Melacak Tim Mawar

Made Supriatma

Perwira-Perwira Terkait

Seperti yang kita ketahui, beberapa perwira yang terkait dengan Tim Mawar sudah menjalani hukuman. Mereka yang menanggung hukuman paling berat adalah para perwira pertama. Sementara, di level perwira tinggi dan menengah, hukuman maksimal yang dijatuhkan adalah pemberhentian dari dinas militer, ini dilakukan terhadap Prabowo Subianto. Atasan langsung dari tim penculik-Muchdi Pr. Dan Chairawan-hanya dibebaskan dari jabatannya. Muchdi Pr. dibebaskan dari jabatannya sebagai Komandan Jendral (Danjen) Kopassus dan Chairawan dibebastugaskan dari jabatannya sebagai komandan Grup-4/Sandi Yudha. Sementara itu, pelaku langsung di lapangan, Mayor Inf. Bambang Kristiono, dihukum dua puluh dua bulan penjara dan dipecat dari dinas militer.

Selain Prabowo Subianto, yang saat ini menjadi calon presiden RI 2014-2019, ke manakah perwira-perwira itu sekarang?

1. Muchdi Purwopranjono(Akmil 1970)

Muchdi menamatkan kariernya dengan pangkat mayor Jenderal. Lulusan Akmil 1970 ini kembali ke dunia intelijen setelah diberhentikan sebagai komandan Kopassus. Muchdi dikenal sebagai Direktur V Badan Intelijen Nasional (BIN) yang membawahi keamanan dalam negeri. Pada masa jabatan itulah, Muchdi kembali terkenal karena diduga mendalangi pembunuhan aktivis HAM Munir bin Thalib. Muchdi sempat ditahan, tetapi lewat proses pengadilan yang sangat kontroversial, dia dibebaskan dari semua tuduhan.5

Bersama Prabowo Subianto, Muchdi terlibat dalam mendirikan partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), pada tahun 2006. Namun, dia meninggalkan Gerindra pada awal 2012, lalu memilih bergabung dengan PPP. Langkahnya meninggalkan Gerindra ini mengejutkan banyak pihak, karena tidak terlihat adanya konflik atau perselisihan antara Muchdi dengan Prabowo. Spekulasi yang menguar di banyak orang adalah Muchdi meninggalkan Gerindra agar dapat ‘menggarap PPP’ guna kepentingan Prabowo di dalam pemilihan presiden 2014.6 Muchdi juga bermanuver agar bisa duduk sebagai ketua umum PPP, tetapi gagal. Di dalam PPP sendiri, sebenarnya juga sudah ada Kivlan Zen, yang menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad semasa Prabowo menjadi Pangkostrad. Kivlan juga dikenal sebagai loyalis Prabowo.

Selain di PPP, Muchdi juga aktif di Muhammadiyah. Pada saat Muktamar Muhammadiyah 2010, ia berusaha untuk duduk dalam susunan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Namun dia gagal lagi. Di dalam Muhammadiyah, Muchdi menjadi ketua organisasi silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Dia bergabung dengan organisasi ini sejak 1963, sebelum terjun ke dunia militer. Menariknya, Tapak Suci juga bergabung di dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), yang di dalamnya memuat Prabowo Subianto sebagai anggotanya. Keterlibatan Muchdi di dalam organisasi-organisasi Islam membuat orang menduga bahwa dia sebenarnya adalah ‘kaki Prabowo’ di dalam ormas-ormas Islam.

Selain aktif sebagai politisi, Muchdi juga menjadi komisaris perusahaan kehutanan, yakni PT. Rizki Kacida Reana. Perusahan ini memiliki beberapa konsesi hutan sebesar kurang lebih tiga puluh ribu hektare di beberapa wilayah di Kalimantan Timur.7 Perusahan ini dimiliki oleh Epi S. Daskian yang sekaligus menjadi CEO. Muchdi dan Epi S. Daskian sama-sama duduk dalam organisasi alumni PII (Pelajar Islam Indonesia).8

 

2. Chairawan Kadarsyah Nusyirwan (Akmil 1980)

Ketika kasus penculikan pecah ke permukaan, Kol. Inf. Chairawan menjabat sebagai komandan Grup-4/ Sandi Yudha Kopassus. Akibatnya, Chairawan dicopot dari kedudukannya sebagai komandan. Dia ‘diparkir’ di Mabes AD, namun itu tidak berlangsung lama. Dia kemudian menjadi perwira di Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Chairawan besar di lingkungan Kopassus, khususnya Sandi Yudha. Sandi Yudha adalah bagian dari Kopassus yang bertugas untuk mengumpulkan data intelijen tempur (combat-intelligence). Namun, dalam pelaksanaannya, Sandi Yudha juga melakukan tugas-tugas penggalangan (mobilization) dan perang urat-syaraf (psychological warfare). Narasumber yang diwawancarai untuk tulisan ini menginformasikan bahwa Chairawan bertugas sebagai komandan SGI (Satuan Gugus Intelijen) di Timor Timur, sebelum dia menjadi Komandan Grup-4. Sebagai komandan SGI, dia mengendalikan semua operasi intelijen Kopassus di wilayah itu. Namun, sebagaimana yang terjadi dalam operasi-operasi militer di Indonesia, Kopassus memiliki keistimewaan sebagai pasukan elite. Mereka kerap beroperasi sendiri tanpa pengetahuan dan kendali dari komandan-komandan militer tingkat lokal. Itulah yang membuat SGI, kadang-kadang, melakukan tindakan tanpa sepengetahuan komandan lokal.

