Melacak Tim Mawar

Made Supriatma

6. Yulius Selvanus[Akmil 1988]

Di antara semua anggota Tim Mawar, Yuliuslah yang mungkin paling misterius. Selepas menjalani ‘hukuman’, dia kembali ke Kopassus. Pada 2002, ada yang menyaksikan dia berada di Pusdik (Pusat Pendidikan) Kopassus di Batujajar dengan pangkat mayor.26 Tidak diketahui ke mana kariernya beranjak setelah itu. Hanya saja, pada 2004 dia menamatkan pendidikan di Seskoad. Tidak ada informasi apakah setelah itu Yulius masuk ke jalur territorial sebagaimana lazimnya perwira TNI-AD yang lulus dari Seskoad. Namanya kembali muncul pada 2009 sebagai Wakil Komandan Grup-1 Kopassus di Serang.27 Diduga, Yulius Selvanus sekarang bertugas di sebagai perwira di BAIS dengan pangkat kolonel.28

 

7. Untung Budiharto[Akmil 1988]

Berkebalikan dengan Yulius, karier Untung Budiharto terlihat paling transparan di antara semua perwira yang terlibat penculikan. Sebuah berita kecil yang dimuat oleh media onlineDetik.com29 menyatakan bahwa Untung sudah menjalani penuh hukumannya 32 bulan di penjara.30 Hal itu dinyatakan oleh Kepala Penerangan Kodam XVI Pattimura, Mayor Sukrianto Puluhulawan yang menyampaikan cerita versi Untung kepada wartawan. Saat wawancara itu diberikan (16 Mei 2007), Untung memang sedang bertugas di lingkungan Kodam XVI Pattimura, sebagai Kepala Staf Korem 151/Binaiya di Ambon. “Selama Sembilan bulan saya ditahan di Puspom, sisanya di Cimahi, Jawa Barat,” tutur Untung, seperti diceritakan kepada Kapendam XVI Pattimura. Usai menjalani hukuman, Untung Budiharto yang ketika itu masih berpangkat Kapten, langsung dipindahkan ke Ambon. Dia ditempatkan sebagai komandan intel Kodam XVI Pattimura. Itu terjadi pada tahun 2003.31 Pada tahun 2004, Untung diberi tugas baru sebagai Komandan Batalion 733/Masariku dengan pangkat Mayor.

Karier Untung melesat bak meteor selepas dia menjalani hukuman ‘penjara.’ Namun, cerita menjadi agak membingungkan ketika fakta lain muncul. Untung Budiharto tercatat dalam daftar lulusan Seskoad pada tahun 2002.32 Jika Untung mulai ditahan pada bulan Februari 1999, dijatuhi hukuman dua bulan kemudian, maka dengan hukuman 30 bulan, kemungkinan dia bebas dari penjara adalah pada Agustus 2001. Maka, sangat mengherankan karena hanya dalam waktu lima bulan kemudian dia sudah menjadi perwira siswa Seskoad.33

Dari komandan batalion, Untung meningkat menjadi komandan Kodim 1504/Pulau Ambon dan pulau-pulau Lease yang berkedudukan di Kota Ambon. Jabatan ini diembannya selama kurang dari dua tahun (2005-2006). Pada 2007, dia menjadi kepala staf Korem 151/Binaiya, juga di kKota Ambon. Karier selanjutnya untuk Untung adalah kembali ke basis semula, Kopassus.

Pada Juni 2009, dia diangkat menjadi asisten perencanaan (Asren) Kopassus.34 Jabatan ini diembannya hanya selama sembilan bulan. Pada Maret 2010, dia kembali dimutasi menjadi dosen di Seskoad. Jabatan selanjutnya adalah sebagai Pamen Ahli Kopassus Golongan IV Bidang Taktik Parakomando, sebagai staf pengajar di Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar. 35 Bulan April 2012, Untung Budiharto kembali dipindah menjadi komandan Resimen Induk (Rindam) Kodam IV/Diponegoro. Tugas dari Rindam adalah mendidik warga negara biasa yang ingin menjadi prajurit-prajurit TNI. Pada saat ini, pangkatnya sudah naik menjadi kolonel. Saat ini, Kol. Inf Untung Budiharto menjabat sebagai komandan Korem 045/Garuda Jaya36yang berkedudukan di Provinsi Bangka dan Belitung.

Perjalanan karier Untung Budiharto tampaknya mulus-mulus saja. Jenjang kepangkatan yang dia capai saat ini sejajar dengan jenjang kepangkatan rekan-rekan satu angkatan di Akmil 1988 (a). Pada tahun ini, beberapa lulusan angkatan tersebut diperkirakan akan masuk ke jenjang bintang satu (brigadir jenderal). Hanya satu langkah lagi bagi Untung untuk menjadi jenderal.

 

8. Dadang Hendra Yuda (Akmil 1988)

Kapten Inf. Dadang Hendra Yudha menjabat sebagai Komandan Detasemen III Batalion 42 Kopassus pada waktu penculikan itu terjadi. Dalam pengadilan banding, Dadang dikenakan hukuman satu tahun empat bulan (enam belas bulan) atas keterlibatannya dalam penculikan itu.

