Mengapa Berantem di Media Sosial Lebih Seru?

Selama musim politik Pilpres 2019 dan realitas dunia maya, terutama di kolom komentar media sosial, orang dapat begitu mudah melampiaskan amarah. Suatu perdebatan, yang semestinya menjadi ajang untuk beradu ide atau gagasan, justru berubah fungsi sebagai wilayah pertarungan umpatan, caci maki, hingga ancaman. Apa yang membuatnya demikian?

Namun dalam konteks media sosial (medsos), di era post-truth, dan dalam kepungan fanatisme politik, praktik ini mengalami penyempitan makna serta membuat muak warganet lain—terutama mereka yang berstatus sebagai “silent reader”.

Sebenarnya apa yang membuat sebagian orang sangat bersemangat berkelahi di kolom komentar, dengan nada-nada yang agresif serta kata-kata vulgar, dan seringkali hanya didasarkan pada motif memancing keributan alih-alih berupaya mencapai pemahaman bersama?

Maria Konnikova, psikolog keturunan Rusia-Amerika, pernah menulis di kolom New Yorker perihal kekhawatiran para psikolog klasik terhadap komunikasi non-tatap muka yang dimediasi teknologi lawas, seperti surat dan telepon, hingga yang kekinian, seperti internet dan medsos.

Problem yang muncul adalah menurunnya kemampuan seseorang untuk memahami gestur non-verbal, nada bicara, hingga konteks. Tanpa hal-hal tersebut, kata Konnikova dengan merujuk pada sejumlah riset, orang akan mudah untuk bersikap impersonal, dan menciptakan komunikasi yang dingin.

Situasi ini, terutama di negara yang menjunjung tinggi kebebasan berbicara, jadi salah satu faktor yang mendorong warganet lebih ekspresif dalam beropini—termasuk dalam mengomentari unggahan warganet lain. Agresivitas berkomentar juga akan makin tinggi lagi jika warganet memilih anonimitas (anonimity).

Pelaku anonim tidak hanya menyembunyikan nama, tapi pada dasar juga identitas aslinya. Konnikova menyinggung sejumlah penelitian yang mengungkap bagaimana anonimitas membuat orang melepas beban moral sehingga ia bisa lebih terbuka sekaligus berani dalam berpendapat.

Konsekuensinya, warganet lain merasa berhak untuk menimpalinya juga dengan agresif. Situasi ini bak lingkaran setan, sebab komentar balasan juga sama-sama atau bahkan lebih agresif. Dunia medsos mengistilahkannya dengan kondisi triggered (terpicu).

Contoh yang paling mudah dijumpai ada di kolom komentar satu media massa online. Konnikova mengutip riset Arthur Santana, profesor ilmu komunikasi di University of Houston, yang menganalisa sembilan ribu komentar di kolom pemberitaan beberapa media mengenai isu imigrasi (diunggah di Journal Journalism Practice, 2014).

Setengahnya adalah komentar anonim, seperti di laman Los Angeles Times dan Houston Chronicle. Setengah lagi menampilkan nama, antara lain di USA Today dan Wall Street Journal.

Hasilnya menunjukkan hanya 29 persen komentator non-anonim yang berpendapat secara “tidak beradab”, sementara pada golongan anonim totalnya mencapai 52 persen.

Perilaku serupa sebenarnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Tim Adams dalam laporannya untuk Guardian yang bertajuk “How the internet created an age of rage” menyadur satu istilah yang sering dipakai oleh para psikolog: “de-individuation”.

Adams menerangkannya melalui sebuah eksperimen yang menyasar anak-anak Amerika saat perayaan Halloween. Di depan sebuah rumah diletakkan meja untuk meletakkan dua objek: sejumput permen “trick-or-treat” dan sejumlah uang tunai.

Saat anak-anak mendatangi rumah tersebut, hanya delapan persen dari golongan anak-anak yang tidak menggunakan topeng yang mengambil uang tunai. Sementara itu golongan anak-anak pemakai topeng jauh lebih banyak yang mengambil uang tunai, lebih tepatnya mencapai kisaran 80 persen.

“Kombinasi kerumunan tanpa wajah dan anonimitas pribadi memicu individu untuk melakukan pelanggaran aturan, yang dalam keadaan ‘normal’, mereka tidak akan mempertimbangkannya,” imbuh Adams.

Adams kemudian mengutip pendapat Tom Postmes, profesor psikologi sosial University of Exeter, Inggris. Postmes telah meneliti isu anonimitas dan agresi selama lebih dari dua dekade. Beberapa temuan pokoknya ia tuangkan dalam buku Individuality and the Group: Advances in Social Identity (2006).

“Pada tahun-tahun awal, perilaku online ini disebut ‘flaming’, dan lama-kelamaan makin populer serta mengakar. Bagi teman-temannya, pelaku sebenarnya meniatkan perilakunya untuk lucu-lucuan saja, tapi pada akhirnya tetap berbenturan dengan standar norma sebagian besar pengguna internet lainnya.”