Di BAIS, Chairawan banyak menangani Aceh. Pada tahun 2004, dia terlihat mendampingi delegasi Uni Eropa yang memantau gencatan senjata antara Republik Indonesia dan pihak Gerakan Aceh Merdeka.9 Namanya muncul lagi ke permukaan ketika diangkat menjadi komandan Korem 011/Lilawangsa, yang dijabatnya lebih dari setahun (30 Januari 2005 hingga 29 Mei 2006. Setelah itu, Chairawan kemudian mendapat promosi ke pangkat Brigadir Jenderal dan dipindah menjadi Kepala Pos Wilayah (Kaposwil) Badan Intelijen Nasional di Aceh.10 Jabatan sebagai orang intelijen nomor satu di Aceh dipegangnya kira-kira selama dua tahun sebelum dia dimutasi ke Mabes TNI. Namanya muncul kembali dalam pusaran perpindahan jabatan di TNI pada bulan Mei 2010. Kali ini ia diangkat menjadi Kepala Dinas Jasmani TNI-AD (Kadisjasad). Karier selanjutnya ia menjabat sebagai staf ahli BIN.11Chairawan pensiun dengan pangkat mayor jenderal.

Segera setelah pensiun, Chairawan menjabat sebagai Komisaris PT Cowell Development Tbk, sebuah perusahan pengembang (real estate) yang dimiliki publik dan terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI). PT Cowell banyak membangun perumahan di pinggiran Jakarta, Tangerang, dan saat ini melebarkan sayap hingga ke Kalimantan Timur.12

Tidak terlalu sulit diduga ke mana orientasi politik Chairawan disalurkan sesudah pensiun dari tentara. Tanpa menunggu terlalu lama, ia bergabung ke Gerindra dan langsung diangkat menjadi anggota Dewan Pembina partai.13 Dia juga menjadi ketua dewan pembina sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang bernama Solidaritas Rakyat Peduli Indonesia (Sorpindo).14 Dalam kampanye Pemilihan Umum legislatif 2014, Chairawan sangat aktif berkampanye untuk Gerindra di daerah yang telah lama menjadi spesialisasinya, Aceh.

 

3. Bambang Kristiono (Akmil 1985)

Bambang Kristiono adalah bekas komandan Batalion 42, Grup-4/Sandi Yudha Kopassus pada 1998. Dia juga salah satu komandan ‘Tim Mawar.’ Setidaknya, itulah yang diakuinya di depan pengadilan militer. Kristiono mengambilalih semua tanggung jawab penculikan aktivis, dan dengan demikian, ia membebaskan semua komandan yang waktu itu menjadi atasannya dari tuntutan hukum. Bambang Kristiono menanggung beban ini sendirian. Dia satu-satunya yang dipecat dari kesatuan militer ditambah hukuman penjara selama dua puluh dua bulan.

Seandainya Bambang Kristiono tidak terlibat dalam penculikan itu, dia mungkin sudah menjadi jenderal. Rekan-rekan seangkatannya, yang juga berkarier di Kopasus, seperti Doni Munardo dan (alm.) I Made Agra Sudiantara, saat ini sudah menyandang pangkat Mayor Jenderal. Saat ini Mayjen Doni Munardo kini adalah Komandan Pasukan Pengawal Presiden (Paspamres) dan alm. Mayjen I Made Agra Sudiantara sebelum meninggal menjabat sebagai komandan Pusat Persenjataan Infantri (Pussenif).

Setelah dipecat, hidup Bambang Kristiono tergantung pada belas kasihan Prabowo Subianto. Dia diberi pekerjaan sebagai direktur utama PT Tribuana Antar Nusa.15 Awalnya Perusahan ini adalah milik Yayasan Kobame (Korps Baret Merah) yang didirikan pada tahun 1993.16 Kini, ia menjadi anak perusahan dari Nusantara Energy Group milik Prabowo Subianto, yang bergerak di bidang transportasi. Perusahan ini memiliki kapal feri yang melayani penyeberangan Merak-Bakauheni dan melayani jasa transportasi untuk pengeboran minyak.

Bambang Kristiono juga bekerja sebagai operator politik Prabowo. Dialah yang menghubungi Pius Lustrilanang, seorang korban penculikan Tim Mawar , lalu mengajaknya bergabung ke Gerindra.17 Pada 2009, Bambang juga aktif dalam tim kampanye Megawati-Prabowo. Saat itu, dia bertugas sebagai tim kunjungan dan penyelenggara event.

