Menakar Calon Ketua Umum PSSI

Empat tahun lalu, digelar diskusi sepak bola bertitel “Menakar Calon Ketua Umum PSSI Yang Kapabel” dan terbuka untuk penggiat sepak bola, di Gedung Serbaguna, Komplek Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa 14 April 2015.

Saat itu, diskusi yang digagas Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Jakarta itu dihelat dalam rangka menyambut Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI pada Sabtu, 18 April 2015, di Surabaya, Jawa Timur,

Hadir sebagai narasumber Agum Gumelar, GH Sutejo, Bambang Nurdiansyah, Sarman El Hakim  dan FX Hadi Rudyatmo.

Agum Gumelar pun memaparkan empat syarat yang harus dipenuhi oleh calon ketua umum PSSI. “Yang pertama seorang ketua umum itu harus memiliki pengabdian, pengorbanan dan dedikasi untuk sepak bola,” kata Agum yang pernah menjadi Ketua Umum PSSI 1998-2003.

Syarat kedua menurut Agum, Ketua Umum PSSI harus paham dan sesuai dengan tantangan kekinian yang dihadapi oleh sepak bola Indonesia. “Sepak bola saat ini adalah era industri yang memiliki nilai jual tinggi, ketua umum harus memahami kondisi ini,” ungkap Agum yang juga pernah menjadi Ketua Komite Normalisasi PSSI 2011.

Ketiga, Agum Gumelar berharap, Ketua Umum PSSI harus mampu bermitra dengan pemerintah. “Ingat dalam hubungan ini, PSSI dan pemerintah khususnya Menpora bukan atasan dengan bawahan. Melainkan sederajat,” tutur Agum Gumelar.

Yang terakhir Agum berharap, figur Ketua Umum PSSI harus mampu mempersatukan stakeholder sepak bola  Indonesia. “Ini sangat penting. Jadi ketua umum tidak boleh menjadi sumber perpecahan organisasi,” tutur Agum.

Saat ini, dorongan untuk merevolusi total PSSI semakin kencang terdengar. Mantan pemain legendaris timnas Indonesia, Bob Hippy menantang agar sosok muda bisa keluar dari ‘goa’.

Pria berusia 71 tahun itu begitu jengah dengan borok tak berkesudahan di dalam organisasi sebesar PSSI. “Saya kira PSSI memerlukan sosok yang benar-benar komit membangun sepakbola Indonesia yang bersih dan bertanggung jawab. Ini bukan hanya soal ketua umum atau wakilnya saja tapi juga anggota komite eksekutif (Exco),” ujar Bob.

Beberapa hari terakhir di kalangan media ramai memberitakan empat sosok muda yang dinilai layak menyumbangkan tenaga, ide dan pikirannya untuk PSSI. Tercatat, ada nama-nama seperti Ahmad Zaki Iskandar (Bupati Tangerang), Munafri Arifudin (CEO PSM Makassar), Azrul Ananda (CEO Persebaya Surabaya) dan Rezza Mahaputra Lubis (CEO Indonesia Junior League).

Ahmad Zaki sendiri jadi salah tokoh pemimpin daerah yang sukses membangun 27 stadion mini di Kabupaten Tangerang. Sementara Munafri Arifudin, sepak terjangnya cukup sukses dengan menakhodai klub legendaris sekelas PSM Makassar, hanya dalam jangka waktu dua tahun ia mampu mengembalikan marwah Juku Eja ke papan atas.

Azrul Ananda, sebelum menjadi orang nomor satu di Persebaya adalah pendiri DBL (Development Basketball League), selain itu ia juga sosok milenial di kalangan media. Sementara Rezza Mahaputra Lubis, bersama Indonesia Junior League tengah hebat-hebatnya menyusun kerangka sepakbola Tanah Air lewat investasi di kompetisi level usia muda.

Keempat nama tersebut dinilai membawa angin kesejukan bagi Bob. Lantas ia berharap keempatnya bisa maju secara bersama membenahi tata kelola sepakbola Indonesia.

Tapi secara tegas Azrul mengatakan dirinya enggan dicalonkan sebagai ketum PSSI ataupun pimpinan di pengelola liga profesional Indonesia. Dia merasa masih menjadi orang baru di pentas sepakbola nasional.

“Mohon maaf, sebaiknya saya fokus Persebaya saja. Persebaya masih butuh perhatian penuh. Orang Jawa bilang harus dikeloni,” tegas Azrul, seperti dikutip laman resmi Persebaya.

Azrul merasa, saat ini dirinya lebih baik memajukan sepakbola Indonesia dengan cara membuat Persebaya menjadi klub yang lebih profesional.

“Sepakbola Indonesia akan baik bila, federasinya baik, liga baik, klub baik, pemain baik, suporter baik, dan stakeholder lain baik. Saya bersama teman-teman di Persebaya, akan mengambil peran di sisi klub. Menjadikan tim ini baik bagi suporternya, masyarakat Surabaya, dan tentu saja sepakbola Indonesia pada umumnya,” jelasnya.

“Sekali lagi mohon maaf, izinkan saya fokus Persebaya saja,” pungkasnya. (*)