Melacak Tim Mawar

Made Supriatma

Karier, The Aceh Connection, dan Prabowo Subianto

Apa yang bisa kita simpulkan dari perjalanan karir militer para perwira-perwira ini? Paling tidak, ada empat hal yang bisa ditarik dari perjalanan karier mereka.

1. Hukuman pidana tidak berpengaruh terhadap karier dalam militer

Tujuh orang perwira yang dihukum karena penculikan ini ternyata tidak mengalami gangguan berarti dalam mengembangkan karier militernya. Beberapa dari mereka memiliki karier militer yang sangat maju dan laju kenaikan pangkatnya di atas rata-rata kawan-kawan seangkatannya. Taruhlah, misalnya, karier militer Kol. Inf. Untung Budiharto. Dia menjalani karier militer yang sangat lengkap: sebagai komandan batalyon, komandan territorial (Dandim dan sekarang Danrem), menjadi perwira staff (Asren Kopassus), dan menjadi pengajar di Seskoad serta di Kopassus. Dalam tradisi militer Indonesia, mutasi dan promosi yang ditapak oleh Untung Budiharto adalah jalur mutasi dan promosi ke jenjang jenderal. Tidak mengherankan jika Untung kemudian akan muncul di jajaran elite TNI-AD.

Empat perwira yang lulus dari angkatan 1988 (Multhazar, Untung, Yulius, dan Dadang) semuanya menyandang pangkat kolonel. Bahkan Drs. Nugroho Sulistyo Budi, yang masuk dari luar jalur Akmil, juga sudah menyandang pangkat kolonel. Yang lebih penting lagi, mereka adalah kolonel-kolonel senior yang masih jauh dari usia pensiun.48 Mereka tinggal selangkah lagi akan memasuki jenjang jenderal.49

Apakah cepatnya laju karir militer para perwira ini adalah sesuatu yang wajar di dalam militer Indonesia? Agaknya tidak. Ini adalah sebuah kekecualian. Perwira-perwira yang pernah dihukum karena melakukan tindak kriminal biasanya langsung ‘masuk kotak.’ Karirnya tidak akan berkembang, lalu dia dipindah ke pos-pos yang tidak penting. Namun, ada perwira-perwira yang sekalipun dijatuhi hukuman kriminal berdasarkan hukum militer tetap mendapatkan promosi karena dianggap sedang ‘menjalankan tugas negara.’

Hal ini terjadi tidak dalam kasus penculikan saja. Para perwira yang dipidana karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap tokoh adat Papua Theys Hiyo Eluay pada 2001, ternyata terus mendapatkan promosi jabatan. Letkol . Inf. Hartomo (Akmil 1986), yang pada saat itu menjabat sebagai komandan Satgas Tribuana, sekarang sudah menyandang pangkat brigadir jenderal dan saat ini menjabat sebagai Komandan Pusat Intel Angkatan Darat (Danpusintelad). Hartomo adalah salah satu dari dua orang pertama di angkatannya yang mencapai pangkat Brigjen. Perwira lainnya adalah Bigjen TNI Hinsa Siburian, lulusan terbaik Akmil 1986, yang sekarang menjabat sebagai Kasdam Kodam XVII/Cendrawasih. Terdakwa lain, Mayor TNI Donny Hutabarat (Akmil 1990), sempat menjabat sebagai Komandan Kodim 0201/BS di Medan, dan sekarang menjabat sebagai Waasintel Kasdam Kodam I/Bukit Barisan. Donny Hutabarat dipromosikan menjadi Waasintel ketika Mayjen TNI Lodewijk Paulus, mantan Danjen Kopassus, menjabat sebangai Pangdam I/Bukit Barisan. Sementara, Kapten Inf. Agus Supriyanto (Akmil 1991), yang juga terlibat dalam pembunuhan itu, sempat menduduki jabatan sebagai komandan Batalion 303/Kostrad. Perwira terakhir yang terlibat dalam pembunuhan Theys adalah Lettu Inf. Rionardo (Akmil 1994). Sekarang dia diketahui menjabat sebagai Paban II Srenad di Mabes TNI-AD.

Semua kecenderungan ini memperlihatkan impunitas para perwira TNI dalam perkara-perkara kriminal yang melibatkan tugasnya sebagai militer. Persepsi yang berkembang di dalam TNI, semua kejahatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari ‘tugas negara’ dan penyelewengan dari tugas tidak dengan serta merta menjadikan perwira-perwira itu tidak cakap sebagai militer. 50

Tidak ada yang lebih tepat menggambarkan kecenderungan sikap TNI terhadap perwira-perwiranya yang secara terang-terangan melanggar HAM, ketimbang sikap mantan KSAD Jendral Ryamizard Ryacudu. Jendral yang pernah santer disebut akan menjadi calon wakil presiden untuk Jokowi ini, ketika menanggapi hukuman terhadap anggota TNI yang membunuh Theys, dengan gamblang mengatakan bahwa mereka adalah ‘pahlawan.’51

Penyelidikan secara mendalam terhadap perjalanan karir perwira-perwira ini juga mengungkapkan bahwa hukuman pidana yang mereka terima adalah bagian dari karir militer mereka. Dengan mudah mereka mendapat promosi setelah hukuman itu habis masanya.

