Melihat Konsistensi Pesantren Benda Kerep Pertahankan Metode Salafiyah

SANTRI: Santri Pesantren Benda Kerep, Kecamatan harjamukti, Kota cirebon, khusyuk melaksanakan wudu saat memasuki waktu salat. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon

Jauh dari keramaian perkotaan, kawasan Benda Kerep, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, menjadi salah satu pesantren yang terbilang tua dan masih mempertahankan metodologi salafiyah. Tak ada suara azan yang berkumandang melalui pengeras suara di sana. Masuknya waktu salat, hanya ditandai dengan pukulan beduk dan kentongan.

***

SAAT beduk dan kentongan terdengar, para santri dengan cepat merapat ke masjid. Mereka menggunakan sarung dan kopiah. Itu pula yang dilakukan Nailul dan Mujib, dua santri yang tinggal di Pesantren Benda Kerep.

Selama nyantri di pondok tersebut, Nailul mengaku banyak belajar mandiri. Dia juga memperdalam ilmu agama yang dipelajari dari kitab-kitab kuning dengan cara sorogan kepada kiai.

Nailul juga sambil mempelajari ilmu hikmah dan amalan selama di Pesantren Benda Kerep. Nailul sendiri sudah lulus SMA, dan memutuskan untuk belajar di Pesantren Benda Kerep. Lingkungan Pesantren Benda Kerep yang relatif masih alami menjadi alasan bagi Nailul menimba ilmu di sana.

“Setelah lulus SMA, saya putuskan untuk mondok di sini, memperdalam ilmu agama. Lingkungannya pun sangat cocok untuk saya, lebih tenang dan sejuk, seperti sedang kemping,” ujar anak pertama dari empat bersaudara itu.

Kawasan Pesantren Benda Kerep sendiri, terdiri dari beberapa pesantren. Pesantren Benda Kerep didirikan Mbah Soleh, sejak duaratus tahun silam atau dua abad lalu, sekitar tahun 1820-an.

Luas lahan Pesantren Benda Kerep sekitar 35 ha, yang merupakan tanah wakaf dari keraton. Mbah Sholeh kemudian membangun masjid. Era keemasan Pesantren Benda Kerep terjadi pada saat Kiai Arsyad pada tahun 1960-an.

Salah satu anak almarhum Kiai Hasan, Muhammad Ibnu Mais menyebutkan, saat era Kiai Arsyad, banyak murid-muridnya yang kemudian menjadi kiai dan mendirikan pesantren.

“Kalau di Benda sebenarnya sekarang santrinya sudah berkurang semuanya. Mungkin tidak lebih dari 200 orang. Kalau dulu saat Kiai Arsyad itu bisa sampai 300 santri. Itu hanya yang belajar pada Kiai Arsyad,” kata Kang Mais.

Pesantren salafi yang tidak memiliki ijazah pendidikan formal, tak memiliki kurikulum, memang seakan tak laku lagi dijual. Orang tua dan santri lebih aman ketika dia juga belajar di pesantren, sekaligus bersekolah formal.

Konsep inilah yang kemudian melahirkan pondok-pondok pesantren modern. Pesantren salafi mulai bertransformasi dengan mengakomodasi pendidikan formal melalui lembaga atau yayasan masing-masing.

Namun tak dapat dipungkiri, pesantren salafi menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang cukup sukses dan berhasil menelurkan para ulama besar. Pesantren sendiri, kata Kang Mais, mulanya dikenal saat Syekh Nawawi Banten, yang menelurkan banyak kitab-kitab kuning. Kitab yang kemudian menjadi rujukan pesantren.

Mais menejelaskan, pendidikan Islam sejak zaman rasul itu setiap masa mengalami tanajul atau perubahan ke bawah, dengan mengikuti selera masyarakat. Salah satu misalnya, pesantren mendirikan sekolah.

Namun Pesantren Benda Kerep menjadi salah satu pesantren yang masih konsisten dengan tradisi salafinya. “Kalau pesantren salafi itu kan, santri itu pulang saat disuruh sama kiai. Gak ada itu yang namanya lulusan pesantren ada ijazahnya,” sebutnya.

Ciri yang paling mudah untuk mengenal santri yakni dengan pakaian sarung dan kopiah. Pesantren salafi ini punya identik. Dengan para kiainya yang mengajarkan pendidikan amal, bukan pendidikan ilmiah yang berupa teori.

Santri salafi mendapatkan amalan untuk mendapatkan ilmu hikmah. Karena itu, banyak orang yang mesantren di Benda Kerep untuk menyepuh ilmu, belajar pendidikan khaliyah. “Akhlak yang dilandasi tauhid,” katanya.

Sebenarnya, Mais sendiri menyebukan santri dan pesantren yang salafi itu kini memang sudah mulai ditinggalkan. Sebab, masyarakat lebih memilih menjadi lulusan sekolah formal.

Maka di Hari Santri Nasioanl ini, Mais berharap hendaknya jangan untuk konsumsi politik saja. Harus ada esensinya yang dapat bermanfaat bagi para santri.

Era pesantren salafi memang sudah mulai bergeser. Hanya saja banyak lembaga-lembaga pesantren hingga kini masih menggunakan metode salafi tersebut.

Keberhasilan pesantren ini, kata Mais, baru 100 tahun. Kemudian eranya menurun sampai kemerdekaan dan diganti madrasah. Madrasah yang dikembangkan Kementerian Agama ini juga stagnan di MAN. Tidak ada kelanjutan lagi setelah MAN. (jamal suteja/bersambung)

 

[adrotate banner="13"]

Berita Terkait