat ini. Baik Prabowo Subianto maupun Tim Mawar, menolak bertanggung jawab atas nasib ketiga belas orang yang hilang ini. Cerita yang berkembang, ada ‘tim’ lain yang ikut menculik. Hingga saat ini, tidak ada kejelasan soal tiga belas yang hilang tersebut.

Para pelaku penculikan sudah diadili di pengadilan militer dan dihukum. Selama proses peradilan, terlihat banyak sekali kejanggalan selain juga tidak transparan. Awalnya, masyarakat diberitahu bahwa lima perwira dihukum dan dipecat dari dinas militer, sementara sisanya hanya dihukum dan tidak dipecat dari dinas militer. Namun, sekitar tahun 2006, masyarakat dikejutkan karena beberapa perwira yang diberitakan telah dipecat ini justru menjadi komandan Kodim (komando distrik militer) di beberapa daerah di Jawa dan di Ambon, Maluku. Kemudian, diketahui bahwa para perwira ini telah mengajukan banding atas keputusan pengadilan tingkat pertama. Di tingkat Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti), hakim memutuskan menambah hukuman tetapi tidak memecat mereka dari dinas militer, kecuali untuk Mayor Inf. Bambang Kristiono yang tetap dihukum 22 bulan penjara.1

Hampir tujuh belas tahun kemudian, ke manakah perwira-perwira Kopassus itu? Apakah karier militer mereka berhenti karena telah tercela melakukan suatu tindak pidana? Apakah mereka masih menjalin hubungan dengan bekas-bekas komandan mereka, terutama dengan Prabowo Subianto?

Penyelidikan mendalam atas beberapa perwira yang terlibat langsung dalam kasus penculikan itu menemukan fakta bahwa sebagian besar dari perwira-perwira ini menjalani karier militer dengan normal. Bahkan, beberapa di antara mereka memiliki karier yang menanjak di atas rata-rata dibandingkan rekan-rekan satu angkatannya di Akmil (akademi militer). Sementara, untuk perwira yang lebih senior, seperti Mayjen TNI (Pur) Muchdi Purwoprandjono-yang saat penculikan terbongkar menjabat sebagai Danjen Kopassus dan dicopot dari jabatannya-juga tidak mengalami hambatan berarti, baik dalam karier militernya maupun dalam kehidupan sipilnya setelah pensiun dari dinas militer. Demikian juga dengan Kol. Inf. Chairawan Kadarsyah Nusyirwan yang saat itu menjabat sebagai Komandan Grup-4 Kopassus. Dia memang diberhentikan dari kedudukan sebagai komandan Grup -4. tetapi dia kemudian berhasil menyelesaikan karier militernya dengan pangkat Mayor Jenderal.

Tulisan ini akan dimulai dengan pembahasan tentang satuan tugas intelijen, yang oleh masyarakat dikenal dengan nama ‘Tim Mawar’ itu. Apakah sebenarnya Tim Mawar itu? Pertanyaan yang lebih penting: apakah ia benar-benar ada? Ada beberapa pihak yang meragukan bahwa tim ini sungguh pernah ada. Kemungkinannya adalah tim ini dinamakan ex post facto (setelah kejadian) dan ada lebih banyak perwira dan prajurit yang terlibat, tetapi tidak tersentuh oleh hukum.

Kemudian, kita akan membahas masing-masing perwira yang terlibat dalam kasus penculikan ini. Perjalanan karier mereka akan diteliti secara saksama. Ke mana mereka sesudah menjalani ‘hukuman’2 hingga saat ini? Tidak semua perwira-perwira ini bisa dilacak. Perwira-perwira yang bertugas di dunia intelijen terbukti lebih sulit untuk dilacak.

Penyelidikan untuk tulisan ini sebagian besar dilakukan lewat pencarian berita di media massa. Ada juga beberapa informan yang dihubungi baik lewat telepon maupun e-mail. Seluruh informan menolak diidentifikasikan karena mengkhawatirkan keselamatan mereka. Kekhawatiran itu menjadi bukti bahwa Indonesia masih merupakan wilayah berbahaya untuk melakukan kerja jurnalistik investigatif.

 

Tim Mawar: Apakah Sungguh Ada?

Hingga saat ini tidak ada yang tahu pasti apa itu Tim Mawar. Sebenarnya, keberadaan tim ini di luar kebiasaan operasi Kopassus. Berbagai studi militer Indonesia menunjukkan bahwa satuan Kopassus, yakni Grup-3 Sandi Yudha, mengemban fungsi sebagai intelijen tempur. Biasanya, dalam operasi, satuan intelijen Kopasssus diorganisasikan di dalam Satuan Tugas (Satgas). Satgas yang umum dikenal adalah Satgas Tribuana, yang pernah beroperasi di Timor Timur, Aceh dan Papua.3 Dari Satgas ini kemudian dibentuk satuan-satuan taktis (sattis) yang menangani satu tugas khusus seperti mengawasi satu kelompok, satu wilayah, melakukan penggalangan, atau inflitrasi.

Tidak terlalu jelas apakah ketika itu Tim Mawar adalah salah satu sattis di bawah komando Grup-4/Sandi Yudha. Di pengadilan militer, komandan Tim Mawar, Mayor Inf. Bambang Kristiono mengaku membentuk tim untuk melakukan penculikan atas inisiatif pribadi. Sulit untuk dimengerti bahwa satuan taktis dengan pola operasi dalam skala ini dan dilakukan di Markas Kopassus, Cijantung, dilakukan atas inisiatif seorang perwira menengah tanpa sepengetahuan atasannya.

Namun, ada hal-hal yang menarik dari Tim Mawar. Beberapa sumber yang dihubungi untuk tulisan ini mengatakan bahwa mereka sempat melihat beberapa perwira yang terlibat dalam penculikan 1998 perna bertugas di Dili, Timor-Timur, sebelum Pemilu 1997 dan pemilihan presiden 1998. Mereka tahu bahwa perwira-perwira tersebut adalah perwira-perwira Kopassus. Yang juga diketahui adalah beberapa perwira ini berkantor di kantor SGI.4

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat Timor-Timur bahwa penculikan dan penghilangan paksa merupakan metode kerja intelijen Indonesia di sana. Mungkinkah para perwira yang terlibat dalam penculikan ini sengaja ditarik dari tempat tugasnya di Timor-Timur, lalu ditugaskan di Jakarta? Jika benar ini adalah sebuah sattis di bawah Kopassus, pertanyaannya adalah: siapa yang membentuk? Kepada siapa tim ini bertanggungjawab? Bagaimana aliran komandonya?

Pertanyaan kedua yang sama pentingnya adalah seberapa besarkah tim ini? Yang kita ketahui dari proses peradilan adalah bahwa hanya ada delapan perwira pertama dan tiga bintara yang terlibat dalam penculikan. Komposisi terlihat sangat janggal mengingat banyaknya perwira dan sedikitnya prajurit yang terlibat. Ada juga spekulasi yang mengatakan bahwa sebenarnya jumlah anggota tim ini sebenarnya lebih besar daripada yang diungkap di pengadilan.

Terlalu banyak misteri yang meliputi tim ini. Namun, satu hal yang jelas, pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaan dan perbuatan yang dilakukan tim ini tidak pernah dijawab dengan jelas.

Halaman: 1 2 3 4 5

Berita Terkait