 

2. Karir Intelijen

Menjadi prajurit Sandi Yudha sama artinya dengan menjadi intelijen. Kenyataannya adalah semua perwira yang terlibat penculikan ini adalah perwira-perwira intelijen. Pertanyaannya adalah: layakkah mereka terus diberi kepercayaan untuk terus berkarya di dunia intelijen, yang dalam konteks Indonesia, sangat sulit pertanggungjawabannya itu?’ Empat dari delapan perwira yang terlibat dalam penculikan (Yulius, Nugroho, Dadang, dan Fauka) terus bergelut dalam dunia intelijen.

Kasus pembunuhan Munir mengajarkan bahwa dinas intelijen bisa dengan gampang digunakan untuk kepentingan pribadi. Memang tidak mungkin untuk mengharapkan transparansi dari dunia intelijen, tetapi bagaimana pun juga dunia intelijen itu haruslah accountable (bisa dipertanggungjawabkan). Bisakah diharapkan accountability dari perwira-perwira yang sudah terbukti dipengadilan melakukan tindakan-tindakan pidana yang tercela?

Kalau pun tujuannya adalah memberikan ‘kesempatan kedua’ untuk perwira-perwira ini, tidakkah lebih baik mereka diberikan tempat pada institusi-institusi yang transparan untuk publik?

 

3. The Aceh Connection?

Hal yang juga menarik untuk diamati, sebagian besar perwira-perwira yang terkait dengan penculikan ini juga memiliki karier yang terkait dengan Aceh. Chairawan menangani Aceh saat dia di BAIS, menjadi Danrem di sana, kemudian menjabat sebagai Kaposwil BIN. Perwira lain yang juga berkarier di Aceh adalah Djaka Budi Utama, yang mulai sebagai Komandan Batalion dan terakhir menjabat sebagai Asisten Intelijen Kodam Iskandar Muda. Fauka Noor Farid juga pernah bertugas di Aceh sebagai komandan pasukan detasemen pemukul (Denkul). Mengingat gejolak di Aceh sebelum perjanjian Helsinki, besar kemungkinan perwira-perwira yang lain juga bertugas di Aceh.

Bagi tiga orang ini, Aceh tentu bukan medan yang asing. Yang kemudian menarik untuk diperhatikan adalah bahwa partai lokal yang berkuasa di Aceh, Partai Aceh, dalam pemilihan umum legislatif 2014 memilih berkoalisi dengan Gerindra. Chairawan pun aktif berkampanye di Aceh.[53] Djaka Budi Utama, bekas anak buah Chairawan di Grup-4/Sandi Yudha bahkan menjabat Asintel Kodam dan hanya diganti sebulan sebelum pemilihan umum legislatif. Kedua orang ini pastilah sangat mengetahui situasi sosial politik serta konfigurasi kekuasaan di Aceh. Adakah orang-orang ini juga membantu terbangunnya koalisi aneh antara Partai Aceh dan Gerindra? Mungkin sejarah yang akan lebih mampu menjawab pertanyaan ini.

 

4. Patronase Prabowo?

Umumnya, ikatan antara komandan dengan anak buah sangat erat, sekalipun diikat oleh tali komando yang ketat. Mereka mengalami suka duka bersama di medan pertempuran. Namun, untuk konteks Indonesia, hubungan komandan dan anak buah bisa meningkat menjadi hubungan patronase. Komandan menjadi jalur untuk promosi ke jenjang kepangkatan lebih tinggi atau mutasi ke tempat-tenpat yang prestisius. Komandan juga menjamin kehidupan anak buahnya secara ekonomis.

Prabowo menjadi tipikal seorang komandan yang juga seorang patron. Sebagai menantu presiden, dia jelas memiliki jalur ke lingkaran paling elite di negeri ini. Dia juga memiliki akses ke sumber ekonomi yang nyaris tak terbatas. Yayasan Kobame (Korps Baret Merah) mencapai puncak kejayaannya ketika Prabowo masih di dalam Kopassus. Yayasan itu boleh jadi sudah bubar, tetapi beberapa perusahan di bawah Kobame akhirnya diambilalih oleh Prabowo. Dia ‘menghidupi’ beberapa mantan prajurit dan perwira Kopassus.

Kesetiaan bekas anak buah Prabowo juga tidak diragukan. Muchdi Pr. mendirikan Gerindra bersama Prabowo. Meskipun ia keluar, diragukan bahwa Muchdi sebenarnya berseberangan dengan Prabowo, adik kelas yang kemudian menjadi patronnya itu. Chairawan langsung bergabung dengan Prabowo begitu pensiun dari dinas tentara. Demikian juga dengan Bambang Triono. Dan terakhir, Fauka Noor Farid juga bergabung dengan partai politik bikinan Prabowo, Gerindra.

Kita tidak tahu apakah perwira-perwira yang masih berdinas aktif masih menjaga hubungan dengan Prabowo. Mungkin juga tidak. Namun, melihat postur Prabowo saat ini dalam politik Indonesia, tidak terlalu mengherankan juga kalau mereka–dan juga perwira-perwira lain yang pernah menjadi anak buahnya–masih menjaga hubungan dengan Prabowo, sekalipun tidak secara formal.

Halaman: 1 2 3 4 5