Mengenal Sosok Alwi Hamu di Timur Fajar

HM Alwi Hamu bersama sahabat-sahabatmya. (Dok. Fajar Online)

“Di Markas KAMI, waktu itu belum ada HP, jadi kita pake telepon kantor. Tapi telepon ini selalu  dibawa Alwi ke ruangannya. Dia tarik kabel telepon itu. Kita mau telepon eh dibawa ke ruangan sebelah. Susah memang Alwi ini, dia menguasai telepon padahal kita yang bayar,” kata JK saat memberikan sambutan Syukuran 73 tahun tokoh pers asal Makassar HM Alwi Hamu, 19 Agustus 2017.

Siapa Alwi Hamu?

Pria kelahiran Parepare, 28 Juli 1944 ini, di masa kecilnya selalu diasah oleh nilai-nilai kearifan lokal. Lingkungan keluarga mendidik Alwi Hamu untuk selalu jujur. Haji Muhammad Syata dan Ramlah memberinya tanggung jawab menjual di toko kelontongan. Padahal, ia masih kanak-kanak untuk melaksanakan pekerjaan itu.

“Ketika saya kelas 2 SD di Parepare, kakak saya diantar mobil. Saya ndak mau, saya ingin seperti teman-teman saya yang lain, bajunya robek-robek. Saya pindah ke Makassar jadi `office boy`. Saya mau tangan diatas. Ketika menerima uang. Ini uang saya. Jadi terbentuk dari awal,” katanya hadapan peserta “Pesta Wirausaha Makassar 2013” di Celebes Convention Center (CCC) Makassar, Sabtu, 23 Desember 2015.

Salah satu tokoh perempuan asal Papua, Fabiola Iriani Ohei pun mengakui sosok Alwi Hamu, yang berperan besar dalam kemajuan Papua saat ini.  “Pak Alwi banyak bantu Papua. Saat saya dan teman-teman mendapat kesulitan bicara masalah Papua dengan pemerintah,  beliau selalu datang menjembatani dan memberikan solusi yang terbaik,” katanya.

Perempuan asli tanah Papua itu mengungkapkan pernah kecewa dengan Indonesia, “Saya pernah kecewa dengan republik ini, tapi beliau sering memberikan semangat buat saya. Dari Lembang Sembilan yang dipimpin pak Alwi,  saya mampu membantu saudara saya di Papua. Saya ingin menjadi orang kaya,  agar republik ini senang dengan saya dan gampang membantu daerah Papua. Saya selalu belajar dari Pak Alwi,  untuk bagaimana merebut republik ini,  agar mereka bisa melihat masyarakat disana,  melihat daerah tertinggal seperti Papua,” jelasnya.

Tak heran, kejujuran yang ditanamkan kedua orang tua Alwi Hamu mendasari segala aktivitasnya, yang ditempa dengan nilai-nilai kesederhanaan dan ketelatenan.

Modal kemampuan komunikasi dan idealisme Alwi, membuatnya sukses menjalin pergaulan lintas budaya dan sosial. Tahun 1989, ia mendatangkan kelompok atraksi Whu Han. Pertunjukan ini berlangsung lama di Balai Kemanunggalan ABRI-RAKYAT (sekarang gedung Jenderal M Jusuf). Saat itu, masa Orde Baru, kurang lebih 35 tahun Kebudayaan Tionghoa kurang mendapat fasilitas dari pemerintah Indonesia. Termasuk tidak mengizinkan pertunjukan barongsai. Namun, pada 1992, Alwi justru memberi kejutan. Dengan sangat berani, ia menyelenggarakan pertunjukan barongsai dan atraksi naga di Sulawesi Selatan.

Kedekatan Alwi dengan warga Keturunan semakin besar setelah menerbitkan surat kabar di Hong Kong. Sebagian besar berisikan informasi tentang kerukunan masyarakat Indonesia-Tionghoa. Sejumlah warga keturunan yang sangat besar jasanya mendampingi Alwi. Mereka setiap saat banyak berdiskusi tentang perkembangan warga keturunan.

Modal kemampuan komunikasi dan idealisme Alwi yang membuatnya sukses, dan paling menonjol di sektor media. Selain memimpin PT Media Fajar dengan lebih 30 media (cetak dan elektronik), Alwi Hamu juga menakhodai puluhan perusahaan media dan non-media yang  tersebar ke Indonesia Timur.

Sebelum mendirikan FAJAR pada 1 Oktober 1981, Alwi menginjak remaja memang sudah aktif di media massa. Masih duduk di bangku SMP, ia sudah menerbitkan majalah stensilan. Di SMA juga demikian. Bahkan ketika mahasiswa, selain memprakarsai Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia, ia mendirikan “Surat Kabar Umum KAMI” pada 1966. Selanjutnya, Alwi Hamu mendirikan majalah Intim, menyusul bergabung dengan Tegas.

JK menyebut Alwi Hamu ini tidak mau kalah. Selalu mau menang. Selalu mau paling tinggi. Kalau sekarang gedung tinggi di Makassar itu ada tiga yang punya, dulu juga Alwi Hamu tidak mau kalah tinggi.

“Kita naikkan antena radio tinggi, eh Alwi manaikkan juga lebih tinggi. Dia pasang dari atapnya.  Jadi kalah lagi kita,” ungkapnya.

Saat Alwi sebagai Sekjen Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia wilayah Sulselra melawan arus orde lama. Darah aktivis dan perjuangan idealisme jurnalistik yang terus membara, bahkan pernah “mengantar” Alwi divonis enam bulan penjara.

Di jalur perjuangan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Alwi Hamu salah seorang yang mempertahankan Markas HMI di Botolempangan, Makassar yang kini menjadi simbol perjuangan-perjuangan HMI.

Dari tangan Alwi Hamu, lahir pula buletin “IDJO itam BERDJUANG” (Hijau Hitam Berjuang). Ini salah satu “tanda kreativitas” Alwi dalam sejarah HMI. Buletin ini juga mencerminkan tiga kreativitas Alwi sebagai cikal bakal talentanya di bidang media massa. Pertama, ia mampu mengumpulkan bahan dan tulisan dari para aktivis HMI waktu itu. Kedua, kemampuannya mengedit sebagai cerminan sosok jurnalis yang bukan sekadar tukang pengumpul informasi. Ketiga, kemampuannya mencarikan sponsor/iklan untuk menghidupi buletin tersebut.

Saat ini Alwi merupakan staf ahli Wapres RI, Jusuf Kalla. Dia banyak menyumbangkan gagasan inovatif. Ia tak pernah diam. Dari bibir kumis murah senyum itu, kalimat-kalimat inovatif terus mengalir. Ia membakar dada segenap karyawan seraya berujar, “Jangan pernah mau berhenti menombak langit. Sebab, di atas langit masih ada langit.” (*)