Beberapa bulan setelah bebas dari hukuman pidana itu, Dadang segera masuk ke Seskoad. Dia tamat Seskoad pada 2001 dan pangkatnya saat itu adalah mayor. Dengan demikian, lagi-lagi, kita dihadapkan pada teka-teki, mengapa perwira yang sudah terbukti melakukan tindak kriminal dan diputus oleh pengadilan, bisa dengan cepat mendapat kenaikan pangkat, bahkan diijinkan untuk melanjutkan pendidikan untuk meningkatkan karier militernya?

Tidak banyak yang kita ketahui ke mana Dadang setelah selesai menjalani pendidikan di Seskoad. Namun, namanya kembali menghiasi media massa pada tahun 2007, ketika didapati dia menjadi Komandan Kodim 0801/Pacitan, Jawa Timur, dengan pangkat Letkol. Dadang dua kali menjabat sebagai Dandim. Pada Juli 2008, dia dipindah menjadi Dandim Kodim 0813/Bojonegoro.37

Setelah menjadi Komandan Kodim (Dandim), Dadang diangkat menjadi Kepala Staff Brigade Infantri 16/Wira Yudha [Kas Brigif 16/Wira Yudha].38 Posisi Dadang terakhir yang terlacak adalah sebagai Kasubdit Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) [2014].39 Di posisi ini, ia sudah menyandang pangkat kolonel.40

 

9. Djaka Budi Utama [Akmil 1990]

Dalam proses banding hukuman atas keterlibatannya dalam penculikan, Djaka Budi Utama tetap dihukum satu tahun empat bulan. Tidak diketahui dimana dia bertugas setelah menjalani hukuman. Lama menghilang, pada tahun 2007 namanya muncul kembali sebagai Komandan Batalion 115/Macan Leuser di Aceh Selatan. Batalion ini didirikan pada tanggal 6 Desember 2004. Djaka Budi Utama adalah Komandan Batalion yang pertama dan menjabat cukup lama hingga diganti pada 29 Juni 2007.41

Djaka Budi Utama menyelesaikan pendidikan di Seskoad pada tahun 2004. Kemungkinan dia langsung menjadi komandan batalion selepas pendidikan itu. Kariernya semakin menanjak dengan jabatan baru sebagai Komandan Kodim 0908/Bontang, Kalimantan Timur. Dia menduduki jabatan strategis di kota kaya minyak ini hingga 27 Juli 2011. Pangkatnya pun naik menjadi letnan kolonel.

Pada 31 Juli 2012, Letkol Inf. Djaka Budi Utama diangkat menjadi Asisten Intelijen Kasdam Kodam Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darrusalam. Jabatan ini membawanya kembali ke Aceh, tempat dia lama bertugas.42 Dia dimutasi dari jabatan Asintel pada 26 Maret 2014,43 hanya sebulan menjelang pemilihan legislatif dan empat bulan menjelang pemilihan presiden. Tidak diketahui dimana selanjutnya dia bertugas.

 

10. Fauka Noor Farid [Akmil 1992]

Fauka adalah perwira termuda dari semua perwira yang terlibat dalam kasus penculikan. Namun, seperti halnya dengan Yulius Selvanus, tidak banyak data tentang dirinya yang muncul ke permukaan. Tidak diketahui ke mana dia setelah ditahan. Namanya muncul di media pada tahun 2005 saat menjadi Komandan Detasemen Pemukul Satu Raider di Aceh.44Saat itu, Fauka sudah berpangkat mayor.

Juga tidak diketahui apakah Fauka pernah menjadi perwira siswa di Seskoad. Namanya tidak ada dalam daftar lulusan alumni Seskoad. Dia juga tidak terlihat pernah menjadi komandan di satuan-satuan teritorial TNI-AD. Namun, sedikit keterangan tentang dirinya muncul dalam satu putusan Mahkamah Agung RI. Dalam keputusan atas perkara kepemilikan senjata api secara illegal yang melibatkan tertuduh yang bernama Harmonis Siaga Putra, Fauka diajukan sebagai saksi di pengadilan. Terdakwa, yang adalah seorang politisi lokal di Kotabumi, Lampung, memiliki senjata api, tetapi tidak memiliki surat ijin yang sah, yang dikeluarkan oleh kepolisian. Namun, ternyata terdakwa memiliki surat izin yang dikeluarkan oleh BAIS dan ditandatangani oleh Letkol. Inf. Fauka Noor Said. Dari putusan pengadilan itu, diketahui bahwa Fauka pernah menjabat sebagai Dan Sus Pa Intel BAIS (2009 – Agustus 2011) dan setelahnya menjabat sebagai Kepala Kelompok Khusus (Kopaksus) BAIS (Agustus 2011 – ?).45

Setelah itu, Fauka seolah lenyap ditelan bumi. Namun, diam-diam, dia muncul kembali sebagai orang sipil. Namanya tertera sebagai Juru Kampanye Nasional Partai Gerindra untuk Pemilu 2014 dalam daftar juru kampanye yang disahkan oleh KPU.46 Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi DPP Partai Gerindra, Ondy A. Saputra, yang dihubungi untuk kepentingan tulisan ini membenarkan bahwa Fauka memang anggota Gerindra dan menjadi juru kampanye nasional partai itu. Menurut Ondy, Fauka sudah ‘pensiun’ dari dinas militer sejak dua tahun lalu.47

Halaman: 1 2 3 4 5