 

4. Fausani Syahrial Multhazar18 [Akmil 1988]

Dalam kasus penculikan, Multhazar mengaku sebagai wakil komandan Tim Mawar. Pangkatnya saat itu adalah kapten. Beberapa korban penculikan mengenalinya dengan nama samaran ‘Bobby.’ Pada persidangan di Mahkamah Militer, dia dijatuhi hukuman 22 bulan penjara, lalu dipecat dari dinas militer. Namun di tingkat banding, keputusan ini diubah menjadi 36 bulan penjara tanpa pemecatan dari dinas militer.

Karier militer Multhazar pun berlangsung normal. Namanya tertera pada daftar siswa yang mengikuti Dikreg Seskoad (Pendidikan Reguler di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD) pada tahun 2003. Pada saat mengikuti pendidikan ini dia sudah menyandang pangkat mayor. Tidak diketahui ke mana dia setelah mengikuti pendidikan ini. Namun, namanya kembali menghiasi media media saat menjabat sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0719/Jepara (24 Juli 2006–Mei 2008).

Setelah dua tahun menjabat sebagai Dandim, Multhazar dipindahkan menjadi Kasrem 173/Prajavirabraja di Biak. Tidak diketahui berapa lama dia menjabat sebagai Kasrem (paling lama biasanya dua tahun) dan ke mana dia setelah lepas dari jabatan itu. Posisinya yang terakhir adalah sebagai Kepala Bagian Pengamanan Biro Umum Setjen Kemhan,19 dengan pangkat kolonel.

 

5. Drs. Nugroho Sulistyo Budi (Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fisipol, UGM, angkatan 1985)

Di antara semua perwira yang terlibat dalam kasus penculikan aktivis, Nugroho Sulistyo Budi barangkali adalah figur yang paling menarik. Dia adalah satu-satunya perwira yang bukan tamatan Akademi Militer (Akmil). Ia belajar ilmu politik di jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tahun 1985 dan lulus tahun 1990.20 Tidak diketahui apakah Nugroho masuk dinas militer selama menjalani pendidikan di UGM atau setelah lulus kuliah. 21 Juga tidak diketahui bagaimana dia masuk ke dalam Kopassus dengan perjalanan karier yang boleh dibilang mengesankan.22Beberapa narasumber yang dihubungi untuk penulisan artikel ini mengatakan cukup terkejut ketika mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah perwira militer, dan terlebih lagi perwira Kopassus yang terkait dengan kasus penculikan aktivis. Sebagian mengenangnya sebagai penari Jawa yang handal. Sementara yang lain mengenangnya sebagai ‘Michael Jackson-nya Fisipol’ karena rambutnya yang ikal dan kulitnya yang gelap. Dia memang sangat mirip dengan Michael Jackson, raja musik pop itu.

Beberapa tahun setelah tamat dari UGM, Nugroho terlihat sebagai perwira SGI di Timor Timur. Beberapa orang yang mengenalnya mengatakan bahwa dia ‘sangat berubah’ ketika bertugas di Timor Timur. Organisasi-organisasi dan pengamat HAM memang mencatat bahwa sejak tahun 1991, khususnya sejak peristiwa Santa Cruz, militer Indonesia memakai metode penculikan dan penyiksaan untuk mengontrol gerakan aktivis-aktivis kemerdekaan Timor Timur.23

Seperti halnya perwira-perwira lain yang terlibat penculikan, Nugroho pun mengajukan banding atas hukuman yang dijatuhkan krpadanya. Akhirnya, ia dihukum 36 bulan penjara tanpa pemecatan. Tidak ada catatan ke mana dia setelah menjalani hukuman. Kemungkinan dia tetap berada di Kopassus. Namanya muncul kembali sebagai lulusan Seskoad (Sekolah Staff dan Komando TNI-AD) tahun 2005. Ini berarti dia telah mulai pendidikan setahun sebelumnya. Setelah pendidikan di Seskoad, Nugroho agaknya kembali bertugas sebagai staf intelijen di Kopassus. Namanya muncul sebagi peserta pada Asean Regional Forum (ARF) Conference on Terrorist Use of Internet, di Bali 6-8 November 2008, dan saat itu diketahui kalau dia sudah berpangkat letnan kolonel.

Karier Nugroho semakin menanjak ketika dia diangkat menjadi Komandan Kodim 0733-BS Semarang (4 Sept. 2009 – April 2011). Sekali pun kadang-kadang menjadi sorotan karena masa lalunya, Nugroho dikategorikan berhasil dalam menjalani jabatan sebagai Dandim.24Setelah menjadi Dandim, Nugroho dikabarkan bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN), lalu pangkatnya pun naik satu tingkat menjadi kolonel.25

Halaman: 1 2 3 4 5