Postmes menyebutnya “troll”: orang-orang yang sebenarnya punya kecenderungan terhadap kekerasan hingga ke tahap yang mampu membikin onar di suatu lingkungan.

“Mereka sengaja memicunya. Mereka ingin mempromosikan emosi antipati, rasa jijik, dan kemarahan, yang anehnya memberi mereka perasaan senang.”

Adams mengutip riset Nicolas Epley, psikolog dari University of Chicago. Epley menemukan hanya 50 persen respondennya yang mampu menebak isi surel bersifat sarkastik atau serius. Ini hanya satu survei di antara survei-survei lain yang mengungkap betapa banyaknya orang awam di dunia maya.

Orang-orang jenis inilah yang tidak memahami eksistensi troll, sehingga mudah terpancing dengan komentar-komentar pemancing keributan khas troll.

Ibarat membuang sampah organik ke area kebun, komentar agresif justru akan memupuk keberadaan troll. Komentar agresif makin menguatkan ekstensi mereka, dan kemungkinan besar melipatgandakan jumlahnya karena tahu menjadi troll itu asyik serta tidak mengandung konsekuensi serius.

Bahkan, lanjut Epley dalam bukunya The Secret Cause of Flame Wars(2006), orang yang tidak awam pun kerap kena jebakan troll hanya karena persepsi orang yang beda. Perbedaan sudut pandang itu kerap sampai di tahap yang ekstrem, dan akan lebih rumit lagi jika dikaitkan dengan suasana hati atau pengalaman personal.

Internet punya dunianya sendiri. Oleh sebab itu para psikolog juga memperhatikan dua kemungkinan: (1) jangan-jangan agresivitas komentar warganet juga didorong oleh ekosistem internet itu sendiri, dan (2) jangan-jangan komentar-komentar yang negatif turut mengubah persepsi pembaca terhadap isi konten.

Konnikova kemudian mengulas penelitian akademisi The University of Wisconsin-Madison yang diunggah di Journal of Computer-Mediated Communication (2013). Hasilnya menunjukkan bahwa semakin “menjijikkan” sebuah komentar, sikap pembaca terhadap konten artikel atau berita akan semakin terpolarisasi.

Fenomena yang diistilahkan dengan “efek menjijikkan” itulah yang membuat Popular Magazine pada 2013 mengumumkan untuk menutup kolom komentar di laman mereka. Para editor berargumen jika komentator, terutama anonim, hanya merusak integritas ilmu pengetahuan.

“Budaya agresi dan ejekannya menghambat (dialektika) wacana yang substantif,” catat Konnikova.

Tapi jangan harap agresivitas warganet di medsos semata-mata ditujukan untuk mengubah pandangan warganet lain. Psikolog John Suler, dalam laporan Patrick Freyne untuk Irish Times, mengatakan agresivitas itu kerap dipakai warganet untuk unjuk gigi di hadapan silent reader yang jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang gerombolan penyuka keributan.

Dengan demikian, agresivitas di dunia maya juga berkaitan dengan level ego dan narsisisme warganya.

Mereka yang punya ego serta narsisisme level tinggi turut punya obsesi untuk selalu menjadi (yang paling) benar di hadapan warganet lain. Mereka senang punya kekuatan untuk membenarkan orang. Mereka merasakan kenikmatan saat mampu memenangkan argumen.

Bagaimana jika sudah ngotot tapi sebenarnya salah, lalu kalah? Merujuk pendapat Louisa Leontiades di kolom Guardian, di fase itulah internet dan medsos bisa menampilkan sisi kejamnya.

“Menjadi benar adalah jalan untuk bertahan hidup. Di dunia maya, melindungi reputasi dan opinimu adalah cara bertahan hidup. Saking pentingnya, jika seseorang bikin kesalahan di publik lalu terbukti bersalah, 9 dari 10 kemungkinan mereka akan meninggalkan forum lalu memilih untuk menghapus eksistensinya.”

Dalam kata lain, lanjut Leontiades, “mereka melakukan bunuh diri sosial”.

Apakah satu kesalahan cukup untuk menjadi pelajaran bagi si terdakwa dan selanjutnya ia bisa melanjutkan secara normal saat kembali aktif di dunia maya? Mengutip satu meme yang merujuk serial kartun Tom & Jerry, “tidak semudah itu Ferguso”.

Bagi Leontiades, fenomena ini makin mengerikan sebab kesalahan fatal tetap akan menempel dalam identitas si terdakwa. Perundungan akan tetap ada, bahkan saat terdakwa sudah berada di forum yang berbeda, dan dalam diskusi yang tidak ada kaitannya dengan kesalahan si terdakwa sebelumnya.

“Fenomena itu disebut bias konfirmasi—penyimpangan dari pengambilan keputusan yang objektif. Itulah awal mula cyber-bullying, yang mengandung dampak psikologis lebih jauh, bahkan saat seseorang sudah meninggalkan forum online.” (*)